Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

KOMPAS, Tidak Biasa Lagi

oleh Herman RN

Tidak biasanya, kemarin dan hari ini, tatkala saya membuka halaman digital KOMPAS cetak dan KOMPAS epaper, saya harus membaca semacam testimoni terlebih dahulu. Sebagai pebaca KOMPAS digital, terutama untuk halaman opini, humaniora, dan seni (KOMPAS minggu), saya sempat merasa kecut dengan testimoni tersebut.

Biasanya, selepas mengisi nama dan kata sandi, saya langsung dapat menjelajahi seluruh halaman KOMPAS digital, yang jika saya merasa perlu mengkliping beberapa tulisan, saya langsung ke kios koran langganan saya di Simpang Tujuh, Uleekareng, Banda Aceh, untuk mendapatkan edisi cetaknya.

Tidak biasa lagi, sejak kemarin, selepas login, saya tidak langsung dapat leluasa membaca artikel KOMPAS tersebut seperti biasa. Ada semacam pengumuman dihadapkan kepada saya. “Mulai 1 Mei 2011, harian KOMPAS edisi Digital dikenakan biaya berlangganan. Paket Berlangganan Harian KOMPAS Digital yang terdiri dari KOMPASCetak.com, KOMPAS ePaper dan KOMPAS Reader.” Demikian isi tulisan di pojok kiri itu. Pada bagian kanan, ada sejumlah harga yang merujuk pada lamanya berlangganan.

Mungkin biasa saja apa yang dilakukan KOMPAS itu dan ia adalah sebuah keniscayaan. Namun, berapa banyak pembaca KOMPAS yang sebenarnya hanya menyurve beberapa artikel sembari nongkrong di warung kopi, café, atau kantornya, kini harus kecut. KOMPAS yang selama ini tidak lepas dari matanya ketika online, kini harus mulai ditinggalkannya. Mau tidak mau, mereka kemudian harus beralih ke sejumlah media lain. Hanya mereka yang beruang dan memiliki kepentingan lebih saja, yang mau berkontribusi sebagai langganan KOMPAS digital. Sebagian lainnya, lebih senang dengan edisi cetak.

Tidak terbiasa dengan model seperti ini membuat banyak orang mulai merasa aneh. Akan tetapi, menurut saya, KOMPAS sah-sah saja melakukan itu, karena media tersebut milik mereka. Hanya saja, apakah tidak mungkin jika ada pembagian level? Misalnya, mereka yang memang memiliki kepentingan terhadap media, diminta memberikan kontribusi seperti yang disebutkan, sedangkan mereka, terutama kelompok anak-anak dan remaja yang membaca KOMPAS sembari mencari bahan sekolah atau tugas kuliah, tidak dibebankan demikian.

Semua akan jadi biasa jika memang KOMPAS telah menganggap semua level sama. Mau bilang apa lagi, itu kebijakan mereka. Hanya saja, saya tidak terbiasa berlangganan dalam bentuk digital, sebab kadang kesibukan pribadi membuat saya tidak sempat membuka internet bahkan kadang saat-saat tertentu berada di lokasi yang tidak ada jaringan internetnya. Bagaimana mungkin harus membayar sejumlah uang, yang untuk mendapatkannya sangat susah, sedangkan membaca yang dilangganani hanya kadang-kadang. Entahlah, hanya belum terbiasa dengan hal seperti ini.

Iklan

Filed under: Essay

One Response

  1. Budi Setiyarso berkata:

    hmmm.semakin sulit membuka mata dgn kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: