Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Luar Biasa!

oleh Herman RN

MUNGKIN bagi sebagian orang, diundang ke sebuah acara apalagi hanya kegiatan kebudayaan, adalah hal biasa. Kendati sudah di atas panggung pun, mereka akan mudah mengatakan “Biasa saja.”

Setidaknya, itulah yang diutarakan oleh Seno Gumira Ajidarma dan beberapa cerpenis pilihan kompas 2010 tatkala ditanya perasaannya.

“Bagaimana perasaan Anda?” tanya Master of Ceremony (MC) malam Anugerah Cerpen Pilihan Kompas 2010 yang digelar di pelataran Bentara Budaya Jakarta, 27 Juni 2011, malam.

“Ah, biasa aja,” sahut Seno, yang sempat mengulang kembali kalimat itu hingga dua kali.

Bukan hanya 15 cerpenis yang turut di atas panggung ketika itu, tertawa mendengar kalimat Seno—yang mungkin hanya guyon dia—hampir semua tamu dan undangan juga tergelak.

Beda bagi saya pribadi. Malam itu adalah malam istimewa. Saya bahkan sempat mencubit pipi kiri dan kanan bahwa tidak sedang bermimpi. Namun, seperti yang lain, gengsi juga jika hanya saya yang merasakan malam itu istimewa dan kelihatan grogi, sedangkan yang lain biasa saja. Karena itu, saya kemudian berusaha berdiri dan senyum seakan menunjukkan bagi saya malam itu juga hal biasa.

Tentu saja berbanding terbalik dengan isi hati saya. Jalan panjang menulis cerpen, sejak di bangku kuliah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indoenesia Unsyiah, lalu masuk ke Sekolah Menulis Dokarim, dan tidak berhenti mengikuti setiap even atau diskusi kepenulisan yang memungkinkan diikuti, kembali terbayang. Kirasanya malam itu adalah malam luar biasa dari sebuah proses yang belum begitu lama.

Kenangan tahun 2005 lalu, tatkala menjadi juara III Cipta Cerpen Pemuda oleh Creative Writing Institute (CWI) kembali terngiang. Namun, malam ini, saya merasakan lebih istimewa. Bukan karena Kompas yang punya hajatan, tetapi kegiatannya yang berbeda dengan acara penerimaan juara CWI kala itu, yang hanya dipanggil sejenak ke bawah panggung utama, dan menerima hadiah lalu selesai.

Lebihnya lagi malam ini, saya berdiri sepanggung dengan orang-orang yang selama ini cerpen mereka saya “santap”. Dududk di barisan paling depan dengan mereka, saya seperti tamu istimewa. Entah karena ini yang pertama bagi saya dan selama ini belum sempat memimpikannya.

Tanpa mengurangi takzim saya kepada para nominasi cerpen pilihan Kompas 2011, saya sebutkan saja beberapa nama yang selama ini cerpen mereka kerap saya “nikmati”.

Mulai saja dengan nama di antaranya Budi Darma. Sungguh saya tidak mengira jika Budi Darma adalah seorang penulis yang sudah sangat senior, dari segi usia dan karya tentunya. Dalam bayangan saya, Budi Darma masih segar, paling baru 40-an. Ternyata…itu berbanding terbalik dengan bayangan saya terhadap Agus Noor. Saya kira Agus Noor lebih tua daripada Budi Darma—kepada kedua cerpenis senior ini, saya minta maaf telah membayangkannya tertukar.

Adek Alwi tentu tidak ketinggalan dari bayangan saya. Namun, ia persis seperti di kepala saya, berkumis dan masih ‘segar’. Mardi Luhung jangan ditanya. Walau ia sebagai penyair untuk anugerah Khatulistiwa Literary Award, cerpennya juga sempat saya baca di rubrik Seni Kompas.

Tersebut pula nama Martin Aleida, cerpenis Sumatera Utara yang juga karya-karyanya saya sukai, terutama cerpen-cerpen Martin yang mengambil latar Aceh.

Nama berikutnya tentu saja sang juara malam itu, Seno Gumira Ajidarma. Saya sudah yakin bahkan kepada beberapa teman di Aceh, sebelum berangkat ke Jakarta, sudah saya sampaikan, agaknya Seno yang akan jadi juara kali ini.

Tebakan saya sedikit pun tak meleset. Seno yang cerpennya “Belajar Mengarang” sempat saya jadikan sebagai bahan ajar pelatihan cerpen di beberapa workshop di Banda Aceh, adalah salah satu cerpenis yang saya sukai.

Tak terbayangkan jika Seno ternyata seorang gondrong, berkaos oblong, dan bercelana jins malam itu. Sebagai dosen dan telah meraih doktor di UI, saya kira Seno akan berpenampilan dengan kemeja garis-garis dan lebih rapi dalam malam itu—bukan berarti malam itu tidak rapi.

Ya, itu sebabnya saya merasa seperti mimpi. Sekali lagi, bagi saya, prestasi malam itu sangat luar biasa, walau bagi sebagian orang ini biasa-biasa saja. Kembali saya teringat sebuah email dari guru saya, “Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya.”

Terima kasih, Kompas.

Santika Premiere Jakarta,

Dalam sebuah bilik dan pagi yang cerah, 28 Juni 2011


Iklan

Filed under: Memory

One Response

  1. Iqbal Perdana berkata:

    Luar biasa bg !
    Selamat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: