Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Gelisah Negeri Emas

oleh Herman RN

Aceh sebagai Serambi Mekkah, Tanah Rencong, Tanah Iskandar Muda, Bumi Syariat Islam, dan lain-lain adalah gelar yang sudah familiar. Kali ini sebut saja gelar baru untuk Aceh. Pertama, Aceh adalah Negeri Tambang. Kedua, ini lebih spesifik yaitu Aceh Negeri Emas.

Kali ini cerita kita tentang Aceh negeri Emas yang penghuninya harap-harap cemas. Sangking kayanya Aceh dengan emas, berbeko-beko, kalau perlu menggunakan pesawat, batu-batu emas Aceh diangkut ke luar. Bukan persoalan larangan, karena kalau dipertimbangkan, Aceh memang kurang sumberdaya ahli pertambangan sehingga masuknya ‘pemain tambang’ dari luar ke Aceh pun menjadi sebuah keniscayaan. Kalaupun Aceh punya orang yang paham tentang tambang, ia lebih suka jadi ‘kaki tangan’ pemian tambang dari luar, dengan alasan bahwa orang luar yang disebut-sebut investor itu lebih kaya dari orang Aceh, walau Aceh digelari sebagai daerah kaya. Kekayaan Aceh mungkin sudah diniscayakan untuk orang masuk.

Waduh, kok jadi menyentil pertambangkan. Baiklah, alur cerita kita kembalikan ke emas. Kemarin, di media terbitan Aceh diberitakan bahwa harga emas menjangkau rekor tertinggi, lebih dari Rp1,8 juta per mayam.

Angka ini jelas saja menjadi gelisah tersendiri bagi anak muda-anak muda Aceh, terutama yang masih lajang ditambah tidak memiliki penghasilan besar seperti penghasilan orang-orang yang bekerja di pertambangan.

Awal dan akhir kegelisahan tersebut menyangkut pernikahan, sebuah akad keabadian dan merupahan titah Tuhan. Cerita demi cerita pemuda lajang mulai mengeluh. Di jejaring sosial serupa facebook dan twitter, bertebaran status wall yang menghujat harga emas. Sebuah keanehan, Aceh negeri emas, tapi orang-orangnya sangat ‘takut’ dengan emas.

Entah bagaimana mengusulkan agar mahar pernikahan digantikan, jangan lagi emas—misalnya boleh ganja, kopi, atau sepeda motor, karena orang Aceh lebih sanggup membeli sepeda motor daripada emas. Pasalnya, emas sudah menjadi kebudayaan di Aceh dalam mengukur nilai perdagangan, termasuk perkara pernikahan.

Ah, gelisah Aceh semakin banyak saja. Dulu gelisah konflik, lalu gelisah laut mencabik-cabik, kemudian gelisah syariat yang diperdagangkan. Belum berakhir gelisah ulah pertambangan, kini para lajang dihantui dengan gelisah emas yang menjadi ‘maop’ bagi sebuah tali pernikahan. Entah iya. Homhai..hehehe… [Herman RN]

Iklan

Filed under: Haba-haba

One Response

  1. ikkha berkata:

    :):D;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: