Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Dia Menangis Seusai Musikalisasi

Guruku, izinkan kusampaikan isi hati ini yang aku sendiri tak tahu harus menamakannya apa: sedihkah, senangkah, gundahkah, resahkah, bencikah, atau apalah. Jelasnya, ini isi hatiku setelah apa yang terjadi petang tadi, Selasa (22 Desember 2009).

Sejak selesai kuliah S.1, meskipun bukan dosen, sudah tiga semester aku diperbantukan menghadapi mahasiswa sebagai tenaga pengajar. Seperti semester ganjil tahun kemarin, tahun ini pun aku dipercayakan oleh Pak Mohd. Harun mengasuh mata kuliah Puisi mendampingi beliau. Ada satu kelas yang kupegang penuh, yakni Kelas Ekstensi A, sedangkan Kelas Ekstensi B dan Kelas Reguler, Pak Harun ikut masuk juga. Di kedua kelas ini, Pak Harun memberikan teori dan saya bagian aplikasinya (prakteknya).

Peristiwa petang tadi berlangsung di Kelas Ekstensi A, yaitu kelas Khairul Mansyah, Ahmadi, Desi Alfiah Na’im, Hanna Rukmini, dkk. Petang Selasa itu, kami praktek Musikalisasi Puisi, tentunya setelah dua kali pertemuan membahas teori musikalisasi puisi beserta latihan aransmen musiknya. Kelas sudah dibagi menjadi enam kelompok.

Mulanya, kelas berlangsung meriah, penuh dengan canda tawa meskipun sesekali terdengar saling olok antarkelompok. Kebebasan mereka kupersilahkan untuk mendatangkan pemusik dari luar kelas itu bahkan boleh dari luar prodi PBSI, membuat mereka antusias latihan pada minggu-minggu sebelumnya. Maka hari penampilan sesungguhnya pun kelas kami di ruang Diploma PGSD itu penuh sesak. Semua bangku kuminta dirapatkan ke belakang. Peserta semua duduk merapat ke dinding bagian belakang. Bagian agak ke depan, ada enam buah bangku yang kemudian diisi oleh perwakilan kelompok (dari enam kelompok) yang dipercayakan sebagai tim penilai (juri gadungan..hehehe).

Setelah semua kelompok tampil, para juri kuminta diam sebentar, karena mereka memang sudah memiliki penilaian sejak tadinya. Komentar terhadap penampilan terlebih dahulu saya minta dari peserta lain yang tidak jadi juri. Semua mereka saling berargumen. Bahkan, satu sama lain ada yang saling cari kelemahan. Pokoknya kelas jadi riuh dengan tertawaan dan keriangan mahasiswa. Bagian dokumentasi pun sibuk jepret sana-jepret sini. Huih…heboh deh pokoknya kelas Puisi hari itu. (Siapa bilang anak ekstensi tidak bisa kreatif—ujarku dalam hati).

Secara pribadi, aku sangat menikmati penampilan anak-anak nonreguler itu. Kelompok II bahkan mampu mendatangkan dua anak Prodi Kesenian sebagai tim musik. Mereka membawa musik dari bambu yang sudah diisi pasir. Jelas ini musik kreasi. Dalam teori musikalisasi puisi, saya sudah sampaikan, musiknya boleh kreasi, modern, tradisi. Inilah yang ditampilkan kelompok ini. Kelompok lainnya tidak mau kalah. Ada yang membawa botol kaca, botol aqua, kaleng, dan sendok, tentunya musik utama mereka rata-rata gitar dan rapai.

Sungguh, saya sangat menikmati semua kelompok itu sehingga sulit mencari yang terbaik. Bagi saya, mereka sudah lebih dari “BAIK” semua. Soal masih ada yang kurang di sana-sini, itu sebuah keniscayaan: no body is perfect.

Tatkala kelas hendak tutup, sekitar pukul 6 kurang seperempat (sore), terjadi keriuhan memuncak. Saat itu salah satu mahasiswa mengacungkan tangan. “Pak untuk dramatisasi ke depan, kami mau kelompoknya diganti!” pekik mahasiswa perempuan itu.

Pro kontra pun terjadi. Memang sebelumnya sudah saya katakan, masih ada satu apresiasi puisi lagi yang belum dilakukan, yakni “Dramatisasi Puisi”.

Melihat sulit mengendalikan kelas yang semakin saling maki antarmahaiswa, aku ambil alih. “Kita voting sajalah, biar seperti pemilihan presiden, hehehe…” kataku.

Ada dua opsi, (1) tetap kelompok semula; (2) ubah kelompok. Hasil voting ternyata imbang. Saya mulai kewalahan. Keriuhan kembali terjadi. Akhirnya aku ajukan jalan tengah lainnya. (aneh, masa voting bukan jalan keluar terakhir. Hahahaha). Ini aku lakukan demi menghindari anggapan saya berpihak pada salah satu kelompok.

Kebetulan kelompok yang minta bubar dari kelompok semula (pilih lain kembali) adalah kelompok terakhir (kelompok 6). Seorang mahasiswa sudah mengatakan, “Mungkin memang selama ini kita terlalu membenuk partai (kelompok) sendiri. Dengan diberikan kelompok secara acak seperti yang sudah-sudah, kita bisa saling akrab dengan yang belum pernah akrab selama ini. Jujur saja, saya tidak pernah bicara sebelumnya dengan kawan-kawan di kelompok saya. Namun, sejak saya satu kelompok dengan mereka, saya jadi dekat dengan mereka. Mereka saya marah-marahi waktu latihan dan mereka juga kadang memarahi saya kalau telat datang latihan. Jadi, kita bisa bertambah banyak kawan. Untuk apa pilih kelompok lain kalau tujuannya hanya ingin mencari parte sendiri yang sudah akrab sejak SMA?” kata mahasiswa tersebut.

Pendapat yang cerdas, sahutku. Akan tetapi, si mahasiswi yang minta bubarkan kelompok ini semakin ngotot dan mencak-mencak. Bahkan, dia sampai MENANGIS.

Di sinilah aku jadi lemah. Terus terang, menghadapi mahasiswa menangis hanya karena bagi kelompok—soalnya bukan tidak diterima di kelompok melainkan orang percaya dia sebagai ketua kelompok—adalah yang pertama bagiku.

Aku akhirnya mengusulkan, kelompok enam dipecahkan. Orang-orang di kelompok enam masuk ke kelompok 1-5, masing-masing satu orang. (artinya kelompok dramatisasi jadi lima). Mahasiswi ini setuju bahkan nyaris semua mahasiswa sudah sepakat demikian. Kelompok lain sudah mau menerima orang-orang kelompok enam menyisip ke kelompoknya. Namun, sampai di kelompok III, mereka menolak. Keributan kembali memuncak. Mahasiswi yang tadi menangis, semakin sesungukan. “Saya tidak mau kuliah lagi!”

Bruakk…… aku tersentak mendengar kalimatnya. Ini serius! batinku. Akhirnya kelas hari itu aku tutup pukul 6.10 WIB dengan tiada hasil pemecahan masalah kelompok. “Sudahlah, kita lihat saja minggu depan,” ujarku kemudian yang sudah tak tahan lagi melihat ada orang menangis. Memang inilah kelemahanku, tidak tahan melihat orang menangis apalagi perempuan. Langsung ingat mamak di kampung. L

Takzimku,

Herman RN

Iklan

Filed under: Memory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: