Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Setelah Hasan Tiro Pergi…

Judul Buku : Hasan Tiro, The Unfinished Story of Aceh

Penulis : Aboeprijadi Santoso, dkk.

Penyunting : Husaini Nurdin

Penerbit : Bandar Publishing

Tebal Buku : 308 halaman – 14×20 cm

Cetakan : I, Juli 2010

Harga : Rp5.5000,-

Oleh Herman RN

SEJAK Aceh Merdeka (AM) yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dideklarasikan pada 4 Desember 1976, nama Teungku Muhammad Hasan Di Tiro mulai dikenal dunia luas. Lambat laun, lelaki pemilik nama sapaan “Hasan Tiro” itu jadi kontroversial.

Namanya kian jadi ‘buah bibir’ media sejak Aceh diterapkan sebagai Daerah Operasi Militer (1989-1998). Bagi sebagian orang, nama ini seperti genderuwo—orang Aceh menyebutnya ma’op—tetapi bagi sebagian lainnya, terutama di kalangan GAM, nama Tgk. Hasan hidup sebagai spirit perjuangan sekaligus panutan. Oleh karena itu, kadang nama ini ‘dijual’ untuk kepentingan sesuatu, termasuk menjaga perdamaian.

‘Penjualan’ nama Hasan Tiro untuk suatu kepentingan tersebut diungkap oleh salah seorang penulis dalam buku “Hasan Tiro, The Unfinished Story of Aceh”. Buku setebal 308 halaman ini memuat 44 artikel sederhana yang menceritakan tentang Hasan Tiro dan perjuangannya. Ke-44 artikel tersebut ditulis oleh 44 orang, ditambah satu obituari oleh Nezar Patria dan satu artikel wawancara ekslusif Harian Serambi Indonesia bersama Prof. James P Siegel, tentang karakter Hasan Tiro.

Kendati buku yang diterbitkan oleh Bandar Publishing ini terbit setelah Hasan Tiro meninggal dunia, beberapa artikel yang dihimpun di sini merupakan catatan lama para penulis, baik tatkala Hasan masih di Amerika atau Swedia, maupun saat kepulangannya pertama ke Aceh, Oktober 2008. Selain itu, ada juga beberapa artikel baru yang ditulis sejumlah orang dibuku ini setelah deklarator GAM itu ‘pergi’ ke dunia lain.

Melalui catatan kaki di beberapa tulisan dalam buku bersampul wajah Tgk. Hasan ini, dapat diketahui pula bahwa sebagian artikel itu sudah pernah dipublikasikan di media cetak dan online. Dengan demikian, buku ini tak lebih dari kumpulan catatan sejumlah orang dalam memandang Hasan Tiro. Banyaknya jumlah penulis di sini menjadikan pula beragam jenis tulisan yang muncul. Ada yang menulis dalam bentuk esai/opini populer, ada dalam bentuk reportase, ada pula dalam bentuk potongan biografi sekilas, dan ada dalam bentuk catatan pertemuan si penulis dengan Tgk. Hasan.

Cara pandang para penulis yang bervariasi melahirkan tulisan beragam tema pula. Ada yang menulis kepribadian tunggal Hasan, ada yang menulis pendapat orang lain tentang Hasan dan keluarga, ada yang menulis semacam surat kerisauan yang ditujukan entah kepada siapa, ada pula yang menulis keresahan akan perdamaian Aceh setelah Hasan tiada.

Tak diragukan lagi, kumpulan artikel dalam buku ini seakan hendak membeberkan tentang Hasan Tiro yang selama hidup hingga menjelang ajalnya selalu kontroversi. Oleh karenanya, para penulis buku ini mewakili berbagai kalangan, ada yang dari akademisi, jurnalis, analis politik, aktivis NGO, mantan kombatan, dan ada juga bloger.

Penulis dalam buku ini ternyata tidak semuanya orang Aceh, ada juga penulis dari pulau Jawa, bahkan dari luar Indonesia, seperti Lilianne Fan (Bangkok, Thailand) sehingga buku ini menjadi komplit membicarakan kepribadian Hasan dari berbagai kalangan.

Bongkar Rahasia

Disadari atau tidak, kebanyakan tulisan dalam buku ini mencoba membongkar ‘rahasia Hasan’ yang selama ini jarang diketahui publik. Sebut saja di antaranya dalam obituari Nezar. Secara serampangan, Nezar membeberkan kehidupan Hasan sejak masih mahasiswa di Universitas Islam Indonesia (IUU) hingga ia ke Amerika dan kembali lagi ke Aceh. Dari sini dapat diketahui bahwa sebelumnya Hasan merupakan seorang nasionalisme Indonesia.

Paparan hampir sama juga terlihat pada beberapa tulisan lainnya. Akan tetapi, ada juga tulisan yang mencoba membongkar tabir kematian Hasan dengan segala polemiknya yang menerima sertifikat WNI, sehari sebelum ia menghembuskan napas terakhir. Hal ini secara detail dikupas oleh Raihal Fajri (hlm. 95-200). Fajri mencoba membandingkan mudahnya sertifikat WNI yang diperoleh Hasan tinimbang Susi Susanti dan suaminya, Alan Budikusuma. Susanti, atlet bulu tangkis nasional yang telah mengharumkan nama Indonesia juga pernah mengajukan permohonan sertifikat WNI pada tahun 1988, tetapi baru keluar pada 1996. Semacam ada ‘permainan’ dalam pe-WNI-an Hasan, meskipun di satu sisi pemerintah mengaku tidak ada keistimewaan pada seorang Hasan Tiro.

Perlahan tapi nyata, singkat tapi jelas, itulah yang tersirat pada setiap artikel dalam buku bersampul wajah Hasan Tiro ini. Kendati demikian, tentu saja buku ini tidak sepenuhnya sempurna. Banyaknya jumlah penulis yang melahirkan beragam anggle tetang Hasan sangat menuntut kelihaian penyunting. Misalnya, terjadi ketidakkonsistenan dalam sapaan nama mantan deklarator GAM tersebut. Beberapa tulisan menyapa dengan “Hasan”, tetapi ada juga dengan sebutan “Tiro”.

Tidak konsistennya penyunting juga terlihat dalam hal ejaan, terutama pemiringan sejumlah kata (termasuk frasa) atau kalimat. Hal paling jelas ditemukan dalam catatan tentang para penulis, ada yang dimiringkan; ada yang dibiarkan tegak, ada pula pemiringan yang keliru, misalnya untuk kata “penulis buku” dimiringkan, tetapi keterangan tentang judul buku yang seharusnya miring malah tidak dimiringkan.

Dari sisi tataletak, juga masih patut diperbincangkan. Untuk kutipan syair atau puisi yang sudah ditulis per bait dengan ketentuan jumlah baris—misal, satu bait ada empat baris—seharusnya layoter tidak memenggal baris dalam bait tersebut apalagi satu baris yang disisihkan. Hal ini seperti pada halaman 25 dan 26. Satu baris pada bait kedua puisi yang dikutip oleh salah seorang penulis ‘tercampak’ ke halaman 26 sehingga terkesan sisih dan berdiri sendiri, sedangkan tiga baris lainnya masih di halaman 25. Kemiripan yang sama terjadi pada halaman 180, yang ungkapan salam dalam sepucuk surat Hasan ‘terasing’ pada halaman 181.

Menyunting buku yang isinya merupakan bunga rampai memang membutuhkan kejelian mendalam. Untuk itu, kehati-hatian patut jadi landasan. Namun demikian, buku ini tetap menarik dari segi isi dan tema yang diusung. Tak berlebihan jika disebutkan bahwa buku ini telah menjadi biografi singkat perjuangan Hasan Tiro sehingga penting dibaca, terutama bagi mereka yang mau tahu ideologi GAM. Secara sederhana, para penulis di si ini berkiblat langsung pada buku fenomenal Hasan Tiro, The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Teungku Hasan Di Tiro.

Herman RN, alumni Pascasarjana Unsyiah

Iklan

Filed under: Resensi

2 Responses

  1. awik berkata:

    bereh, bereh!
    terima kasih.
    masih harus belajar banyak sama bang herman soal ejaan.

  2. Mufti Ardiansyah berkata:

    oya boleh tau bukuny dijual dimana ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: