Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Purnama Bersinar Siang

Cerpen : Herman RN

KUAWALI hari ini dengan sebuah tulisan, seperti pagi yang mengawali hitungan hari dengan bening embun di pucuk-pucuk daun, tapi raja segala energi selalu membiaskannya. Bunga-bunga layu kepanasan, daun pun terkulai melambai bumi. Burung-burung melintasi horison, sesekali cemburu melihat kumbang bermain di merekahnya merah mawar. Awan masih bersama mengarung angkasa, tak hendak berpisah. Saat itulah kuawali hari ini dengan sebuah tanya, “Ada apa gerangan dengan diriku hari ini. Mengapa aku ingin sekali bertemu dengan dirinya?”

Awalnya sih biasa saja, sama seperti hari sebelumnya ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di kota besar ini. Hanya ada was-was dan takut, apakah aku mampu melawan terjangan keganasan sebuah kota Metro? Tapi, sejak tiga hari lalu ketakutanku berubah. Ini sebenarnya bukannya takut, menurutku hanya sebuah ketakpercayaan. Mungkinkah yang kulihat kemarin itu Nurma? Ah, mirip sekali. Padahal, aku tahu Nurma itu tak kembar, dia anak ragil, dan mana mungkin ada orang yang sama persis di dunia ini.

Terus terang aku bimbang. Pakaiannya, gayanya, senyumnya, matanya, dan…. ah! Yang paling kubingungkan kenapa aku harus terus memikirkannya? Kalau memang ia bukan Nurna, mengapa terus menerus terlintas di benakku? Atau kenapa bayangannya terus mengekoriku?

Aku sadar, kalau aku dan Nurma sudah sewindu berpisah. Aku juga tahu, aku rindu dia. Nurma adalah sosok pertama yang membuat aku mengenal wanita, tepatnya sosok pertama yang memperkenalkanku cinta. Waktu, aku masih di bangku sekolah dan Nurma adalah adik kelasku. Kami berpisah setamat sekolah. Aku melanjutkan pendidikan di ibukota provinsi, sedangkan Nurna ke luar negeri.

Nah, itu dia yang tak sanggup kupikir. Mengapa kemarin aku melihat seorang cewek jilbaber mirip betul dengan Nurma. Ia kuamati di sebuah tempat makan mie di pinggir jalan ke kampus. Anehnya lagi, beberapa malam ini aku terus bermimpi tentang wajah itu. Bukan wajah Nurma. Mengapa harus dia–gadis misterius itu–hadir di setiap malamku, setelah kali jumpa pertama itu.

Nurma, aku sudah berusaha melupakannya, karena aku tak ingin kuliahku terganggu hanya karena memikirkannya. Lagi pula jika memang jodoh, kami pasti bertemu kembali. Toh, kami berpisah karena komitmen masing-masing, karena cita-cita masing-masing. Nurma yang memang senang dengan agama memilih kuliah di negeri Arab, negerinya para nabi. Sementara aku sendiri, sesuai cita-citaku yang kagum dengan guru, memilih kuliah di keguruan. Bagiku, guru adalah propesi yang paling mulia ketimbang yang lain. Karena guru, orang bisa jadi dokter, militer, dan lain-lain. Itu pendapatku.

Sejak perpisahan itu, demi menjaga hati, aku coba untuk memelihara rindu. Tak kubiarkan rindu terbang tinggi. Namun, kejadian di Rabu siang minggu lalu memaksaku melambungkan rindu kembali ke Nurma. Waktu itu, aku buru-buru hingga tak sempat sarapan. Sesampainya di Simpang Tapee, aku mampir di kantin sebelah ruko yang dijadikan sebagai tempat Privat English. Alangkah terkejutnya ketika mataku menangkap sesosok jilbaber yang sedang menikmati semangkok mie di kantin itu. Detak jantungku seketika seperti suara kereta api di atas rell.

“Nurma!!!” suaraku antara keluar dan tidak menyebut sebuah nama, nama gadis yang sempat dekat denganku.

Aku berusaha menyabarkan gejolak, karena aku yakin itu bukan Nurma. Mana mungkin Nurma di kota ini. Dia kan sedang di universitas Jabbal Rahman. Mana mungkin dalam waktu sekejap ia sudah kembali. Lantas, siapa dia, siapa perempuan jilbaber itu? Lahap sekali ia makan mie.

Sesaat ia melihat ke arahku, mata kami beradu pandang. Ada sesuatu yang meronta dari balik dadaku. Mulutku ingin mengucapkan sesuatu, tapi gadis itu duluan melebarkan bibir ke samping, tersenyum ke arahku. Aku kelu, tak jadi bersuara, malu sendiri. Dia pasti tahu kalau aku menatapnya sedari tadi. Aku mengalihkan pandangan ke tempat lain. Lalu mencuri pandang kembali. Kulihat cewek jilbaber lebar itu kembali asyik dengan mangkok dan sendok mie-nya.

“Bang, pesan apa?”

“Up… anu…teh manis saja,” gelagapan aku menjawab pelayan yang tiba-tiba sudah di sampingku.

“Kemana dia?” baru sekejap aku lalai dari memandangnya karena melayani pelayan kantin, gadis mirip Nurma itu telah menghilang. Sungguh aku penasaran.

Sejak kejadian itu aku diliputi seribu tanda tanya yang kadang memang tidak untuk dijawab. Tempat itu pun akhirnya menjadi lokasi sarapanku saban hari. Aku tak lagi sarapan di rumah. Ketika malam menjemput, bayangan perempuan misterius itu selalu menghantarkan tidurku. “SIAPA ENGKAU?” kutulis besar-besar di lembar diary-ku sebagai judul perjalanan pagi rabu itu. Secoret karikatur berjilbab pun menghias di bawahnya. O ya, aku hampir lupa membubuhi tahi lalat di samping kanan hidung perempuan dalam gambarku. Kutitikkan setetes tinta hitam lagi di karikaturku karena gadis itu sempat kulihat ada tahi lalatnya. Gambarku pun akhirnya selesai. Aku puas dengan ilustrasi di kertas diaryku.

***

Seperti malam kemarin, malam ini aku kembali memikirkannya. Hasratku, besok aku harus tahu namanya. Ya, paling tidak aku harus tahu namanya. Masalah asal, kuliah, dan tempat tinggalnya, itu bisa menyusul. Namanya yang terpenting. Mungkin rasa penasaranku terhadap Nurma bisa berkurang jika ia ternyata bukan bernama Nurma. Malam ini aku coba tidur nyenyak setelah memikirkan planing untuk esok.

Tatkala esok menjelang, aku mampir di kantin itu lagi. Sayangnya, dia tak kulihat hari ini. Kemana dia? Bukankah biasanya sepagi ini dia telah nongkrong dengan semangkok mie-nya? Atau aku yang kecepatan karena rasa ingin sekali mengenalnya. Tidak, kukira tidak. Aku datang masih seperti biasanya, pukul delapan. “Biarlah aku menunggu sekejap,” pikirku.

Kulirik Lobor di pergelanganku. Jarum pendeknya menunjukkan angka sembilan. Berarti sudah satu jam aku menunggu. Kemana gerangan gadis misterius itu.

“Bang, cewek yang biasa duduk di pojok kiri itu kemarin abang kenal?” aku memberanikan diri bertanya pada pelayan kantin saat ia mendekatiku mengantarkan pesananku.

“Maksud Abang, yang pakai jilbab ungu kemarin?”

“Ya.”

“O, sore kemarin dia kemari, pamitan. Katanya hari ini mau balik ke dayah-nya.”

Dug.. Jantungku berdetak. Pamitan? Dayah? Apakah dia…

“Kenapa Bang?” kelihatannya pelayan itu menyadari kebingunganku.

“Eh… anu… maksudnya pamitan…?”

“Iya, dia anak kepala kampung sini, sekarang sedang belajar di Pesantren Aceh Utara. Dia memang langganan kantin ini sejak masih SMP. Kenapa Bang?” pelayan itu balik bertanya.

“Tidak, cuma tanya. Abang tahu namanya?”

“Ehem… tidak salah lagi, Abang pasti kecantol seperti yang lain. Gadis secantik itu memang banyak yang naksir, tapi sepertinya, dia bukan tipe orang yang suka pacaran.”

Mendengarnya mukaku merah. Aku tak tahu rasa apa yang melandaku saat itu sehingga mebuat mukaku memerah. Aku hanya bisa diam.

“Namanya Purnama, secantik orangnya,” pelayan itu melanjutkan. “Maaf Bang, saya ke belakang dulu, masih ada pekerjaan,” katanya lagi.

Sebenarnya bukan aku tak mendengar pamit dari pelayan kantin itu, ada sesuatu yang mengganjal tenggorokan sehingga aku hanya bisa mengangguk. Sesuatu melintas di benakku, “Purnama?” Nama yang indah, persis wajahnya. Bukan, bukan itu maksudku. Nama itu jika diubah akan menjadi nama seseorang yang indah, yang pernah kupuja-puja ketika sekolah dulu. Ya, sebuah nama pujaan. Coba saja, N dinamanya itu diposisikan pada huruf P awal itu, dan A tengah namanya didellete, pasti akan menjadi NURMA. Ketika nama Purnama dapat berubah jadi Nurma, pantaslah mereka mempunyai kemiripan. Aku terus memainkan hayalku dengan nama, wajah, dan sebagainya milik jilbaber itu, membandingkan dengan teman sekolahku.

Sayang aku tak dapat mengenalnya, dia keburu pergi. Terlalu cepat ia berlalu, tanpa dapat kurasakan bagaimana menjadi temannya. Purnama yang bersinar siang itu terlalu mencintai malam. Ah, biarlah, pikirku. Bukankah suatu keberuntungan bisa menjadi pemuja rahasianya. Paling tidak rasa kerinduanku terhadap Nurma sedikit terobati. Salahku sendiri, mengapa tak kutegur ia sedari kemarin. Atau memang aku digariskan bertemu dengannya bukan buat menjadi sahabat. Bukankah semuanya telah ada yang mengatur.

“Selamat jalan gadis misterius. Selamat jalan Nurma kemiripan. Selamat jalan Purnama. Seandainya kau kembali ke kota ini, aku kan menantimu untuk dapatkan senyum itu. Senyum yang selalu menghantar tidurku.” Sebaris kalimat itu menghias halaman terakhir diary-ku hari ini.

Banda Aceh 2005,  2006

 [Cerpen ini sudah dimuat di Medan Bisnis pada 2009. Namun, saya kehilangan klipingnya dan tidak memiliki link. Ini merupakan bentuk aslinya]

Iklan

Filed under: Cerpen

2 Responses

  1. aneukjambo berkata:

    Aneuk Jambo bersenang.
    Ku kheim sigoe Bang beuh. Hahahahahaha
    Kudapat sudah jawaban pertanyaanku padamu beberapa bulan lalu.

    yayaya.. Luar biasa. Inspiratif tat bang.
    “Rinduku padamu kucoba
    tuangkan dalam sebaris doa.
    Sebagai penawa kala rindu
    menjelma”. (itu statusku di facebook beberapa hari lalu).

  2. Gemasastrin PBSID berkata:

    Luar biasa penelusuran Tgk. Tasqa. hahaha.. nyoe cuma cerpen 🙂

    RN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: