Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Sebelas Tahun Lalu, Enam Tahun Setelah Helsinki

Oleh Herman RN

[Sumber: Serambi Indonesia, 18 Agustus 2011]

Kendaraan Tahanan di Lapas CipinangKEPADA siapa kesah dituju, manakala sumpah dianggap semu. Kemana dosa diaku, kala bai’at sekadar di lidah palsu. Dalam hutan sama berperang, sama berjalan di kerikil dan batu. Semua hilang jadi kenangan, tatkala perdamaian dijadikan buku.

Masih ingatkah Tuan, di sana, di Cipinang sana, ada tiga lawan—jika tak mau Tuan sebut teman—tapi ia sempat menjadi kawan. Namun, ketiganya bukanlah musuh sehingga harus disimpan jauh, jauh dari sanak keluarga mereka, meluruh pula dari kampung halamannya. Sungguh, kesedihan semakin mengguruh dari tiga anak Aceh itu saban perkisaran waktu, dari malam hingga subuh, sampai kembali malam lagi tatkala nelayan menarik sauh.

Ingatkah Tuan, perkara kampung kita sebelas tahun silam? Dua juta rakyat teriak referendum setelah kumandang azan di depan rumah agung Tuhan, setelahnya rakyat ikut berjuang menuju ibukota di pulau seberang. Baju putih dengan sepetak merah di dada berlambang rencong disimpan. Baju yang penuh kenangan. Tuan pasti ingat, baju itu tak jadi dikenakan bersebab ketahuan oleh aparat keamanan pemerintahan. Perkumpulan dibubarkan, baju disulut api yang membakarnya dengan bara dendam. Beberapa rakyat dan pejuang pun ditangkap, ditahan.

Tuan, coba lihat lambang salah satu partai politik yang beranjak dari perkumpulan mengatasnamakan perjuangan masa silam. Lambang dan warna bendera partai itu, Tuan, bukankah sama seperti lambang dan warna baju yang sempat kita sablon dulu? Bedanya, tulisan “REFERENDUM” dengan huruf kapital pada sepetak merah baju kita telah diganti dengan logo “Bulan Bintang” pada bendera partai yang sekarang. Ah, entah Tuan masih ingat tentang itu semua.

Mari mengingat, Tuan, bahwa tiga orang yang kini masih dikerangkeng Cipinang adalah sama seperti Tuan, sama seperti mereka yang mengaku pejuang. Apa Tuan pernah bertanya pada satu di antara tiga mereka itu tentang perkumpulan massa di Bundaran Halim Perdana Kusuma? Apa Tuan ingat siapa yang menyambut rombongan dari kampung kita menjelang datang ke ibukota? Apa Tuan lupa siapa yang berdiri di lini depan tatkala aksi paling dahsyat di tahun ’99 yang digaungkan di depan Gedung DPR dan Istana Negara?

Ah, Tuan, mengapa pula saya terlalu banyak tanya sehingga berkesan lebih sedikit ingat tinimbang lupa. Saya—dan mungkin beberapa orang seperti saya—pasti sangat mahfum tentang sepak terjang Tuan dan orang di sisi Tuan, dan orang-orang di samping Tuan, serta orang-orang di belakang Tuan. Dunia juga tahu bahwa Tuan sempat mengecap asin dan asamnya air di tahanan. Banyak orang pun paham bahwa Tuan termasuk dalam lini depan tatkala bersama berdiri atas nama sumpah perang menuju kemerdekaan. Akan tetapi, lupakah Tuan tentang kebersamaan, di parit sama bergantung pada akar, di selurit meraung sama menghindar, di saat terjepit sama canda dan berkelakar? Lantas, saat damai, mengapa Tuan sendiri pergi mencari sinar?

Tuan, agaknya saya memang harus bertanya dan masih tetap bertanya sebelum kepastian itu nyata. Sunggu saya lihat beda, orang-orang lain dengan mereka bertiga yang tersisa di jeruji sana. Tatkala satu per satu, kelompok per kelompok mendapat remisi tahanan, merdeka bersua dan berkumpul dengan sanak keluarga, tetapi Ismuhadi,  Irbahim, dan Irwan masih di tahanan. Mereka bertiga dianggap lebih besar dosa daripada Tuan dan Tuan Tuan lainnnya yang nyata jelas-jelas Tuan hanya mengumbar janji merdeka.

Bolehlah Tuan sekarang mengilah-alih bahwa mereka bertiga tidak masuk dalam kelompok perjuangan. Namun, apa Tuan sudah lupa bahwa mereka juga sempat berteriak kepada pemerintahan sah negeri ini atas nama perlawanan, atas nama rakyat dan kebebasan? Coba Tuan ingat, di mana tempat persinggahan para pejuang sesampai ibukota kalau bukan di bawah tenda mereka?

Terlalu pongah sekarang Tuan mungkar dari kesepakatan, bahwa dulu tatkala di hutan sama seperiuk beras ditanakkan, serupa sepanci air dihangatkan. Sekarang, selepas tiba di daratan, melupa pada muasal telur ditetaskan, alpa pada kelapa yang sama disantankan. Duh, terlaluan sungguh sapi dari jurang, sampai di seberang tanduk ditadahkan.

Kita memang telah tiba pada zaman perdamaian, masa diminta untuk mengubur segala benci dan dendam. Yang lalu sama kita nggap kenangan. Yang kita tuju adalah sama sebagai harapan. Kita telah bersepakat bahwa janji damai ini sama dirawat. Jangan sampai saling hujat apalagi fitnah hasut dan hasad. Ini janji hari ini, janji selepas laut surut, janji setelah senjata dilumat-lumut. Akan tetapi, pernahkah Tuan ingat pada janji dan kesepakatan masa kampung kita dilanda keributan? Masa perempuan bersiap kehilangan mahkota, masa-masa istri harus rela menjadi janda, masa anak-anak belia harus menghapus cita-cita?

Kalau saya tidak lupa, masa-masa itu antara Tuan dan mereka tak ada beda. Anak Tuan adalah anak mereka, dan anak mereka Tuan anggap serupa anak Tuan pula. Sedangkan istri dan sanak familinya sudah teranggap sebagai saudara Tuan juga. Betapa antara Tuan dan mereka, antara Tuan dan orang-orang kampung kita, satu Tuhan dan setara hamba. Tuan dan mereka, juga segenap orang kampung kita, bagai kumparan satu warna, umpama komponen mesin pada satu media. Manakala satu saja yang terluka, Tuan dan semua ikut merasa. Bukankah semestinya tatkala Tuan bahagia, mereka juga berhak mendapat rasa?

Saya yakin mereka tidak meminta rumah bertingkat atau mobil mengkilap, maupun uang berlipat. Mereka hanya mau menghirup udara sama seperti Tuan, tidak dijeruji dan bukan di tahanan. Apalagi, di hari baik bulan baik, bulan rahmat bulan kemenangan seperti sekarang, berkumpul bersama istri dan anak tentu sudah impian. Pernahkah Tuan membayangkan jika Tuan berada pada posisi mereka, jauh dari istri, jauh dari anak, tambah lagi bukan di kampung halaman sendiri? Sekali saja Tuan melayangkan kenangan, berandai anak mereka adalah anak Tuan, lalu renungi 10 kali hari raya puasa tambah 10 kali lebaran haji tidak berkumpul dengan ayahnya. Dapatkah Tuan menahan air mata tatkala bunyi sireune berbuka dan menjelang sahur tiba, menikmati rukun Islam ketiga tanpa istri dan si buah hati?

Tuan, hentikan menjadikan beberapa orang sebagai tumbal perdamaian. Seremoni tahunan keenam janji damai sudah berlangsung. Ia jatuh tepat pada bulan kemenangan dihimpun. Jika tahun kemarin Tuan tidak mau mengakui dia sebagai anggota gerakan menuju perdamaian, tahun ini akuilah dia–paling tidak sebagai orang sekampung–agar ia dapat pulang dengan santun. Kita tak mau mereka pulang dengan bara, sebab mereka juga saudara kita. Karena itu, walau belum sepenuhnya merdeka, pengakuan Tuan akan dapat membuat mereka sedikit lega. Apalagi, ini bulan puasa, penuh rahmat dan ampunan-Nya.

Penulis, alumni MPBSI Unsyiah

Iklan

Filed under: Essay,

3 Responses

  1. idrusbinharun berkata:

    meunan keuh awak geutanyoe….payah ta peuingat sabe man..

    saleuem dari lamteumen
    http://idrusbinharun.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: