Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Mengelola Sumberdaya Alam Berbasis Adat


HUTAN sebagai sumberdaya alam memiliki tata kelola tersendiri. Setidaknya, begitulah berlalu dalam tradisi Aceh—dan mungkin beberapa daerah lainnya di Nusantara.

Adat sebagai sebuah peraturan yang bermula dari kebisaan tentunya memiliki kekhasan tersendiri menurut daerah masing-masing. Adat pengelolaan hutan, misalnya, tentunya lain daerah lain caranya, meskipun dalam beberapa sisi ada kesamaan antara daerah satu dengan daerah yang lain.

Lampanah, Aceh Besar, misalnya. Dalam adat mukim di sana, terkait pengelolaan hutan, jika ada orang luar yang mengambil madu di hutan adat wilayah Mukim Lampanah, mesti melapor terlebih dahulu kepada peutua uteuen setempat. Hasil yang diperoleh dari madu itu nantinya dibagikan pula sebagian.

Disebutkan pula bahwa bagi orang yang membawa kayu atau rotan, dilarang melintas persawahan penduduk tatkala padi sudah mulai ditanam. Peraturan seperti hidup sejak lama di komunitas Lampanah.

Soal pembukaan lahan baru, Lampanah menganut larangan membuka lahan di kawasan hutan adat, kecuali yang sudah ada saja dipertahakan. Itu pun mesti ditanami tanaman tua. Setidaknya demikian hasil diskusi masyarakat setempat.

Keujruen Chiek Lampanah, Kamaruzzaman, tahun 2004 lalu, dalam diskusi bersama masyarakat setempat, pernah mengungkapkan bahwa adat meublang sesuai tradisi Aceh sudah lama hidup di Lampanah.

“Kala itu, keujruen blang untuk Lampanah ini masih disebut waki. Dalam adat kita, ada yang namanya seumeulhong atau tabu bijeh. Masyarakat belum boleh ke sawah sebelum selesai uleebalang menabur benih,” ungkapnya.

Menurut dia, jika ada yang melanggar peraturan tersebut, sanksinya bisa sampai seekor kerbau. Untuk itu, yang diangkat sebagai keujruen blang bukan orang sembarangan. Seorang keujruen blang, tambah Kamaruzzaman, diangkat dari hasil musyawarah para petani saat pembersihan tali air. Adapun jerih patah keujruen diberikan dalam bentuk padi, yang biasanya seusai panen.

Selain ada kenduri turun ke sawah, para petani yang memiliki sawah tersebut juga diminta membuat pagar masing-masing. Hari Jumat, para petani dilarang turun ke sawah. Jika ada yang melanggar, lagi-lagi ia akan kena sanksi adat.

Sebelum Turun Sawah

Sesuai hasil musyawarah bersama, Lampanah menggunakan sejumlah prinsip penting sebelum petani turun ke sawah. Pertama, yang paling utama sebelum turun ke sawah, keujruen chik (dulu: uleebalang) membaca peredaran bintang, kemudian dicocokkan dengan keuneunong. Hal ini sangat penting dilakukan untuk memperkirakan ketersediaan air dan kemungkinan akan serangan hama penyakit yang akan dihadapi saat padi sudah mencapai umur tertentu.

Kedua, setelah memastikan waktu yang tepat, dilakukan duek pakat beberapa tokoh mukim dan gampông, agar keujruen blang dapat mencocokkan perkiraan yang telah dilakukan oleh keujruen chik sesuai dalam hasil duek pakat. Setelah itu, dikeluarkanlah maklumat kepada para petani agar bersiap-siap untuk turun ke sawah.

Ketiga, melakukan gotong royong untuk pembersihan saluran-saluran air yang digunakan untuk pengairan sawah dan memperbaiki pageue reuntang yang mengelilingi areal persawahan oleh para petani sesuai luas areal yang dimilikinya. Setelah itu, baru dilakukan pembukaan lahan untuk penyemaian bibit.

Keempat, keujruen mengumumkan jadwal khanduri blang yang pertama (khanduri ini dikenal dengan nama khanduri ie bu pade. Saat padi sudah menguning, dilakukan lagi khanduri tulak bala, dan yang ketiga khanduri setelah panen). Kenduri demi kenduri yang merupakan bagian dari sukur kepada Tuhan ini diiringi dengan doa bersama.

 

Tambak dan Sungai

Selain tatacara bersawah, di Mukim Lampanah juga terdapat ketentuan adat membuka lahan di pinggiran sungai dan tambak. Peraturan adat itu antara lain dilarang menebang kayu yang masih terdapat dalam jarak 50 meter di pinggiran sungai, juga larangan meracun ikan.

Demikian juga berlaku dalam tatacara membuka tambak. Jika terjadi sengketa akan diselesaikan secara adat. Perawatan tambak disepakati menggunakan pestisida.

Hal yang hampir sama terlihat dalam adat meulaôt. Hal ini seperti larangan menggunakan jaring due yang dinilai tidak sesuai dengan hukum adat. Terdapat juga larangan pemasangan lampu robot, tidak boleh dekat dengan perahu kecil atau peti pantai.

Tentunya juga terdapat pantangan melaut pada hari atau malam-malam tertentu. Semua itu sudah hidup sejak lama di Mukim Lampanah sebagai sebuah tradisi. Dengan adat ini pula, mereka di sana, baik petani maupun nelayan, hidup rukun dengan alam. Alam bagi mereka menjadi sahabat sehingga hasil dari sumberdaya alam mereka nikmati dengan saksama, sebelum campur tangan pihak asing.

Dalam adat meulampoh, diatur ketentuan soal pancang atau patok. Untuk patok, berlaku tiga bulan sebelum dipancangkan. Sementara itu, hak cah rimba (yang bukan hutan lebat) berlaku tiga tahun, selama tidak ada tanaman keras. Jika sudah tiga tahun dilakukan cah rimba, tetapi lahan tidak ditanam juga, hak atas lahan tersebut dianggap hilang.[Herman RN]

 

Iklan

Filed under: Feature

One Response

  1. ubinkayu berkata:

    Wood Flooring Solid Hardwood
    Best Grade A quality wood Flooring
    Teak wood, merbau, Sonokeling, Decking, Flooring
    Indonesia Wood Exporters 🙂
    facebook Ubinkayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: