Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Mengungkit Kongres Bahasa Aceh

oleh Herman RN

KONGRES bahasa merupakan suatu jalan penguatan terhadap sebuah bahasa. Karenanya, kongres bahasa tidak hanya mesti dilakukan pada jenjang nasional. Tingkat daerah juga penting. Bukankah bahasa daerah dalam kedudukannya berfungsi sebagai penguatan bahasa nasional, selain pendorong budaya nasional? Bahkan, secara umum bahasa sebagai identitas telah memposisikan penutur yang menghormati, menjaga, melestarikan, dan merawat bahasanya berarti menjunjung tinggi identitas diri, daerah, dan bangsanya.

Rasa peduli terhadap bahasa daerah itu dapat diawali dengan keresahan. Hal ini seperti terlihat pada sejumlah media lokal terbitan Aceh. Banyak orang menyatakan resah pada kondisi bahasa Aceh kini. Salah satu sebab, mudahnya terjadi pencampur-adukan bahasa Aceh dengan bahasa Indoneisa bahkan bahasa asing. Selain itu, terkadang orang Aceh yang lahir di Aceh, lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia dalam bertutur sehari-seari tinimbang bahasa Aceh.

Tak urung, orang kemudian saling menyalahkan. Dalam hal ini, pemerintah lebih kerap dipersalahkan. Ada kesan, Pemerintah Aceh kurang peduli terhadap keberlangsungan bahasa Aceh.

Tudingan ini tidak dapat disangkal. Sejak periode Irwandi-Nazar berkuasa, apa yang sudah mereka lakukan untuk menjaga kelestarian bahasa Aceh? Kendati secara hak dan wewenang dengan hadirnya UUPA, Aceh memiliki peluang dari segala bidang, kenyataan tidak ada kebijakan Pemerintah Aceh kala itu terkait kelangsungan bahasa Aceh.

Pernah memang digelar kongres bahasa Aceh oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh pada 2007 lalu. Sayangnya, karena komitmen yang kurang, mungkin sekadar menghabiskan anggaran, tidak ada tindak-lanjut dari kongres yang digelar di Anjong Mon Mata tersebut. Entah rekomendasi apa yang dihasilkan dalam seminar hampir seminggu itu, publik tidak pernah tahu. Hal ini mengesankan bahwa apa yang telah dilakukan oleh pemerintah melalui dinasnya kala itu sama sekali tidak serius, sekadar ada kegiatan, persis tuntutan seremoni belaka.

 

Mengungkit Kongres

Uniknya lagi, orang-orang yang dianggap pakar untuk berbicara dalam forum itu masih simpang siur pemahaman. Ada pemakalah yang membuat makalahnya dengan bahasa Aceh, ada pula dengan bahasa daerah masing-masing. Hal ini jelas karena tidak adanya kepahaman bersama dan ketegasan dari pihak penyelenggara, apakah yang digelar tersebut kongres bahasa Aceh atau kongres bahasa daerah Aceh?

Secara konsep, bahasa Aceh dan bahasa daerah Aceh jelas beda. Bahasa Aceh adalah satu di antara bahasa daerah yang berada di Aceh. Akan tetapi, tidak semua bahasa daerah di Aceh adalah bahasa Aceh. Oleh karena itu, kalaupun yang digelar adalah kongres bahasa daerah Aceh, tidak mesti makalah ditulis dalam bahasa daerah masing-masing, karena masyarakat Aceh heterogen.

Demikian seterusnya, meskipun yang digelar adalah kongres bahasa Aceh, bukan berati bahasa pengantar dalam makalah tersebut harus bahasa Aceh. Boleh jadi pengantarnya bahasa Indonesia atau bahasa Melayu, tetapi kasus dan contoh yang diangkatlah yang harus menggunakan bahasa Aceh. Adapun rekomendasi yang dihasilkan dalam kongres seharusnya dipublikasi oleh pihak penyelenggara. Publikasi tersebut boleh jadi dalam bentuk buku atau sekadar selebaran dan sejenisnya.

 

Biarkan Mengalir

Sekali lagi, kongres bahasa itu perlu. Namun, kongres bukan berarti pemaksaan standardisasi mesti sesuai daerah tertentu. Selama ini, terkesan bahwa bahasa Aceh yang standar hanyalah bahasa Aceh dialek tertentu sehingga dialek dari daerah lain disebut-sebut masih kasar, sumbang, dan sebagainya.

Patut diketahui bahwa tidak ada bahasa di dunia ini yang sempurna. Dalam bahasa Inggris saja masih terdapat adopsi dan transfer bahasa lain, misalkan durian, rambutan, bamboo, yang diambil dari kosa kata bahasa Melayu (Indonesia). Tentu saja kecenderungan transfer bahasa juga terjadi dalam bahasa daerah, termasuk bahasa Aceh.      Penting dicermati agar transfer bahasa tidak merambah ke arah interferensi, bukan hanya mendebatkan bahasa Aceh belahan utara lebih baik daripada bahasa Aceh dari daerah lainnya.

Bahasa Aceh sebagai bahasa daerah di Aceh yang digunakan oleh penutur di berbagai tempat yang ada di Aceh tentu saja memiliki dialek bahkan subdialek, sama seperti bahasa lain di dunia. Karenanya, persoalan dialek tidak mesti didebatkan. Biarkan saja pengajaran bahasa Aceh di Aceh Besar menggunakan dialek Aceh Besar. Selanjutnya, pembelajaran bahasa Aceh di Aceh Barat biarkan saja digunakan dialek Aceh Barat, di Aceh Selatan digunakan dialek Aceh Selatan, di Aceh Utara digunakan dialek Aceh Utara atau dialek Peusangan, dan seterusnya. Jangan dipaksakan bahwa dialek daerah tertentulah yang lebih sempurna sehingga dipaksakan harus menggunakan dialek tersebut dalam pembelajaran bahasa Aceh pada semua sekolah di Aceh.

Jika standardisasi yang dimaksudkan oleh para penggelisah yang telah menulis di media adalah dalam bentuk tulis, saya sangat mendukung. Akan tetapi, standardisasi tidak berlaku dalam bahasa tutur, selain soal di daerah mana dan kepada siapa bahasa Aceh itu diajarkan. Maka, dalam bahasa tutur, biarkan saja bahasa Aceh seperti air, mengalir ke muara yang disuka. Tak perlu dijadikan pemeo apalagi saling ejek dan menjatuhkan dialek lain, sedangkan kita menggunakan bahasa yang sama, yakni bahasa Aceh.

 

 

Herman RN, alumni Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah.

Iklan

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: