Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Belanda Pemecah Islam dari Dayah!

oleh Herman RN

Zaman dulu, dayah merupakan lembaga pendidikan yang terbuka pada keberagaman. Namun, belanda membatasi pergerakan pendidikan dayah sehingga Islam sekarang ‘terkotak-kotak’.

Hal itu disampaikan oleh Guru Besar Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Hasbi Amiruddin, M.A., dalam diskusi publik yang digelar oleh Forum Islam Rahmatan Lilalamin (FIRL) di Café Pustaka, Punge Blang Cut, Rabu, 21 September 2011. Menurut Profesor, sebelum dipengaruhi oleh Belanda, Aceh menjadi pusat dagang internasional yang terbuka pada keberagaman sehingga Islam damai lebih dikenal masa itu.

“Orang-orang dari seluruh penjuru dunia masa lampau belajar di Aceh. Dayah di Aceh masa lalu tidak mengenal istilah orang luar negeri. Orang kafir yang datang ke Aceh, untuk berdagang maupun belajar disambut dengan baik. Ini baru dikatakan bahwa Islam itu menerima perbedaan, bahwa Islam itu agama perdamaian,” tegas Hasbi.

Profesor Kajian Islam IAIN Ar-Raniry itu menuturkan, saat ini terjadi pergeseran pola pendidikan dayah di Aceh. Jika dulu, orang dayah bisa jadi diplomat ke beberapa negara semisal Turky, sekarang orang dayah lebih ekslusif.

“Kita patut kagum pada ulama Aceh dulu yang pada dasarnya mereka itu dari dayah. Tgk. Syiah Kuala contohnya. Ia belajar hingga ke Yaman lalu ke Mekkah. Di sana ia menghabiskan waktu sampai 19 tahun. Ketika kembali ke Aceh, ia diminta menulis buku oleh sultan. Ia menulisnya bahkan buku tafsir pertama dalam bahasa Melayu ditulis oleh Tgk Syiah Kuala alias Tgk. Chik Pante Kulu,” papar profesor, bangga.

Hasbi menambahkan, buku Tgk Syiah Kuala tidak hanya dibaca oleh orang dayah, tetapi juga oleh profesor-profesor dari berbagai belahan dunia. Kata dia, orang-orang dayah sekarang harus bisa menjadi “Tgk Syiah Kuala”.

Hasbi terus menerus menyebutkan bahwa orang-orang dayah masa lalu banyak yang menulis. Mereka mengeluarkan kitab. Pada masa Ratu Safiatuddin, baru ada kekurangan penulisan kitab, bahkan saat itu terjadi pembakaran banyak kitab. Tambah lagi, saat itu Belanda mulai menyerang Aceh habis-habisan.

“Saat terjadi perang Belanda inilah semua ikut berperang bahkan ulama pun. Dayah-dayah terpinggirkan ke hutan. Akhirnya, para ulama mulai terbuka pemikirannya bahwa perang hanya memakan korban, sedangkan Aceh perlu ilmu dan pendidikan. Akhirnya, banyak ulama menyerah kepada Belanda. Mereka kembali ke kampung dan mendirikan dayah,” papar Hasbi.

Sayangnya, sebut dosen Fakultas Tarbiyah IAIN tersebut, karena dayah masa itu masih dipengaruhi oleh Belanda, kitab-kitab pun dibatasi. Kemampuan orang dayah yang mulai kurang. Dari sini kemudian, kata Hasbi, Belanda mencoba memecah Islam melalui mazhab-mazhab.

“Dulu, Syiah bisa hidup di Aceh. Bahkan, banyak budaya Syiah yang masih berkembang dalam masyarakat Aceh. Sekarang saja sudah ada klaim syiah sesat. Dalam Ahlaussunah pun ada klaim seolah semua hanya Safi’i. Ini ulah Belanda masa itu,” pungkasnya.

Narasumber dari Badan Pembinaan dan Pendidikan Dayah (BPPD) Aceh, Drs. Muhammad Nasir  menyatakan, badan dayah ke depan akan terus mendampingin dayah di Aceh agar lebih maju dan berkembang.

“Saat ini memang prioritas kita pada pembangunan fisik, karena sesuai rekomendasi pemimpin dayah se-Aceh dengan wagub pada 2008 lalu. Namun, kita juga akan memberikan penguatan sumberdaya manusia. Tahun depan mungkin akan ada 10 atau 11 dayah yang diberikan internet. Tahun ini, ada 20 orang dayah yang kita kirim ke Malaysia. Selesai S2 di sana, mereka diminta siap mengabdi di dayah,” tutur Nasir.

Iklan

Filed under: Feature

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: