Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Menikah Dulu, Lalu Cerai?

Catatan Herman RN

“Kecantikan dapat menjadi salah satu hal yang menjadi alasan mengapa perempuan dinikahi, tapi ketinggian iman merupakan pilihan yang paling menyelamatkan.”

Sebaris kalimat itu sangat menggugah hati saya. Kalimat yang saya perolah pada http://www.fimadani.com itu terangkum dalam artikel Mengapa Zubair bin Awwam Menceraikan Asma binti Abu Bakar. Ada banyak ibrah yang dapat dipetik dari artikel tersebut. Antara lain sepenggal kalimat padat yang saya kutip di awal warkah ini. Ungkapan tersebut semakin mempertegas hadis nabi saw. tentang empat hal yang harus dipilih dalam menikah, tetapi mengutamakan yang keempat, yakni agama.

Terlepas dari artikel sangat menggugah itu, menikah dan bercerai adalah hal lazim terjadi di belahan mana saja di dunia ini. Cerai kerap melanda rumah tangga yang tidak harmonis. Artinya, rupa bukan semata-mata penyebab perceraian terjadi. Oleh karena itu, memahami karakter satu sama lain selama ta’aruf adalah sebuah keniscayaan.

Sering terjadi semasa masih proses pendekatan—anak gaul menyebutnya “pacaran”—yang diperlihatkan satu sama lain hanya sikap yang baik-baik saja. Baik perempuan maupun lelaki, sama-sama berusaha menutupi karakter jeleknya di depan orang yang ia sayangi.

Ada juga yang suka melakukan dan berpenampilan apa adanya. Tidak peduli di hadapan siapa. Namun, orang seperti ini kerap mendapat protes dari calon pasangannya. Katakanlah seorang lelaki yang berpakaian seadanya, tidak suka bersolek, dan merapikan rambut seadanya pula. Si perempuan yang tidak bisa menahan emosi akan kerap memberikan saran kepada si lelaki. Lambat laun, si perempuan tidak menyadari telah mengatur hidup si lelaki padahal belum jadi suaminya. Hal seperti ini memudakan proses pendekatan antara mereka segera berakhir. Tentu saja berakhir pada masa proses pendekatan lebih baik tinimbang berakhir di saat sudah menikah.

Belajar Kearifan

Sebenarnya, mencegah perceraian itu dapat dilakukan dengan belajar kearifan lokal. Perempuan dan laki harus dapat memposisikan dirinya masing-masing. Dalam kehidupan rumah tangga, betapa pun yang terjadi, suami adalah kepala keluarga. Ironis, banyak perempuan masa kini, terutama mereka yang mengaku pejuang gender, tidak dapat menerimanya.

Jika mau membaca sejarah pada masa rasul, seorang istri tidak dapat pulang menjenguk ayahnya demi sang suami, ternyata dijamin syurga. Alkisah, ayah si perempuan sakit. Utusan dari sang ayah menemui perempuan tersebut. Si perempuan tidak mau pulang ke rumah orangtuanya karena tidak ada izin dari suami. Sang suami sedang tidak di rumah. Beberapa hari kemudian, utusan sang ayah datang lagi mengabarkan kalau ayah si perempuan sudah sakit keras. Si perempuan tetap tidak keluar dari rumahnya karena belum ada izin suami. Demikian tatkala ayahnya kronis lalu meninggal dunia. Si perempuan tetap tidak kelua dari rumannya karena belum ada izin suami. Si perempuan hanya dapat duduk dan menitikkan air mata mendokan ayahnya. Disebutkan bahwa perempuan itu dijamin syurga karena mematuhi amanah suami yang berpesan “Jangan keluar rumah sebelum aku pulang.”

Betapa mulianya perempuan tersebut. Meskipun hadis rasul menegaskan bahwa “Ridha Allah berada setelah ridha orangtua” nyatanya syurga sang istri adalah di bawah telapak kaki suami. Meski demikian, tentu saja sang lelaki tidak boleh memanfaatkan hal ini untuk menguasai istrinya. Karena banyak pula hadis dan kearifan lain yang menyebutkan sosok suami semestinya menjadi imam dalam rumah tangganya.

Artinya, istri dan suami itu diatur seimbang, sama rata pada posisi masing-masing. Hadih maja Aceh menukilnya dalam “Paléh inöng jiteumanyoeng ‘oh jiwo lakoe; paléh lakoe peusoh kuah bileung asoe.”

Secara sederhana, hadih maja tersebut mengajarkan kearifan menjadi suami dan istri. Kewajiban istri adalah mendampingi suami dalam senang dan susah. Tatkala suami pulang mencari rejeki, sudah seharusnya senyum dan segelas air putih yang disuguhkan, meskipun suami tidak membawa apa-apa. Celakalah seorang istri yang menyambut kepulangan suami dengan beribu pertanyaan dan laporan bahwa beras sudah mau habis, cabai tidak ada lagi, minyak sudah kering, dll.

Demikian sang suami, kewajibannya memberi nafkah lahir batin, bukan mengatur soal dapur. Di dapur, presidennya adalah istri. Istri lebih tahu harga barang-barang dapur. Suami jangan mengatur soal dapur semisal harus masak ikan kuah dua potong, ikan goreng dua potong, dsb. Celakalah suami yang suka menghitung-hitung potongan ikan di dapur, banyaknya butir garam, dan jumlah siung bawang.

Sungguh, posisi yang seimbang sudah diatur dalam Islam. Kearifan Aceh menegaskannya dalam bentuk hadih maja. Bukan keharusan bagi perempuan membentuk lelaki seperti robot, demikian sebaliknya. Saling pengertian dan berusaha memahami adalah obat rukun di rumah tangga. Wajah hanya modal berikutnya. Keimananlah yang sesungguhnya modal hidup rukun tanpa cerai.

Darussalam, 19 Februari 2012

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: