Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Tan Malaka Inisiasi Pemberontakan 3 Juli

oleh Herman RN

SETAHUN Republik Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, sekelompok oposisi mengadakan kudeta terhadap pemerintahan Soekarno beserta kabinetnya. Kudeta tersebut bermaksud merebut kekuasaan. Kelompok oposisi ini menamakan diri Kelompok Persatuan Perjuangan.

Pasalnya, Kabinet Sjahrir II yang ditetapkan oleh Soekarno dinilai tidak memihak pada khalayak Indonesia. Tatkala kelompok Persatuan Perjuangan menginginkan kedaulatan penuh dari Belanda, Kabinet Sjahrir hanya memikirkan kedaulatan Jawa dan Madura.

Kelompok oposisi ini kemudian berusaha menculik beberapa orang kabinet Sjahrir II. Mereka yang termasuk dalam kelompok perjuangan antara lain Tan Malaka, Achmad Soebardjo, dan Sukarni. Untuk melancarkan aksi penculikan, kelompok ini menggunakan jasa Mayor Jendral Sudarsono.

Pada 3 Juli 1946, beberapa anggota Kabinet Sjahrir II yang sudah diculik kemudian dikembalikan ke hadapan Soekarno. Kelompok oposisi kemudian mengajukan empat maklumat untuk Pemerintah Indonesia, di antaranya presiden harus mengangkat 10 anggota Dewan Pimpinan Politik yang diketuai Tan Malaka dan beranggotakan Muhammad Yamin, Ahmad Subarjo, Buntaran Martoatmodjo, Budiarto Martoatmodjo, Sukarni, Chaerul Saleh, Sudiro, Gatot, dan Iwa Kusuma Sumantri.

Sayangnya, tidak satu pun maklumat itu dipatuhi oleh Soekarno. Sebaliknya, Soekarno memerintahkan aparat untuk menangkap para pejuang oposisi tersebut. Tan Malaka dan teman-temannya ditangkap hari ini juga, 3 Juli 1946. Tan Mala dipenjara oleh pemerintahan Soekarno selama dua tahun, tanpa pengadilan sekali pun.

Pada Februari 1949, Tan Malaka hilang tak tentu rimba, mati tak tahu kuburnya. Kematian Tan Malaka di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Namun, misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Untuk diketahui, Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia. Secara tak henti-hentinya ia terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan sosialis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia adalah seorang pahlawan bangsa yang dikubur oleh penguas bangsa: Soekarno![]

Iklan

Filed under: Memory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: