Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

ADAKAH GERSOS DI ACEH?

Perubahan demi perubahan di Tanah Serambi Mekkah dinilai banyak pihak tidak terlepas dari gerakan sosial (gersos) yang terjadi. Sebagian orang ada yang memberikan pengertian aksi demonstrasi tergolong ke dalam gerakan sosial.

Beberapa waktu lalu, lembaga Prodeelat, mengadakan diskusi tentang gersos di Aceh dengan narasumber Fuad Mardhatillah UY Tiba. Dalam diskusi yang digelar di warung kopi Atlanta, Uleekareng itu, Fuad menyebutkan sulit memberikan definis gersos di Aceh. Ia tidak berani menyatakan bahwa aksi demo termasuk ke dalam gerakan sosial.

“Saya tidak melihat aksi demo sebagai gerakan sosial. Bagi saya, itu gerakan tertentu yang diwakili oleh lembaga tertentu, bukan gerakan kolektif,” paparnya mengawali diskusi.

Menurut dosen IAIN Ar-Raniry itu, yang dimaksud gerakan sosial adalah gerakan kolektif yang memiliki militansi terhadap sebuah isu besar yang berhubungan dengan masyarakat. Gerakan tersebut mesti menyangkut perubahan. Boleh jadi melalui perubahan transformatif (revolusi).

“Barangkali patut kita tanyakan, adakah gerakan seperti ini di Aceh?” ungkapnya.

Gerakan kolektif adalah adanya kesadaran untuk memahami problem mendasar bersama. Sayangnya, tidak semua orang dapat memahami problem mendasar bersama tersebut. Misal di Aceh, apakah yang menjadi problem mendasar bersama? Tentunya setiap orang memiliki cara pandang berbeda, sedangkan yang disebutnya sebagai masalah bersama mestinya melahirkan gerakan bersama.

Hari ini, jika ada padangan sekelompok orang mengadakan acara, kelompok lain menggelar acara yang lain lagi dan mungkin acara yang hampir serupa. Tentu saja pandangan ini bukan melihat persoalan bersama.

“Jadi, tidak ada gerakan bersama. Mungkin gersos ada di Aceh, tapi cepat mati. Misal gerakan referendum dulu. Dulu kita memandang semua itu sebagai masalah bersama, turun bersama,” papar Fuad.

Persoalan sekarang adalah sulit menumbuhkan kembali sesuatu yang menjadi problem bersama sehingga muncul gerakan bersama yang disebut Fuad sebagai gerakan kolektif.

Gerakan kolektif yang merupakan gerakan bersama tersebut tidak mesti dipahami oleh sekelompok saja. Namun, bagaimana mengangkat problem bersama menjadi gerakan bersama, antar-LSM, lembaga mahasiswa, ormas, dan lembaga-lembaga lain, ke dalam sebuah problem bersama.

“Untuk mencapai itu, tentunya dibutuhkan ide-ide kolektif yang mendasar, yang dapat dipahami bersama sehingga tujuannya jelas ke mana,” tandas Fuad.

Gara-gara MoU

Menyikapi hal yang sama, Risman A. Rahman, peneliti the Aceh Institute, yang juga hadir dalam diskusi tersebut, mengungkapkan bahwa gersos di Aceh dulunya memang ada. Akan tetapi, gersos itu kini telah mati seiringi ditandanganinya MoU Helsinki.

“Peristiwa Helsinki merupakan detik-detik kematian gersos di Aceh. Sebelumnya kita menjadi pendemo yang gigih, kini malah menjadi pendoa yang aktif,” pungkasnya.

Ia menilai MoU Helsinki bukannya memberi peluang kepada masyarakat untuk terlibat secara bersama, melainkan malah menurunkan keterlibatan masyarakat. Karena itu, kata dia, masyarakat Aceh sekarang sudah menjadi pendoa yang arif sehingga gersos pun mati di Tanah Serambi.

Sontak saja, Fuad sepakat dengan istilah yang dikemukakan Risman. “Apa yang disampaikan sahabat saya Risman ada benarnya juga. Saya bisa terima MoU itu mematikan detik-detik gersos. Sampai saat ini tidak ada gerakan bersama yang diusung secara bersama oleh sebuah kelompok yang benar-benar konsen. Makanya saya katakan tadi, gerakan yang ada saat ini gerakan spuralis, mati-hidup, hidup-mati. Gersos di Aceh tidak lahir karena kesadaran bersama menuju perubahan mendasar,” katanya.

Selain tidak adanya persoalan mendasar, ketiadaan imam (pemimpin) turut menjadi sebab matinya gersos di Aceh. Muhajirin Angkop dari HMI Fakultas Ekonomi Unsyiah, memisalkan, di Iran ada sosok imam yang dapat mempersatukan masyarakatnya, yakni Imam Khomeini.

Melihat Aceh, memang tidak ada lagi sosok yang dapat dijadikan sebagai ‘berhala’ pemersatu. Beberapa tempo lalu, sosok Tgk. Hasan Di Tiro sempat jadi panutan. Ia seakan hidup sebagai ‘berhala’ yang dipuja-puja oleh rakyat Aceh bansigom donya. Sejak kepergian Hasan Tiro untuk selamanya, kebersamaan pun luntur di Aceh.

Menurut Fuad, kepemimpinan di Aceh saat ini tidak lebih dati kepemimpinan tiba-tiba. “Hanya butuh modal massa yang banyak pada masa tertentu. Setelah itu, diam untuk selamanya pula,” kata Fuad.

Sampai saat ini, masih dirindukan sosok pemimpin di Aceh yang berkharisma, yang dapat membawa gerakan sosial sehingga terwujud perubahan sosial bagi kemakmuran rakyat. Semoga![Herman RN]

Iklan

Filed under: Opini

One Response

  1. Adam Kurniawan berkata:

    Nice post n good blog sob…
    Lanjut terus…
    Ditunggu posting selanjutnya ya…

    Jangan lupa juga kunjungan balik ya…
    Dan kasi komennya ya sob di blog saya…
    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: