Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Meninjau Gerakan

HAL yang menjadi pemikiran kita, yang dianggap sebagai sebuah kesederhanaan peradaban masyarakat Aceh saat ini, adalah sebuah kecenderungan perubahan terhadap sebuah arah gerakan. Di dalamnya termasuk pula gerakan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau dengan nama lain ‘gerakan ekonomi’ dan gerakan berkehidupan dalam masyarakat atau ‘gerakan sosial’.

Tak dapat dinyana bahwa masyarakat kita saat ini berubah menjadi manusia yang konsumtif. Seiring itu, perolehan ekonomi hidup yang menjadi makhluk pemakai telah mendegradasikan perubahan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini mungkin akibat perubahan gerakan sosial yang dibawa oleh NGO’s pascatsunami.

Di satu sisi ada keuntungan bagi masyarakat dengan masuknya berbagai NGO lokal dan internasional. Namun, di sisi lain ada kerugian, terutama bagi lembaga-lembaga lokal yang masih aktif memberikan bantuan dan dampingan kepada masyarakat hingga saat ini. Oleh karena kebiasaan masyarakat yang sudah ‘dimanja’ oleh bantuan dari para NGO luar, sampai kini pun setiap ada kegiatan atau sekadar kedatangan orang-orang untuk meninjau masyarakat, masyarakat menilai ada bantuan yang dibawa, yang ditinggal pada masyarakat setempat. Selanjutnya, ini berdampak pada setiap acara yang digelar oleh lembaga swadaya manusia apa saja, masyarakat cenderung mengharapkan ‘honor’ dari kegiatan tersebut. Nilai semula untuk pintar menjadi terkesampingkan.

Ini adalah contoh kasus sederhana perubahan gerakan sosial di Aceh. Belum lagi soal gerakan massa yang dulunya terorganisasi dengan baik, semisal referendum tahun 2000, tetapi sekarang terkesan tak ada lagi. Kalau ada aksi massa, kesan yang muncul adalah ‘berapa bayaran sekali turun ke lapangan/jalan?’

Membaca peta gerakan sosial begini juga dapat diamati dalam tubuh pemerintahan. Bilamana dulunya Aceh menganut sistem kerajaan (masa sejarah), seiring waktu hal itu berubah. Bahkan, dalam beberapa dekade, katakanlah masa Orde Baru berkuasa, ada struktur dalam instansi kepemerintahan lokal yang luntur atau sengaja dihilangkan.

Contoh kasus untuk ini semisal lenyapkan institusi mukim. Mukim yang dalam kearifan Aceh dapat menjadi sebuah lembaga adat sekaligus memiliki kewenangan dalam keperintahan tingkat mukim dan gampông, sempat hilang. Munculnya UU No.5 tahun 1979 adalah salah satu sebab lunturnya instansi mukim di Aceh.

Namun demikian, pasca-MoU atau tepatnya sejak berlaku Undang Undang Pemerintahan Aceh (UU PA), lembaga mukim dan sejumlah lembaga adat lainnya mulai kuat kembali.

Barangkali, kemunculan UUPA juga dapat dipandang sebagai gerakan baru dalam meninjau arah gerakan sosial (gersos) di Aceh. Contoh ini dapat pula diperkuat dengan kasus-kasus lain, seperti munculnya sejumlah lembaga swadaya, lembaga ormas, dan lain-lain yang kian bulan semakin ‘menjamur’. Selain itu, gerakan sosial dapat pula dilihat pada arah perubahan gerakan mahasiswa Aceh yang kian menurun drastis dari arti kata agent of change!

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: