Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

LUKA ACEH SYARIAT ATAU ACEH LUKAI SYARIAT

oleh Safrina
“..Aceh dan Islam bagai dua sisi mata uang, tamsil kulit dan ari, laksana tulang dan isi. Ironis takkala Aceh harus luka karena syariat itu sendiri” Demikianlah penggalan kalimat yang mewakili tulisan saudara Herman R.N yang berjudul Luka Aceh Syariat; sebuah opini tentang kegusarannya akan nasib penegakan syariat di Aceh (Serambi Indonesia, 06/10/2010).

Tentunya bukan syariat sebenar yang dimaksud, tapi ‘syariat’ yang sedang diusahakan para pemangku negeri, yang sedang mengawang-ngawang tidak jelas di Aceh ini. Hingga mengakibatkan syariat yang sebenarnya mampu wujudkan keselarasan dalam kehidupan, jadi malah berbalik melukai warga Aceh sendiri.

Akhir-akhir ini media memang acapkali memunculkan tulisan yang menimbulkan sikap pesimistis terhadap penegakan syariat di Aceh, mulai dari menyorot kinerja para pengawal syariat yang melakukan pelanggaran, tentang pendiskriminasian perempuan dalam penegakan syariat; yang seolah hanya mengurusi rok, tentang hukuman yang hanya tegak untuk orang lemah, hingga ada juga yang lebih ekstrim: bahwa syariat itu tidak sesuai dengan Hak Asasi Manusia. Maka dari itu, penulis berusaha menyampaikan beberapa hal yang mungkin jadi bahan pertimbangan dengan sudut pandang yang berbeda tentang Syariat di Nanggroe ini.

Dalam tulisannya, Herman R.N berkata bahwa “Aceh sudah Islam adalah suatu kepastian. Aceh punya peraturan sendiri, yang sesuai dg adat Aceh, yang sesuai dengan Islam” jadi tanpa perlu embel-embel Nanggroe Syariat Islam, Aceh sendiri sudah berazaskan Islam. Justru dari sini saya menangkap hal yang berbeda, bukankah ketika telah terbiasa menjadikan Islam sebagai dasar dalam berkehidupan, semestinya kita lebih mudah menegakkan syariatnya? Bukankah ketika Islam telah menjadi budaya, adalah wajar kita ingin melegalkan ‘syariat’ itu agar apa yang sudah ada bisa berdiri lebih kuat, menjadikannya hukum tertulis yang harus diiikuti segenap umat Islam di Aceh?

Tapi ketika pelegalan syariat sudah digenggaman malah polemik muncul tiada henti, padahal kita telah ‘membeli’ syariat ini sangat mahal dari Indonesia. Keberuntungan Aceh hingga mendapatkan keistimewaan ini tidak dapatkan gratis: berawal dari perjuangan Daud Beureueh, operasi militer yang menyiksa warga bertahun-tahun, hingga bencana alam Tsunami yang turut andil meluluhkan gengsi pemerintahan pusat untuk memperhatikan Aceh lebih jauh. Jadi setelah berjuang cukup lama mau diapakan ‘syariat’ yang telah kita dapatkan dengan susah payah ini? Jika ingin dilepaskan saja, maka sungguh kita merupakan warga terplin-plan yang pernah ada.

Kesalahan yang menyebabkan Syariat itu tampak menyakiti tentu bukan karena syariat itu sendiri, tapi kesalahan mereka;orang yang ditangannya ada wewenang untuk menghalau penegakan syariat, kesalahan kita yang (jika) seolah tidak berusaha menjunjung tinnggi titah Tuhan; sehingga bersyariat lebih karena tuntutan hukum keistimewaan Aceh, bukan karena kesadaran penuh bahwa itu adalah permintaan Tuhannya.

Syariat jelas bukan cuma perkara celana dan zina. Lantas apa karena mengurus masalah celana dapat menghambat misi mensejahterakan rakyat? Apa ketika misi lain juga tak berhasil ditegakkan maka kita urung menghargai hal yang mungkin dianggap kecil namun sedikit menghasilkan? Memang masih sangat banyak yang harus dibenahi demi menegakkan islam secara kaffah di Aceh, ada begitu banyak pekerjaan rumah yang harus para wali kita selesaikan. Tapi semestinya hal yang sebenarnya baik jangan selalu berusaha ditampilkan buruk, hanya karena kesalahan segelintir oknum. Kalau bukan kita selaku umat Islam yang berusa menjunjung tinggi syariat, maka siapa lagi.

Dalam Alquran juga telah dijelaskan bahwa manusia adalah khalifah dimuka bumi, ini artinya manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi :Walaupun Tuhan Maha Kuasa, tapi Ia juga mengirimkan rahmatNya melalui manusia, menampakkan cintaNya melalui manusia, dan memerintahkan untuk menegakkan hukumNya melalui manusia. Jadi hakikatnya semua kita adalah penegak syariat karena itu memang telah jadi kewajiban semua umat islam untuk ‘amar ma’ruf nahi munkar’. Mungkin hal yang kemudian sangat disayangkan adalah jika ternyata justru orang yang diamanahkan menjadi pengawas syariat-lah yang telah menodai syariat itu sendiri. Mungkin hal yang mengecewakan jika urusan berbusana lebih dikedepankan sementara perkara kemiskinan dan sistem pemerintahan yang carut marut kian terabaikan. Inilah yang perlu dibenahi, semoga kedepannya pemerintah kita lebih selektif dalam memilih pemangku dan pengawal syariat, benar-benar orang yang paham dan mampu meneggakkan syariat dengan adil.

“Dont blame the car, blame the driver” jangan menyalahkan kendaraanya, tapi salahkan yang memegang kemudinya. Ketika telah mendapatkan kendaraan istimewa bernama ‘syariat’ untuk menuju baladatun tayyibatun wa rabbun ghafur dan kemudian ternyata ada kesalahan di sistemnya, jangan menyalahakan kendaraan itu. Salahkan kita yang tak bisa mengemudi dengan baik, salahkan kita yang menjadi penumpang yang rewel. Dan satu yang pasti, syariat tidak bertujuan melukai kita, tetapi justru (mungkin) kitalah yang melukai syariat hingga ia enggan tampak selaras dengan apa yang kita mau. Karena sudah terlalu sering kita mencari-cari alasan untuk tidak membenarkan penegasan terhadap syariat.

Iklan

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: