Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Sabar, Kendaraan Mudik

oleh Herman RN

Lumrahnya orang banyak, saya juga mudik setiap menjelang lebaran. Idul Fitri tahun ini saya mudik pada malam 27 Ramadan atau tiga hari menjelang lebaran.

Jauh hari saya sudah pesan tiket bis L300 dari Banda Aceh ke Kotafajar, Aceh Selatan. Biasanya, kalau telat pesan tiket, penumpang tak kebagian bangku lagi. Karenanya, tiga hari sebelum berangkat, saya sudah pesan bangku pada loket Lestari Baru di kawasan terminal Batoh, Banda Aceh.

Minggu, 5 September 2010 bertepatan dengan 26 Ramadan. Saya dijemput bis L.300 pukul lima sore lewat seperempat. Minibus biru itu kemudian menjemput beberapa penumpang di kawasan lain. Keluar masuk lorong membuat saya dan enam penumpang yang sudah ada di bis tersebut harus banyak sabar.

Tak terasa, waktu berbuka puasa tiba. Sireunee tanda saatnya ‘membatalkan puasa’ saling bersahutan dari mesjid-mesjid seputaran Kota Banda Aceh. Semula saya berniat buka puasa di terminal sehingga tidak membawa persiapan apa pun di mobil untuk ‘membatalkan’ puasa saya yang sudah tiba saatnya itu.

Sebentar kemudian, bis yang saya tumpangi berhenti di depan sebuah persimpangan. Supir bis keluar. Ternyata dia membeli segelas kelapa muda di pinggir jalan itu dan berbuka puasa di sana. Selepas itu, ia kembali buru-buru naik bis dan melajukan mobil yang kami tumpangi tanpa bertanya apakah kami sudah berbuka puasa atau belum.

Lelaki setengah baya yang duduk di bagian depan, samping supir, ternyata punya sebotol air mineral. Ia pun membatalkan puasanya dengan air itu. Saya dan dua orang di samping saya pada bangku bagian belakang supir sama sekali belum berbuka. Saya lihat ke arah orang di samping saya, dia berusaha menelan ludahnya. Saya akhirnya melakukan hal yang sama sembari berdoa agar Tuhan memberikan saya kesabaran, bukan kelaparan.

Pukul 19.30 WIB, akhirnya bis memasuki kawasan terminal. Saya buru-buru ke sebuah kios kecil, membeli sebotol air mineral dan berbuka puasa di sana. Sekitar 70 menit kami dalam kawasan terminal menunggu awak mobil merapikan barang-barang muatan.

“Bang, Abang pindah ke mobil satu lagi ya,” tegur petugas loket tiba-tiba.

Saya menanyakan alasan mereka memindahkan saya ke mobil lain. “Begini, Bang,” kata petugas itu. “Dua orang cowok sana sebenarnya yang membuat ulah. Mereka cuma melapor satu orang, satunya lagi baru tadi sore membeli tiket, tapi keduanya minta duduk berdampingan satu set.”

“Lantas, apa hubungannya dengan saya?”

“Biar semuanya bisa jalan. Kebetulan ada penumpang dua orang lagi yang juga di mobil ini. Jadi, Abang kita geser ke mobi lain, tapi masih di posisi belakang supir,” kata petugas loket.

“Abang tahu ‘kan, saya sudah memesan tiket sejak tiga hari lalu. Saya orang pertama yang pesan tiket untuk mobil ini. Kok saya yang digeser. Masih banyak penumpang lain kan?” suara saya mulai meninggi.

“Bang, kami minta Abang memaklumi. Dua orang yang menyusul di mobil ini cewek,” jawab petugas loket satunya lagi.

Pahamlah saya kalau dua perempuan yang menyusul di mobil itu sebenarnya atas lobi petugas satunya ini. “Abang minta dimaklumi, apa Abang sendiri bisa memaklumi penumpang seperti saya, yang memesan tiket duluan?” saya mulai menghardik.

Namun, sekejap itu pula saya ingat kalau saya sudah emosi. Ini tidak boleh terjadi, pikir saya. “Bang, kita ke bicarakan di loket yuk,” ajak saya kemudian agar kami menjauh dari kerumunan penumpang mobil tersebut.

“Saya boleh dipindahkan ke mobil mana saja, tapi tolong jangan membuat saya menunggu lagi. Kita sudah telat nih,” ujar saya dengan suara datar. Emosi sudah mulai dapat terkontrol.

“Kalau tidak, Abang naik mobil itu, boleh?” tanya petugas yang berbadan besar sembari menunjuk bis L.300 hijau daun. “Abang duduknya paling depan, di sebelah pintu,” tambahnya.

“Berangkat sekarang ‘kan?” saya balik bertanya. Petugas itu menjawab, “Ya!” sembari mengangguk.

Mengamati tas saya diturunkan dari bis pertama, seorang penumpang yang tadi duduk di samping saya berkata, “Kok mau Abang dipindangkan? Kan Abang yang duluan pesan tiket.”

Saya tersenyum. Dia kembali bertanya. Agaknya dia penasaran dengan apa yang saya lakukan. Akhirnya, kepada dia saya bisikkan sebuah kalimat yang pernah diucapkan Nabi Muhammad saw., tatkala malaikat bertanya apa yang mesti dibalas atas perlakukan kafir quraisy terhadap Muhammad. “Fainlam takun ‘alaiya ghadlabun falaa ubaalii,” kata saya sembari melebarkan senyum.

Diberikan tempat duduk di bangku paling depan, dekat jendela lagi, saya semula merasa sangat senang. Akantetapi, ternyata di bangku depan itu kami diletakkan bertiga. Dua penumpang lainnya berbadan agak besar. Saya akhirnya terjepit di pintu.

Emosi saya kembali bangkit. Namun, saya cepat-cepat ingat pesan saya pada penumpang di mobil sebelumnya, bahwa kita harus sabar. Seketika itu pula saya ingat kisah Nabi Muhammad saw. yang dilempari kotoran oleh kaum kafir sehingga malaikat marah. Bahkan, malaikat sempat bertanya pada Muhammad, bagaimana kalau gunung itu ditelungkupkan di kepala kaum kafir tersebut. Namun, Nabi saw. menjawab, “Asal Allah tidak murka kepadaku, aku rela.” ‘Fainlam takun ‘alaiya ghadlabun falaa ubaalii.’

“Ah, saya hanya mengalami sedikit kesempitan di sini, sedangkan orang ada yang tidak dapat mudik sama sekali,” batin saya, lagi-lagi berusaha untuk tidak emosi.

Perjalanan mudik akhirnya dimulai malam itu. Tiga jam setelah perjalanan dilalui, tepatnya di gunung pendakian memasuki kawasan Calang, Aceh Jaya—kawasan ini merupakan imbas tsunami terparah, yang sampai saat ini jalan-jalan di sana belum diperbaiki oleh pemerintah—ban mobil yang saya tumpangi bocor. Perjalan terpaksa ditunda sejenak.

Di gunung yang gelap itu, saya tatap langit yang tak berbintang. “Apakah malam ini lailatul qadar? Malam seribu bulan yang dijanjikan Tuhan?” bisik hati saya menerawang. Intinya, saya berusaha untuk tidak emosi.

Selepas supir dan kondekturnya memasang ban serap, perjalanan kami lanjutkan. Siapa dapat menduga, tak sampai dua jam setelah kejadian tadi, giliran ban depan sebelah kiri yang bocor. Nyaris saja saya merutuk. Segera saya ucapkan kalimat yang pernah diucapkan Nabi saw. pada malaikat. Kalimat itu kemudian saya bisikkan dalam hati saya berulang-ulang, tentunya diiringi doa agar saya tetap dalam keadaan sabar, bukan lapar.

Bocor ban yang kedua kalinya ini, kami berhenti lebih lama. Ban serap sudah tidak ada. Kami terpaksa menunggu bis L.300 yang lewat, yang mau meminjamkan ban serapnya sebentar. Itulah yang dilakukan supir mobil yang saya tumpangi. Setengah jam berlalu, akhirnya kami memperoleh sebuah ban pinjaman dari salah satu bis yang lewat.

Ban pinjaman itu pun tak berstatus lama. Di sebuah warung makan, kami berhenti dan ban pinjaman itu dikembalikan pada yang punya. Kini, supir kami menunggu mobil lainnya yang mau meminjamkan ban serap sebentar.

Setelah mendapatkan ban dari temannya, supir secepatnya memasang ban itu. Perjalanan kami lanjutkan. Saya pun akhirnya baru tiba di kampung pukul 11.35 WIB. Sembari mengucapkan sukur kepada Tuhan, saya kembali mengulangi ucapan Nabi Muhammad, tetapi saya tambah sendiri dengan perasaan saya saat itu, “Asalkan Allah tidak murka kepadaku, aku rela naik mobil bocor ban dan duduk bersempit-sempitan.”

Kotafajar, 6 September 2010

Iklan

Filed under: Memory

One Response

  1. rizkiaffiat berkata:

    Perjalanan panjang dengan L300 memang kadang meninggalkan kesan tersendiri. Saya teringat waktu sendirian tengah malam naik L300 dari Banda ke Tapak Tuan, menunggu 3 jam lamanya untuk dijemput di pinggir jalan dari waktu yang sudah dijanjikan si supir. Di tengah perjalanan, saya pun di oper ke mobil L300 lain karena rupanya mobil yang saya tumpangi tidak melanjutkan ke Tapak Tuan. Tapi yang paling berkesan adalah kesempatan untuk menikmati kembali pemandangan yang tak terlupakan sepanjang pantai pesisir barat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: