Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Dosa Tahunan Kesenian

oleh Herman RN

[Sumber: Modus Aceh, edisi 24-31 Januari 2011]

Kasihan bangsa yang menyambut pemimpin barunya dengan terompet kehormatan dan melepasnya dengan cacian.” (Kahlil Gibran)

Tentu tak ada ingin seperti sebutan Gibran itu terjadi pada pemimpinnya, baik tingkat provinsi, kabupaten, maupun pemimpin sekadar tingkat kepala dinas. Namun, apa yang diungkapkan dalam bijak bestari Gibran itu agaknya kerap terjadi di kampung kita, kampung bekas laut murung yang diisi oleh pemimpin-pemimpin ‘penyamun’.

Tersebutlah kesenian, sebuah subbidang kebudayaan dalam tatanan kepemerintahan dan kehidupan, yang di dalamnya juga terdapat pemimpin. Entah sudah menjadi kebanggaan dan tren di kampung kita, saban tahun bidang ini menyisakan ‘tangisan’ dan cacian. Banyak sanggar seni/sastra yang mengeluhkan dana bantuan kesenian yang tidak sampai pada mereka. Akibatnya, dilema kesenian menjadi sebuah polemik berkepanjangan setiap tahun. Uniknya, polemik tersebut terkait itu-itu melulu.

Soal dana kesenian misalnya, yang setiap tahun berlebih dan harus dikembalikan ke kas daerah. Jika tidak mau dikembalikan ke kasda, ada jalan pintas yang dianggap pantas. Akhirnya, desas-desus merambas ke arah fitnah yang tidak dapat dihindari.

Dugaan dana kesenian sengaja diendapkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setiap tahun tidak dapat dielak. Sangkaan yang sama juga ditujukan untuk orang-orang tertentu di kantor gubernur. Tidak dapat dihindari dugaan tersebut kadang sengaja pula ditujukan langsung untuk gubernur atau wakilnya secara personal. Perkiraan itu semisal para pemimpin di sana turut campur dalam pengelolaan, pengalokasian, hingga hal-hal teknis terkait dana kesenian. Artinya, kurang mempercayai bawahan dan bidang yang menangani langsung soal ini sehingga kerap terjadi intervensi dari atas.

Saya berharap dugaan itu tidak benar agar “cacian” yang dimaksudkan oleh Gibran tidak sampai disematkan kepada orang nomor satu dan nomor dua di provinsi ini. Namun, soal birokrasi penyaluran dana kesenian untuk sanggar-sanggar seni di Aceh memang perlu dicermati ulang.

Birokrasi Panjang

Seorang teman pernah menceritakan kepada saya bahwa setiap proposal kegiatan kesenian yang ditujukan ke kantor gubernur ‘dicampakkan’ terlebih dahulu ke Disbudpar. Disbudpar hanya bertindak sebagai selektor. Proposal-proposal tersebut dibundal dalam satu ikat untuk dimasukkan dahulu ke Dinas Pengelolaan Kekayaan dan Aset Aceh (DPKAA). Dari DPKAA baru kemudian diteruskan kembali ke kantor gubernur.

Dapat dibayangkan berapa lama terpendam proposal di kantor gubernur hingga diberikan kepada Disbudpar. Berapa lama pula porposal itu mendekam di Disbudpar selama seleksi hingga masuk lagi ke DKPAA. Selanjutnya di DKPAA pun butuh waktu pula agar proposal itu sampai kembali ke kantor gubernur. Bukankah ini birokrasi yang panjang dan berbelit-belit. Lebih ironis, dana baru keluar untuk sanggar tertentu berdasarkan proposal tersebut setelah kegiatan kesenian usai beberapa bulan kemudian. Itu pun, terbuka kemungkinan dananya tidak sesuai seperti diharapkan—sangat kecil.

Lain proposal kesenian, lain pula dilema bantuan sosial untuk bidang kesenian yang terdapat di dinas. Seorang teman yang layak dipercaya karena ia adalah ‘orang dalam’ menyebutkan bahwa dana bansos kesenian seharusnya disalurkan untuk lembaga/sanggar kesenian di seluruh Aceh. Namun, saban tahun yang memperoleh dana bansos tersebut hanya sanggar-sanggar yang terdapat di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar, itu pun hanya beberapa sanggar saja.

Anehnya, dana bansos yang dipersiapkan untuk semua lembaga kesenian itu pun harus didapat dengan birokrasi panjang juga. Di lain pihak, ada lembaga tertentu yang memperoleh dana bansos itu setiap tahun dengan jumlah besar. Tentu saja lembaga ini memiliki hubungan dekat dengan pemimpin negeri.

Dimisalkan sanggar yang dekat pemerintah, mereka mendapatkan dana dari anggaran bansos tersebut dengan jumlah sangat besar—tak perlu disebutkan nominalnya di ruang ini. Dana yang seharusnya disalurkan dalam bentuk bantuan sosial, tetapi untuk sanggar yang berada di bawah ketiak pemerintah itu malah memperolehnya dengan angka genap. Bukankah, dana bansos berubah menjadi dana taktis jika memang ini benar? Inilah dosa tahunan soal kesenian yang disembunyikan.

Oleh karena itu, publik, terutama pelaku, penggiat, dan orang-orang kesenian, tak perlu heran jika setiap tahun ada saja sanggar-sanggar tertentu yang didekati oleh ‘awak’ pemerintah atau orang dinas. Awak pemerintah atau orang dinas itu akan meminta kepada sanggar-sanggar tertentu untuk membuat laporan kegiatan—seolah-olah sudah digelar kegiatan keseniannya—sehingga untuk sanggar itu diberikan dana alakadar. Lagi-lagi dosa berjamaah dalam dunia kesenian ‘kan? Belum lagi sanggar-sanggar yang memang dikelola oleh pemerintah, dapat dibayangkan deh.

Maka itu, publik juga tak perlu heran melihat sanggar-sanggar tertentu yang sering berangkat ke luar negeri. Lagi-lagi, ini soal kedekatan, bukan bagaimana merawat dan melestarikan kesenian yang seharusnya menjadi kebanggaan bersama, bukan hanya milik kelompok tertentu. Apa yang diungkapkan oleh Gibran bahwa kita terlalu euporia menyambut pemimpin baru, tetapi melepasnya dengan kekecewaan, mungkin sudah menjadi fitrah. Namun, tahun 2011 ini, semoga tidak terulang kesalahan itu atau kita akan terus menerus menumpukkan dosa lama di atas dosa-dosa baru.

Penulis, penikmat kesenian kampus di Darussalam.

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: