Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Surat Lebaran

Herman RN

Lama sudah kutidak berkirim surat kepada ayah, ibu, atau nenek. Mungkin sekitar sewindu lalu surat terakhirku, yang mengungkapkan kesedihan sekaligus kekesalanku pada nenek, karena tidak mengabari sakit makcik. Tatkala kudapati makcik sudah menghadap-Nya, saat itulah kusurati nenek dan sanak famili. Kuluahkan kekesalanku di kertas double folio hingga empat halaman, kala itu.

Aku berhenti mengirim surat bukan karena sudah tidak ingat lagi pada ayah, ibu, atau nenek. Semua gara-gara hape. Sarana komunikasi canggih itu telah memberi peluang sebebas mungkin bagi kami untuk saling bertukar kabar bahkan dapat berkomunikasi langsung—karena nenek memang tak mungkin membaca SMS.

Entah karena itu, kali ini aku ingin sekali menulis surat. Sepucuk saja. Tak lebih. Entah sampai atau tidak, surat menjelang lebaran ini, yang penting kutulis saja. Berikut surat tersebut.

Ayah, maafkan Ananda. Bukan Ananda tidak mau pulang kampung lebaran Idul Adha kali ini. Rentang libur yang teramat singkat, rasanya Ananda lebaran di sini saja, di rantau ini. Walaupun ini tidak lebih baik bagi kita. Izinmu, Ayah.

Mak, jangan bersedih karena Ananda dan kakak tidak berkumpul bersama Mak, Ayah, dan adik, lebaran tahun ini. Percayalah, kami tidak apa-apa. Jangan khawatir. Kami tidak sepi. Adik-adik sepupu berkumpul di rumah semua. Meskipun rumah kontrakan pas-pasan, cukup untuk kami meugang dan lebaran bersama.

Lihatlah, Mak, Yanti yang kuliah di IAIN, sehari sebelum meugang, tepatnya selepas asar, sudah tiba di rumah. Ruli yang kuliah di Akper Sabang juga sudah tiba menjelang magrib tadi. Tuh coba amati, keduanya sedang menikmati bakso dan mereka kepedasan lho.. J

Oh ya, besok pagi, Vina yang kuliah di Gurdacil Unsyiah dan Upek yang di STKIP itu juga akan ke rumah. Edi yang kuliah di Alwasiliyah juga sudah menelpon. Mereka semua sepakat berkumpul di rumah, meugang dan lebaran bersama. Jadi, Ayah dan Mak jangan khawatir. Kami tetap ramai seperti di kampung kok. Percaya deh. Mak lihat pula kakak, semangat dia bersih-bersih ikan karena sudah ramai.

Hmm… Nenek apa kabar? Ayah tolong bilang ke nenek, jangan terlalu banyak makan daging. Nanti darah tinggi nenek kumat lagi lho. Uang pembeli sirih nenek masih cukup? Ntar, kalau ada yang pulang kampung lagi, Her kirim lagi ya. Nenek yang satunya lagi kan tak makan sirih, pasti lagi makan indomie. hehe

Nah, ke nenek yang satu itu, tolong Mak sampaikan, jangan banyak termenung. Ingat ‘kan dongeng nenek untuk Her dulu. Kalau kita banyak termenung, nanti disamun sama hantu pakis. Kita doakan saja, qurban keluarga kita untuk almarhum kakek diterima di sisi Allah yang Mahakuasa.

Nek, Nenek jangan bilang lagi kalau kakek pergi untuk menjual sehelai papan dan kain putih. Kakek sudah selesai berdagang. Ok, Nek?

Paman, terima kasih telah memberi pengertian kepada nenek tentang Her yang tidak pulang lebaran kali ini. Gimana kabar sepupuku yang lagi imut-imutnya dan lincah itu? Masih suka minta main bola? Kalau main bola, dia pasti suka pakai baju merah—meskipun bukan baju bola. Waktu nonton piala dunia dulu, sepupuku itu pernah bilang baju merah menang lagi. Entah tim apa yang dia tonton waktu itu. Pokoknya baju merah deh.

Nah, tiba giliran adikku. Hai kau lelaki berbadan atletis, apa masih suka nyuri minyak motor ketika ayah tidak di rumah? Minyak itu untuk dijual, bukan untuk dibuang-buang. Tuh motor, kalau rusak lagi, Abang tak mau buat lagi ya. Siapa suruh kerjaan balap melulu. Jangan lupa salat dan berdoa ya.

Ah…akhirnya, surat ini selesai juga. Ups… mau kirim ke mana ya? Kantor pos ‘kan tutup, besok lebaran kok. Lewat email? Kampungku ‘kan tidak ada internet. Lagian, siapa pula yang punya email? Nenek??? Hiks…

Kutaraja, 15 November 2010

Iklan

Filed under: Memory

4 Responses

  1. bintangbumoe berkata:

    Hehhe, kirim lewat L 300 aja bang….

  2. tinta berkata:

    cerita yang menarik…
    mengingatkanku pada sesuatu..

  3. Tauris Mustafa berkata:

    Hmmm…Salut dan Takjub saya padamu kawan, begitu berani mengungkapnya… dengan membaca penggalan suratmu kawan, saya jadi ingat pada diri sendiri. Rasanya sudah lama sekali tidak pernah menulis surat apalagi mengirimnya… jika pun dulu saya tulis surat (Waktu masih sekolah) banyakan nadanya/isi surat: “Mak…Mamak, disini sehat disitu sehat, kirim uang jajan cepat-cepat ya?! hehehe” yach begitulah, walau ada sedikit ungkapan dalam suratku yang sedikit intim (Baca=pribadi), saya belum berani memaparkannya… hehehe…salut aku padamu kawan…gudlak dan gudlak terussss wokehhh kawan!

  4. Fadli Sy berkata:

    Surat? kayaknya sudah lama sekali kata itu hilang dari kamus hidup saya. Herman mengingatkan kembali…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: