Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Geliat Teater Kampus (2)

oleh Herman RN

Seiring waktu, pergantian mahasiswa baru di Unsyiah telah membuktikan eksisnya kembali perteateran di kampus tersebut. Muncul beberapa nama seperti Budi Arianto dan kawan-kawan. Mahasiswa-mahasiswa yang sempat berkecimpung di sanggar Cempala Karya ini kemudian mendirikan sanggar teater pada jenjang universitas dengan menggunakan nama “Teater Nol”.

Sanggar Teater Nol kemudian masuk ke dalam UKM—sejajar dengan Pemerintahan Mahasiswa (PEMA), dulunya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)—yang bergerak di bidang seni pertunjukkan secara khusus. Akan tetapi, UKM Teater Nol disebutkan membuka peluang juga pada seni musik, sastra, dan film.

 

KTM Rongsokan

Hampir sama dengan UKM Teater Nol, berdirinya Komunitas Teater Mahasiswa (KTM) Rongsokan di Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, juga berawal dari keresahan bahwa teater dibutuhkan oleh mahasiswa. KTM Rongsokan dibentuk sejak Mei 2001 oleh sekelompok mahasiswa yang juga aktif di luar kampus. Berawal dari bincang-bincang ringan bahwa teater perlu masuk kampus, dibentuklan sebuah sanggar dengan nama tersebut. Analogi menggunakan kata “rongsokan” di belakang sanggar mereka adalah bahwa barang rongsokan tidak selamanya harus dibuang, tetapi dapat didaur ulang.

Sejak terbentuknya, KTM Rongsokan berada di bawah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEMA) IAIN, senaung dengan unit kegiatan mahasiswa yang lain dalam Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) IAIN Ar-Raniry. Komunitas teater ini cikal bakal lahirnya seniman kampus dari perguruan tinggi IAIN. Bahkan, mereka beberapa kali mereka mampu menyabet juara musikalisasi puisi.

Kendati dari sisi usia, KTM Rongsokan lebih muda tinimbang UKM Teater Nol, banyak juga kegiatan yang telah mereka lakukan. Dalam beberapa agenda, KTP Rongsokan berkolaborasi—pernah juga saing satu panggung—bersama UKM Teater Nol. Bentuk kerja sama antara kedua sanggar teater antara lain workshop teater topeng. Kegiatan yang dilaksanakan di depan UKM Teater Nol itu menghadirkan Rahul dari Enfrants Refugies du Monde, seorang seniman topeng dari Prancis. Sedangkan persaingan satu panggung antara UKM Teater Nol dan KTM Rongsokan dia antaranya dalam jelajah empat teater di Taman Budaya, yang difasilitasi oleh Komunitas Tikar Pandan Banda Aceh, sekitar 2003 lalu.

Oleh karena itu, dua kampus jantông haté rakyat Aceh ini dapat dikatakan sebagai pelopor perteateran dalam dunia kampus di Aceh, meskipun harus diakui didahului oleh UKM Teater Nol Unsyiah. Setidaknya, kedua sanggar teater inilah yang membawa harum nama teater kampus Aceh ke luar bahkan ke tingkat nasional, seperti yang pernah dilakukan oleh UKM Teater Nol beberapa kali, baik dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) maupun Temu Teater Nusantara. Sayangnya, gezah perteateran ini sempat mandek tatkala tsunami melanda Aceh.

 

Teater Siswa

Kecuali teater kampus, sepanjang 2000-an pernah muncul pula nama Teater Beksis milik siswa-siswa SMAN 4 Banda Aceh dan Teater Oemar Diyan. Teater Oemar Diyan boleh dikatakan sebagai pelopor teater pesantren modern di Aceh. Kedua teater siswa ini juga terlibat dalam jelajah empat teater di Taman Budaya bersama Teater Nol dan KTM Rongsokan (2003).

Dapat ditegaskan bahwa dua teater ini sebagai pintu gerbang perteateran siswa di Aceh. Akan tetapi, lagi-lagi disayangkan, keduanya kini hilang selepas laut surut bersama tsunami yang luput. Hendra Irawan yang merupakan pendiri sekaligus pembina pada Teater Beksis SMAN 4 Banda Aceh gugur dalam gelombang tsunami. Kepergian Hendra Irawan yang oleh teman-temannya akrab disapa Joel Hendra juga menjadi duka nestapa bagi Teater Nol dan penggita teater di Taman Budaya Aceh.

Di samping itu, tidak diketahui pasti penyebab ‘hilangnya’ Teater Oemar Diyan pascatsunami. Barangkali, pergantian siswa baru menjadi salah satu dalihnya. Namun, sebagai teater konvensional ala pesantren yang kuat di bidang pantomim, para penikmat dan pelaku teater merindukan eksistensi teater pesantren ini.

 

Pascatsunami

Seperti disebutkan di atas, dunia teater di Aceh sempat vakum beberapa saat pascatsunami. Kalaupun ada kegiatan teater konvensional awal-awal tahun 2005-2006, tidak dapat dikatakan sebagai eksisnya kembali seni panggung di Aceh. Pertunjukkan teater sepanjang dua tahun tersebut lebih kepada pesanan pendonor. Mereka hanya memainkan satu-dua naskah ke kamp-kamp pengungsian korban tsunami sebagai trauma hiling, sedangkan konten pertunjukkan mesti dipertanyakan.

Dua tahun itu, juga tak terdengar pertunjukkan teater yang dilakukan oleh sanggar-sanggar kampus atau sekolah seperti sebelumnya. Mereka disibukkan dengan workshop dan pelatihan-pelatihan.

Sebuah pertunjukkan fenomenal kemudian dilakukan oleh UKM Teater Nol pada tahun 2007. Pementasan yang mereka bawakan di Gedung Sosial Chik Di Tiro Banda Aceh selepas tiga tahun tsunami itu disebut-sebut sebagai kebangkitan perteateran Aceh pascatsunami. Setidaknya begitu pengakuan (alm) A.A Manggeng, penggiat Teater Mata, Taman Budaya Aceh, dalam diskusi selepas pertunjukkan “Tuan Kondektur” naskah Anton Chekov oleh Teater Nol tersebut. Bahkan, pertunjukkan yang dilakukan selama dua malam berturut-turut itu, dihadiri penonton melebihi kapasitas gedung.

Selepas gezah ini, beberapa sanggar kampus dan sekolah bermunculan juga. Antara lain KTM Rongsokan dalam Festival Unpluged yang digelar Bestek milik Fakultas Ekonomi Unsyiah di Gedung Sosial (Juli 2008). KTM Rongsokan berhasil menjadi peserta favorit.

Dalam rentang waktu yang sama, eksis pula teater Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) di bawah naungan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Unsyiah. Sejatinya, teater Gemasastrin sudah ada sejak 1990-an. Akan tetapi, nasib mereka bagai lampu diskotik—kadang nyala terkadang redup dan kadang mati sama sekali. Teater Gemasastrin muncul kembali pada 2003 yang dipelopori mahasiswa angkatan 2002 di Prodi tersebut.

Sejak itu, mereka terus ambil bagian dalam beberapa acara perteateran, baik tingkat kampus maupun luar hingga berhasil menjadi juara II kategori teater dalam agenda Diwana Cakra Donya, 2008 silam. Untuk tingkat Prodi, mungkin teater Gemasastrin patut diacungi jempol. Setidaknya, sampai saat ini, meskipun sudah berganti tujuh generasi, mereka masih ‘merawat’ perteateran. Penampilan terakhir mereka tahun 2010 ini dalam naskah “Syair-syair Pasungan” di Warkop Apa Kaoy. Lagi-lagi pantas diberi apresiasi, naskah tersebut dikarang dan dimainkan oleh seorang mahasiswa angkatan muda (2008) secara pantomim.

Terakhir, perlu dicatat pula kehadiran beberapa sanggar yang menjadikan teater sebagai salah satu kreativitas serius pascatsunami. Di antaranya sanggar milik SMAN 10 Banda Aceh (SMA Fajar Harapan), SMA Modal Bangsa, SMAN 11 Banda Aceh, termasuk pula sanggar Oemar Diyan.

Untuk tingkat perguruan tinggi, munculnya Teater Home yang didirikan oleh para mahasiswa di Universitas Serambi Mekkah (USM) Banda Aceh juga pantas diapresiasi. Harapan kita, dunia perteateran kampus dan sekolah tidak mati suri sehingga ‘kelahiran’ seniman/teaterawan akademis menjadi sebuah keniscayaan dalam impian teater Aceh masa datang.

 

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: