Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Biak Teater Aceh

Oleh HERMAN RN

[atjehtimes, edisi II 2012]

RUANGAN itu temaram. Hanya menyala beberapa lampu dengan watt kecil di bagian langi-langit. Selebihnya, tidak sampai 10 buah lampu sorot mengarah ke bagian panggung dalam ruang Taman Budaya Aceh tersebut.

Tiba-tiba suara gaduh menggema. Ada suara bedil, jeritan anak-anak dan perempuan dewasa, juga teriakan “serbu..serang..” seperti dari radio rusak. Dalam hitungan menit, sebuah siluet kemudian muncul dari bagian tengah panggung. Siluet dengan menggunakan alat tekologi infokus tersebut menampilkan suasana perang Aceh melawan Belanda, tepatnya di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah.

Malam itu adalah pementasan teater Mustika Art Intertaiment. Mereka mempertunjukkan kisah peperangan di Kuto Reh, Gayo, yang terjadi sekitaran tahun 1904. Suasana perang melawan kaphe Belanda masa silam diangkat ke atas panggung. Pertunjukan tersebut dalam rangkan “Pentas Seni” tahunan yang digelar oleh Taman Budaya.

Tahun lalu, pertunjukan keseniannya lebih banyak, sampai pada kesenian tradisi. Teater konvensional hanya ada satu waktu itu. Namun, tahun ini, ada dua kelompok teater yang ‘manggung’. Selain teater Mustika Art Intertainment, ada Komedi Ampon Yan dengan judul “Linto Manyak.”

Pertunjukan teater Mustika Selasa 5 Juni, malam itu disutradarai langsung oleh Mustika Permana, seorang pekerja teater di Banda Aceh. Ia berasal dari Pulau Jawa, Jakarta. Sempat meniti karir seni pertunjukan di Teater Satu Merah Panggung, kemampuan Mustika dalam dunia perteateran di Aceh tentu tidak diragukan. Apalagi, ia juga pernah belajar teater pada budayawan besar seperti W.S. Rendra dan Putu Wijaya.

Oleh karenanya, miris sekali mecermati pementasan “Kuto Reh, Gajo” yang ditampilkan Mustika malam itu. Pertunjukan tersebut tidak lebih sekadar sebuah pemenuhan hasrat seremonial tahunan. Tak ada suatu proses garapan yang baru, kecuali usaha dan upaya merealismekan kondisi panggung seperti hutan sebenarnya. Hal ini terlihat dengan pagar kayu pada kiri kanan panggung, di samping beberapa potong dahan yang bergelimpangan.

Sayangnya, tak jelas hutan itu markas siapa atau belantara mana. Adegan Mala (anak) bersama Ine (ibu) dan ama (ayah) berlangsung di ‘hutan’tersebut. Peperangan pun dilangsungkan di tempat yang sama. Akhir cerita ditutup dengan kehadiran seorang anak kecil yang dekil, juga di latar tempat yang sama. Akibatnya, tidak ada kekuatan spektakel aktor yang didukung oleh ruang dan waktu.

Jalan cerita pun mudah ditebak. Seorang ayah (ama) pergi berperang, lalu gugur di medan tempur. Di sini, penonton sudah dapat menebak bahwa Mala sebagai anak satu-satunya akan menuntut balas kematian ayah. Model cerita ini biasa ‘digarap’ oleh teater siswa atau paling tidak  tingkatan mahasiswa.

Kondisi di Aceh

Apa boleh buat, teater di Aceh memang seperti kerakap di atas batu. Keseriusan pertunjukan teater di Aceh harus dipertanyakan. Kebanyakan kelompok teater sekarang muncul seperti seremoni tari-tarian. Jika dipesan, lahirlah garapan. Makala tak ada pesanan, pelaku dan pekerja teater pun hanya diam.

Pekerja teater tidak sepenuhnya harus dipersalahkan. Sebagai seniman pertunjukan, mereka hidup dari atas panggung. Minimnya perhatian pemerintah terhadap kesenian teater, memaksa pekerja teater mencari celah untuk periuk nasinya. Dunia panggung jadi predikat kedua. Inilah masalah yang menjadikan teater muncul tidak lagi sebagai sebuah kesenian sesungguhnya, melainkan seremoni permintaan.

Kalau sudah begini, pesan-pesan sponsor yang mendukung pertunjukan tidak dapat dinafikan dari jalan cerita. Hal ini kental terlihat pada teater komedi Ampon Yan “Linto Manyak” yang dipentaskan pada petang Kamis 7 Juni 2012 oleh Teater Kosong. Pementasan “Linto Manyak” mestinya semalam seusai “Kuto Reh, Gajo”. Namun, karena kondisi hujan badai dan matinya aliran listrik di Taman Budaya Aceh, komedi Ampon Yan tersebut terpaksa digeser petang esoknya.

Halnya teater Mustika, cerita komedi Ampon Yan pun sangat mudah ditebak. Cerita dibuka dengan sosok Pak Win. Sosok ini dulunya diisi oleh Sudin. Alur kihsa kemudian sampai pada soal akan mengawinkan anak, rumah pelacuran, dan rumah sakit. Dengan gaya dan garapan naskah “Yang Toe-toe” dan “Ramah Sakit” tentu saja adegan rumah pelacuran dan rumah sakit pada naskah “Linto Manyak” malam itu sudah dapat ditebak. Tidak dinafikan, karena cerita dan sutradaranya memang Ampon Ayan sendiri bernama asli Teuku Januarsyah.

Sekali lagi, Ampon Yan, Mustika, maupun pekerja teater lainnya tidak sepenuhnya salah menampilkan ‘teater pesanan’. Mereka lakukan itu karena memang keinginan sponsor. Taman Budaya sebagai pemangku mandat menyelenggarakan acara tahunan tersebut ternyata tidak paham sungguh teater sebenarnya. Mau tidak mau, dengan kondisi alakadar, Mustika Art Entertainment dan Ampon Yan sudah mencoba melakukan sesuatu terhadap dunia perteateran tahun ini. Paling tidak, mereka sudah memberikan pendidikan: begini lho teater itu sebenarnya, ada panggung, ada artis/aktor, ada properti, ada penata lampu, dan juga pemusik, jangan yang diperhitungkan hanya artisnya saja.

Sebelum Tsunami

Tak usah terlalu jauh melemparkan ingatan, cukup di tahun 2000-an atau beberapa tahun sebelum ie beuna melanda Aceh. Mari mengingat masa-masa itu, masa-masa Maskirbi dengan Teater Mata-nya, masa-masa A.A Manggeng masih di dunia dan masih gemar ke Taman Budaya, juga masa sehatnya Yun Casalona dengan teater Kuala, pun masa hidup Djunaidi Jacob dengan teater Bola. Masa-masa mereka, teater di Taman Budaya hidup dan berkembang.

Maskirbi menulis dan menggarap naskah tidak menanti pesanan. Ia bersama teman-temannya selalu berusaha memberikan pertunjukan teater sesungguhnya. Setiap minggu ada jadwal latihan harian, setiap bulan ada jadwal mingguan. Namun, pasca-perginya Maskirbi bersama laut surut, Teater Mata “mati” dengan orang-orang yang dulu bersama Maskirbi pun sudah berpencar satu sama lain.

Teater Bola sama sekali “punah” setelah Jacob tiada. Mungkin saja, Teater Mata akan hilang juga melihat anak didikan Maskirbi sekarang sudah saling menentukan jalan masing-masing. Padahal, dulu itu, hampir setiap sore ada diskusi mengenai teater. Kekompakan antarkelompok teater pun sangat kuat. Jika hari ini yang tampil adalah teater X, semua kelompok teater lain membantu semisal di bagian panggung dan artistik. Masa itu, teater hidup karena senimannya. Sekarang, teater hidup menunggu uluran tangan.

Akibatnya, seperti penampilan Teater Kosong dalam komedi Ampon Yan petang Kamis itu. Sekadar ada di atas panggung dan memenuhi pesanan sponsor, cukup. Dari sisi cerita, hanya perubahan pada topik yang dibicarakan, sedangkan alur dan gaya, masih seperti naskah komedi Ampon Yan yang lain.

Jika mau mengingat lebih jauh sedikit, skitar era ‘70-‘90-an, di Bireuen (dulu masih Aceh Utara) hidup kelompok Geulanggang Labu, Sinar Jempa, Jeumpa Aceh, Sinar Harapan. Mereka adalah kelompok sandiwara Aceh. Artinya, mereka kelompok teater yang patut dikenang untuk memotivasi pekerja teater Aceh masa sekarang. Lebih jauh lagi, mari mengingat masa Jepang mundur dari Indonesia atau menjelang konflik DI/TII, skitar 1950-an. Ketika itu ada kelompok sandiwara bernama “Sinar Desa” dari Geulanggang Labu, sekira 10 kilometer dari Kecamatan Peusangan, Matangglumpangdua, Bireuen. Kelompok ini digagas oleh seorang mantan tentara, Ahmad Harun. Mereka berkeliling kampung memainkan teater tradisi Aceh. Hal berkaitan dengan pementasan seperti panggung, properti, dan kelengkapan lainnya diambil dari pinjaman gotong royong anggota. Alat penerang masih menggunakan lampu petromax. Tercatat beberapa karya Harun yang pernah dipentaskan dan dikenal baik oleh khalayak: cre karna ma, aneuk tiri, dan korban fitnah.

Di Aceh pernah pula ada teater Dalupa, yakni sebuah teater tradisi. Artinya, teater di Aceh bukan kesenian yang hidup kemarin petang. Miris sekali rasanya jika pemerintah tidak peduli terhadap genre kesenian ini. Padahal, dengan teater segalanya dapat disampaikan. Aksi kampanye calon gubenur dan wakilnya di atas panggung pun seseungguhnya adalah sebuah teater. Di sana mereka akting tentang janji-janji politik. Di bawah pangung, ada penonton, yang tertawa, tersenyum, dan kadang memaki.

Demikian pula pekerja teater, tidak perlu menanti uluran tangan pemerintah, karena teater bisa melakukan apa pun, di mana pun, dan kapan pun. Maka, bangkitlah teater Aceh!

Iklan

Filed under: Essay

One Response

  1. Muhammad Yusuf berkata:

    asw..
    maaf bang numpang tanya.. kalau istilah atau nama untuk teater / pertunjukan drama di aceh apa ya bang ?
    terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: