Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Aceh Rentan Bencana?

Musiban tsunami adalah bencana alam terdahsyat yang pernah melanda Aceh sepanjang perjalanan sejarahnya. Akan tetapi, bencana-bencana seperti banjir bandang dan tanah longsor bukan berarti sebagai bencana kecil yang dapat dikesampingkan. Apa yang dialami oleh Aceh Tamiang di penghujung tahun 2006 merupakan contoh banjir bandang yang tidak boleh dianggap sederhana.

Sejatinya, semua bencana alam tidak ada yang dapat dianggap kecil dan besar, kendati ada penamaan seperti itu untuk soal kualitas bencana. Bencana demi bencana yang dialami oleh Aceh, terutama daerah-daerah tertentu yang kerap mengalami bencana dimaksud tidak terlepas dari ulah tangan manusia itu sendiri.

Bencana tidak mengenal kawasan gunung atau pantai. Kecamatan Bintang, Takengon, misalnya, pernah juga mengalami longsor di tahun 2007. Kendati tidak ada korban jiwa kala itu, Gampông Geugarang sempat mencekam. Banyak harta benda dan rumah penduduk yang terendam dalam tanah longsor.

Menurut ibu-ibu di sana, longsor mulanya diawali dengan hujan terus menerus disertai petir. Terlepas dari itu, kesadaran masyarakat akan bencana alam mestinya juga jadi perhatian. Apalagi, rumah-rumah penduduk Geugarang berbatas langsung dengan tebing dan danau. Tentu saja daerah ini rawan bencana, terutama banjir dan longsor.

Uniknya, meskipun masyarakat setempat menyadari daerahnya rawan bencana, tidak ada isu bahwa mereka akan relokasi. Masyarakat di sana tetap memilih hidup dan menetap di kampung kelahiran mereka.

“Saat terjadi longsor, masyarakat di sini sempat mengungsi selama seminggu ke meunasah. Mereka mengungsi karena khawatir terjadi longsor susulan. Setelah merasa yakin aman, mereka kembali ke rumahnya masing-masing,” ujar salah seorang warga setempat kepada the Chiek.

Hasil Forum Group Discussion oleh lembaga Prodeelat, warga mengaku bantuan pemerintah datang ke lokasi longsor itu setelah dua minggu pascamusibah. Bantuan berupa uang, sembako, dan peralatan memasak itu datang dari dinas sosial setempat.

Hasil survey menunjukkan pula bahwa kebiasaan masyarakat di sana menebang kayu perlu dampingan. Pasalnya, setelah menebang kayu-kayu di sekitar mereka, masyarakat membiarkan hasil tebangannya menumpuk begitu saja.

“Kadang-kadang kayu itu dibiarkan mengering begitu saja sebelum diolah,” ujar seorang penduduk di sana.

Kuala Ceurape

Bencana yang hampir sama juga kerap terjadi di Kuala Ceurape, Kecamatan Jangka, Bireuen. Biasanya saat hitungan bulan langit pada 17 atau 31, air laut sering pasang di daerah ini. Pada musim hujan, pasang laut bertemu dengan air sungai yang mengakibatkan banjir.

Tidak dapat dihindari, tambak melimpah air, sawah juga, yang menyebabkan masyarakat gagal panen. Harga jual jika sudah begini biasanya anjlok.

Hasil diskusi dengan warga setempat menyebutkan bahwa banjir terbesar di daerah ini terjadi pada tahun 2000. “Waktu itu, hampir semua rumah penduduk terendam. Bajir saat itu sempat memakan korban harta benda,” ungkap seorang penduduk di sana dalam sebuah FGD, beberapa waktu lalu.

Beda dengan Gampông Geugarang, musibah banjir yang dialami warga Kuala Ceurape sama sekali tidak menyentuh hati pemerintah setempat. Tidak ada bantuan apa pun yang datang, baik dari kecamatan maupun kabupaten apalagi provinsi.

“Masyarakat saling membantu secara swadaya, dengan memanfaatkan sisa-sisa harta yang ada,” kata warga lainnya.

Akan tetapi, lagi-lagi masyarakat di sana masih tetap memilih tinggal di daerahnya, meskipun mereka menyadari kampung mereka rawan bencana.

Setelah terjadi bencana, untuk bangkit kembali biasanya masyarakat berusaha dari awal dengan pinjam modal atau menggunakan harta yang tersisa. Sejauh ini, belum ada pula isu relokasi dari pemerintah. Padahal, jika memang pemerintah berniat merelokasi warga di sana, ada sejumlah penduduk yang bersedia, terutama mereka yang tinggal di daerah tanggul sungai.

Perilaku masyarakat setempat dalam membuka lahan biasanya bebas. Mereka membuka lahan seperti yang diinginkan, kemudian baru mencangkul dan melakukan pemupukan.

Mayoritas masyarakat memasak menggunakan kayu bakar yang didapat dari pinggir laut dan kebun-kebun sekitar. Dari jumlah penduduk 165 KK, sebanyak 50 KK belum menikmati arus listrik, khususnya mereka yang berada di pinggiran pantai.

Lokasi tempat tinggal di pinggir pantai menjadikan warga setempat bekerja sebagai nelayan. Beberapa memang memilih hidup sebagai tukang bangunan. Adapun para perempuan gampông ini ada yang bekerja di sawah, ada yang menjadi buruh upahan, tukang cuci, dan lain-lain.

Meskipun suku asli masyarakat di sini adalah Aceh, masih terdapat sejumlah penduduk pendatang, terutama mereka suku Jawa, yang memilih hidup tidak jauh berbeda dengan penduduk asli. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat terhadap kerentanan bencana sangat diperlukan di daerah-daerah serupa ini.[Herman RN]

Iklan

Filed under: Feature

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: