Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Menambang Kematian

Herman RN

[Serambi, 4 Juni 2011]
Nanggroe Aceh Seuramoe Mekkah
Nanggroe meutuah pusaka kaya
Nanggroejih ubit hasé meulimpah
Masa perèntah Iskandarmuda

LIRIK lagu kolaborasi T Djohan dan Anzib ini mengingatkan kita bahwa Aceh adalah negeri kecil dengan hasil melimpah. Kekayaan tanah Aceh bukan sekadar dalam lirik, banyak hasil penelitian yang menyatakan di bumi Aceh terkandung berbagai bahan mineral, seperti emas, batu bara, bijih besi, dan lain-lain.

Entah karena itu, jengkal demi jengkal tanoh Aceh mulai ‘digadaikan’ untuk orang luar. Penggadaian atas nama pertambangan sudah berlaku sejak 2006 lalu. Ironisnya, ternyata pertambangan tidak menyejahterakan rakyat Aceh sebagaimana yang diisukan oleh para pelaku tambang dan pemerintah. Sejak pertama masuk pertambangan investasi di Aceh, kekacauan horizontal yang malah semakin pelik.Jika masa konflik bersenjata, kekacauan terjadi antara TNI dan GAM yang di dalamnya ada pemerintah, tetapi imbasnya tetap masyarakat. Masa kini, “era pertambangan” ala Pemerintahan Aceh, kekacauan antara masyarakat dengan pemerintah, masyarakat dengan aparat, masyarakat dengan pihak asing (perusahaan), ditambah pula antara masyarakat dengan masyarakat sendiri. Jelas, masyarakat semakin jadi imbas konflik di zaman kini.

Pertambangan selalu kontroversial ditanggapi. Bagi pelaku tambang, termasuk pemerintah yang mengeluarkan izin dan rekom, berdalih bahwa kegiatan tambang mampu menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD), mendorong percepatan pengembangan wilayah, dan membuka lapangan kerja. Semua itu tak lebih dari alasan agar kegiatan pertambangan menjadi legal di Aceh.

Jika memang PAD banyak didapat dari hasil pertambangan, tentu Pemerintah Aceh maupun Pemerintah Kabupaten/Kota yang daerahnya dijadikan lokasi pertambangan, sudah membeberkan hasil PAD tersebut. Selama tidak adanya transparansi dari pemerintah, selama itu pula elemen sipil dan masyarakat terus curiga bahwa pertambangan dapat menunjang PAD sama sekali nihil. Oleh karena itu, jangan salahkan masyarakat yang terus menerus demo mempertanyakan hal ini.

Demikian halnya dengan percepatan pengembangan wilayah yang turut jadi dalih. Kenyataan yang ada, setapak demi setapak tanah Aceh tergerus. Hutan ditebangi. Gunung menjadi gundul. Longsor dan banjir jadi ‘kado’ tahunan dari alam. Imbasnya, masyarakat sekitar lokasi pertambangan. Sedangkan rumah para pejabat pemerintah, jauh dari perkampungan. Selamatlah para pejabat itu.

Tentang lapangan kerja juga masih kontroversial. Benar bahwa ada masyarakat yang kerja di lokasi pertambangan. Namun, berapa banyak masyarakat yang tidak mendapatkan apa-apa, tetapi ia tetap memperoleh imbas negatif dari kegiatan pertambangan? Sungguh tidak adil!

Sulit memang mempekerjakan semua masyarakat di lokasi pertambangan apalagi kondisi masyarakat Aceh yang sangat minim-bahkan mungkin tidak ada-tamatan pertambangan. Namun, berusaha untuk mencermati petaka yang bakal diterima oleh masyarakat secara luas, kegiatan pertambangan sama sekali tidak dapat dialasankan membuka lapangan kerja.

Aceh dengan tanahnya yang subur sudah barangtentu menciptakan rakyatnya bermatapencarian sebagai petani. Aceh daerah yang mempunyai laut indah menginginkan rakyatnya sebagai nelayan. Aceh sebagai daerah hutan telah pula mengukuhkan instansi adat seperti panglima uteuen, pawang glé menjadi penting. Oleh karena itu, aneh jika ada yang mengatakan bahwa Aceh cocok sebagai negeri tambang.

Positif-Negatif
Coba bandingkan antara efek positif dan negatifnya pertambangan. Sisi positifnya sudah ada di atas, soal PAD, percepatan pengembangan wilayah, dab lapangan kerja. Cermati pula efek negatifnya. Mulai dari pembebasan lahan, terjadinya perubahan bentang alam, kerusakan limbah padat dan cair, penurunan kualitas udara, kebisingan dan getaran yang menjerakan, perubahan tataguna lahan, erosi tebing, sendimentasi, kerusakan dan penyusutan keragaman flora fauna, sampai dengan terganggunya akses masyarakat adalah imbas yang bakal melahirkan konflik baru.

Jika ditelusuri lebih detail, masih banyak mudarat tinimbang manfaat kegiatan pertambangan. Sungguh, tidak ada pertambangan investasi yang ramah lingkungan sehingga tidak mungkin ada pertambangan yang mensejahterakan rakyat. Pertambangan, betulnya adalah sangat menyengsarakan rakyat, tetapi mungkin menyejahterakan pejabat.

Saya yakin, dengan pendapat ini akan ada yang mengatakan bahwa saya-mungkin juga masyarakat Aceh secara umum-tidak paham soal pertambangan sehingga hanya melihat negatifnya saja. Akan tetapi, jika mau melihat kenyataan, efek negatif akibat pertambangan itu memang lebih banyak, lebih besar, dan lebih berbahaya, tinimbang positifnya. Salahkah jika kita dihadapkan dua hal, lalu menolak yang lebih besar mudaratnya?

Oleh karena itu, sudah saatnya Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota menghentikan izin pertambangan di Aceh. Wilayah Lhoong, Aceh Besar dan Menggamat di Aceh Selatan adalah dua contoh besar dari sekian contoh di daerah lain, sebagai bukti hancurnya konservasi hutan dan lingkungan Aceh. Kehancuran tersebut jelas akibat kegiatan pertambangan. Dapat dibayangkan apa jadinya Aceh Besar karena izin yang dimiliki oleh PT Lhoong Setia Mining sampai tahun 2027. Izin yang sama juga untuk PT Multi Mineral Utama di Aceh Selatan. Tambah lagi izin KSU Tiga Manggis yang memayungi PT Pinang Sejati Utama (PSU) hingga 2019.

Ironisnya, izin perusahaan yang sedang berjalan belum habis, sudah dipersiapkan izin untuk perusahaan lain. Berapa banyak kehancuran dan kematian yang bakal disemai di Aceh oleh generasi mendatang? Ini baru soal lamanya izin, belum lagi hal lainnya semisal PT LSM yang beroperasi lebih cepat daripada izin AMDAL yang mereka miliki. Dalam keharusan, izin AMDAL dahulu, baru beroperasi. Jelas, banyak ketimpangan sehingga pertambangan memang tidak layak, tidak cocok untuk Aceh. Ngeri rasanya melihat izin yang dikeluarkan Pemerintah Aceh melalui Dinas Pertambangan Aceh pada Mei 2011. Ada 120 perusahaan yang bakal beroperasi.

Lihat pula kebijakan Pemerintah Aceh Selatan. Belum selesai konflik rakyat dengan PT PSU, sudah dikeluarkan izin studi AMDAL untuk PT Songo Abadi Inti yang akan menghancurkan 2300 hektar hutan di Bakongan Timur dan Trumon, dengan kapasitas 600.000 ton/tahun.

Bukankah lebih baik tidak memilih pemimpin-pemimpin seperti sekarang? Maka, untuk rakyat Aceh, pilihlah pemimpin ke depan, yang berani membawa visi misi menghentikan pertambangan di Aceh. Harusnya, orang-orang terutama pemerintah masa sekarang sadar bahwa hutan dan tanah ini bukan miliknya, walau ia sedang berkuasa. Semua ini hanya titipan dari orang-orang sebelum kita dan akan kita titipkan kembali pada generasi setelah kita. Maka, hentikan menambang kematian di Aceh! Kami mohon! Walau harus kami menyembah!

* Herman RN adalah aktivis Prodeelat Aceh.
Iklan

Filed under: Opini

3 Responses

  1. Mimin mumet berkata:

    suka dengan tulisan tulisan di blog ini

  2. Jerry patras berkata:

    Berani bicara ANTI TAMBANG…….maka JANGAN PAKAI BAHAN TAMBANG. Cobalah tampil konsekwen Dan komit BAHWA SAYA, KELOMPOK SAYA atau KELUARGA SAYA TIDAK AKAN MENYENTUH BAHAN YANG BERASAL DARI TAMBANG.
    Binatang yang Namanya BABI itu Haram Hukumnya, begitu juga halnya TAMBANG HARAAAAAMMM. COBA BUAT SPANDUK2 yang berisi “kami anti TAMBANG” maka haram bagi kami untuk memakai, menggunakan, membawa, memegang, menyimpan apalagi mengkonsumsi. Bahan2 yang terbuat dari hasil TAMBANG.

  3. Jerry patras berkata:

    Para ente yg konon berteriak STOP TAMBANG Adalah sekelompok “MAKHLUK ANEH” yg asal bunyi bagaikan PAHLAWAN tapi nyatanya mereka ini cari makan dengan cara NGOCEK DAN TERIAK TERIAK krn nyatanya mereka ini sangat butuh yg namanya BAHAN TAMBANG……hai antuk MEUTUAH….meunyo jak meukawen cit na MAHAR alias Mas Kawin……sekian mayam ( +/- 3.3 gram emas) emas itu BAHAN TAMBANG Bro !!!. Silahkan buat rumahmu atapnya cahaya matahari, dindingnya dari angin dan lantainya air hujan……artinya kau tidak pakai bahan tambang….coba melamar anak gadis orang tentu maharnya EMAS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: