Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Ibu, Sederhananya Kau

Catatan Herman RN

Apa pendapatmu tentang “ibu”? Mungkin ia hanya dipandang sebagai perempuan biasa, yang terlahir dengan keadaan biasa. Ia muncul dari rahim seorang perempuan pula, kendati dalam proses kejadian, konon perempuan diciptakan dari tulang rusuk lelaki.

Aku, kau, dan siapa pun terlahir dari sosok seorang ibu, seorang perempuan. Namun, tahukah kau bahwa si perempuan yang diciptakan dari tulang rusuk lelaki itu memiliki sifat pengasih dan penyayang melebihi seorang lelaki.

Sembilan bulan kita dipapah dalam bentuk janin. Membesarnya perut ibu tak membuat ia sedikit pun merasa minder atau malu. Seorang ibu malah bangga menyatakan kepada sesiapa saja, “Ini anakku”.

Dalam tertatih ia bawa kita. Keselamatan kandungannya di atas segalanya bahkan di atas keselamatan dirinya sendiri. Tatkala sampai hitungan bulan, ia gigit bibir menahan sakit ketika kau akan dilahirkan. Ia genggam tangannya menahan perih. Ia lebih memilih menjambak rambutnya sendiri agar kau berhasil muncul ke dunia ini.

Pernahkah kau baca mimik seorang ibu tatkala ia kesakitan? Sesungguhnya doa yang terpanjat kala itu lebih kurang “Ya Tuhan, selamatkanlan anakku.” Bahkan, barangkali ada ibu yang mengutarakan doa “Aku rela mati, Tuhan, asal anakku selamat.”

Ketika masih diperiksa dokter pun, seorang ibu akan menjawab “Selamatkan saja anakku,” manakala ia diberi pilihan oleh dokter, “Hanya bisa diselamatkan salah satu, ibu atau bayinya.”

Ibu, hanya seorang ibu. Setelah kau lahir ke dunia pun, ia masih menyerahkan segala cinta dan kasih yang dimiliki untuk kau, untukku, bayinya. Dua tahun ibu memberikan air susunya. Ia korbankan makan enak demi menjaga kenikmatan air susunya. Apabila ia sadari bayinya kurang enak badan, gelisah ibu meningkat tinggi. Ia jauhi pantangan, ia jaga kesehatan.

Mungkinkah kau tahu, ketika malam tiba, ia belum biasa tidur sebelum bayinya lebih dahulu nyenyak. Tidur ibu pun saat itu tak lebih seperti tidurnya ayam. Ia khawatir, ada nyamuk yang hinggap di tubuh bayinya. Ia lebih rela memberikan darahnya sendiri tinimbang setetes darahmu digigit nyamuk. Ia ikhlas menggadaikan waktu tidurnya demi mengipasmu yang kepanasan atau kedinginan.

Tatkala kau sudah sanggup mengunyah makanan, ibu selalu menyuapimu. Beranjak kanak-kanak, ia ajari kau bicara dan tahukah kau kata yang pertama dapat kau eja, yakni “Ibu” atau “Ma” karena ibu atau mama adalah sosok perempuan yang mungkin biasa tetapi luar biasa.

Ibu pula yang menyarankan kepada ayah agar kau disekolahkan. Ibu pula yang lebih tahu ukuran baju, rok atau celana, sepatu, bahkan pakaian dalam kegemaranmu. Ibu bahkan lebih tahu tentang kau daripada dirimu sendiri kala itu.

Ketika kau akan melanjutkan sekolah dan jauh dari kampung, jauh dari ibu, tahukah kau bahwa ibu menangis malam? Ia membayangkanmu yang bakal jauh darinya, meski ia berkeyakinan kau sanggup hidup tanpa dirinya. Maka, kala itu berpotong doa pun ibu panjatkan kepada Tuhan demi kebahagiaanmu.

Mungkin, saat kau sudah jauh dari ibu, walau dengan alasan pendidikan, ibu suka menelponmu. Hari ini ia menelpon. Besok menelponmu lagi. Bahkan, dalam sehari boleh jadi seorang ibu menelpon anaknya lebih dari sekali. Sadarkah kau saat menjawab “Ibu, kemarin kan sudah menelpon. Habis pulsa nanti bentar-bentar nelpon. Saya sehat-sehat saja, Bu.”

Tahukah kau saat itu hatinya menangis. Ia menelponmu berulang-ulang memang tak sempat memikirkan berapa pulsa yang akan habis. Ia juga tahu bahwa kau sehat-sehat saja. Namun, tahukahkau bahwa ingin mendengar suaramu setiap hari, saban waktu. Ia hanya ingin mendengar suaramu, walau hanya untuk menjawab salam darinya.

Ketika hari baik dan bulan baik tiba, semisal meugang, puasa, atau hari raya, hati ibu berdetak kencang. Ia berharap kau ada di sisinya. Ia berharap dapat meugang bersama. Ia berharap dapat menjalani ibadah puasa bersama. Ia berkeinginan melihatmu memakai baju lebaran, meskipun mungkin baju itu kau beli dari hasil jerih payahmu sendiri.

Maka, menjelang hari-hari baik itu, ibu akan menelponmu kembali. Apa pun jawabanmu, alasanmu untuk menyatakan tidak pulang bersua ibu, ibu tidak pernah membantahnya. Kala itu, ibu hanya bisa kembali berdoa agar Tuhan memberimu ketabahan, kesabaran.

Tatkala kau akan mempersunting atau dipersungting, ibu pula orang yang pertama yang menangis. Tangis bahagia yang tak pernah kau maupun aku mengerti. Bahwa dalam tangis itu ada terselip kekhawatiran, selain kebahagiaan, pun sebuah keniscayaan.

Ingatkah kau? Saat kau sakit ringan semisal sakit perut, ia tak tergesa-gesa mencari promag. Ia coba mengusap perutmu dengan telapak tangannya. Lembutnya kulit tangan ibu lebih ampuh dari segala jenis obat.

Pernahkah kau paham, ketika menjelang mautmu, ibulah orang yang paling gelisah dari sekian orang. Doa terpanjat dari bibirnya, dari hatinya, melebihi banyaknya rambutmu di kepala. Bahkan, terkadang terlontar pinta agar dirinya menggantikan posisimu yang sedang sekarat itu.

Tahukah kau, apa yang diungkapkan ibu ketika dirinya yang akan dijemput Izrail? Doa untukmu dahulu, baru untuk diri dan suaminya. Hampir dalam setiap tasbih dan tahmidnya kepada Tuhan, terselip namamu. “Ya Tuhan, anakku,” demikian kira-kira saat ia menahan sakit.

Tentu masih panjang cerita tentang ibu. Ibuku dan ibumu mungkin beda, tetapi mereka adalah sama, yakni sama-sama sebagai seorang ibu, seorang perempuan sederhana, perempuan biasa yang sesungguhnya luar biasa. Mari berbagi cerita tentang ibu kita atau bersitkan sepotong doa buat ia, orang yang telah memperlihatkan kepada kita matahari kala siang, bulan bintang saat malam. Ialah sosok yang tidak akan mengubah kasih sayangnya kepada anak, meskipun bulan dipindahkan ke siang atau matahari diletakkan pada malam.

Panjatkanlah sepotong doa, walau hanya doa keselamatan, untuk dia, ibu… Alfatihah..

 

Kluet Utara, 31 Juli 2011

Sekira pukul 00:00 WIB

 

Untuk mereka yang memiliki ibu, di hatinya…

 

Iklan

Filed under: Memory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: