Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Kontroversi Islam Protestan

oleh HERMAN RN

[publikasi di Atjeh Times, edisi II]

…Seorang peserta sempat bertanya, berapa lama sudah Fuad menyebarkan Islam Protestan di Aceh dan berapa orang sudah pengikutnya?

RUANGAN itu tidak lebih besar dari setengah lapangan voli. Kursi dan meja di dalamnya disusun membentuk liter U berlapis dua. Di dinding sebelah selatan, memantulkan sejumlah slide berisi pemikiran dan wacana tentang “Islam Protestan”.

Seorang lelaki berusia lebih setengah abad duduk berhadap lurus dengan dinding sebelah selatan. Sembari menatap laptop di hadapannya, lelaki itu mempresentasikan slide demi slide dengan tenang. Beberapa istilah filsafat dan keagamaan meluncur dari bibirnya yang berkumis.

“Perbedaan seharusnya menjadi sesuatu yang bisa dihargai sebagai hasanah dialektika sosial. Ijtihad perlu terus didorong. Agama mesti menjadi ruh dari segala ijtihad atau pencarian,” ujarnya.

Lelaki itu bernama Fuad Mardhatillah UY Tiba. Ia sempat menjabat deputi kebudayaan pada Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. Saat ini, Fuad masih tercatat sebagai dosen pada Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry Banda Aceh.

Hari itu Jumat 15 Juni 2012. Sekitar pukul 16.30 WIB sedang berlangsung diskusi publik dalam sebuah ruangan milik lembaga riset International Centre for Aceh and Ocean Studies (ICAIOS) di Darussalam, Banda Aceh. Diskusi yang digelar oleh Kelompok Studi Darussalam (KSD) bekerja sama dengan ICAIOS itu mengangkat topik “Islam Protestan” dengan pembicara tunggal Fuad Mardhatillah.

Sebelumnya, Fuad sudah pernah melemparkan wacana “Islam Protestan” ke publik lewat sebuah artikel populer. Artikel dengan judul “Islam Protestan” tersebut dimuat dalam Jurnal Kebudayaan Gelombang Baru yang diterbitkan oleh Komunitas Tikar Pandan.

Dalam diskusi selepas asar itu, Fuad mencoba memaparkan kembali keresahannya di hadapan peserta yang kurang lebih 30-an, terdiri atas lelaki dan perempuan dewasa. Para peserta hadir dari berbagai unsur, mahasiswa, guru, aktivis, termasuk dari unsur Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh.

Mulanya, diskusi berlangsung khidmad. Namun, saat Teuku Jafar Sulaiman sebagai moderator membuka sesi pertanyaan, ruangan mulai terdengar gaduh. Sesi pertama yang direncanakan moderator hanya tiga orang penanya berubah menjadi enam. Dalam perjalanannya kemudian, yang bertanya sudah lebih dari enam. Bahkan, tanya jawab tidak lagi memandang sesi. Setiap orang mulai bicara, semua peserta mulai bertanya, segenap yang hadir mulai berkomentar.

“Ya sudah, kita berikan kesempatan semua orang untuk bicara, tapi singkat, padat, mengingat waktu,” ujar Jafar yang tidak mampu menahan kehendak peserta untuk berkomentar.

Rata-rata pertanyaan berkutat pada judul “Islam Protestan” yang diusung Fuad. Hampir semua peserta tidak dapat menerima judul tersebut, dengan kesan ada Islam baru yakni “Islam Protestan”. Kendati Fuad sudah berusaha menjelaskan bahwa “Islam Protestan” dalam artikelnya sama sekali tidak berhubungan dengan agama, peserta tetap bersikeras agar Fuad mengubah judul tersebut.

Celoteh sejumlah peserta tidak dapat dihindari. Dalam bisik-bisik kecil beberapa peserta di barisan belakang, ada yang menyebutkan jangan-jangan Fuad sudah punya “pengikut”. Bahkan, seorang peserta sempat bertanya, berapa lama sudah Fuad menyebarkan Islam Protestan di Aceh dan berapa orang sudah pengikutnya?

“Mengapa ada nama “Islam Protestan”? Ini akan membingungkan umat. Dengan ijtihad saja semua persoalan bisa terjawab. Kalau ada perubahan dalam kehidupan Islam, pintu ijtihad selalu terbuka. Tidak perlu pakai nama protestan,” ujar Said Zuliza, peserta yang hadir atas nama Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh yang tidak setuju wacana dari Fuad.

Keluhan sama diutarakan Ridwan Ibrahim yang juga dari Dinas Syariat Islam Pemko Banda Aceh. “Kalau judulnya Islam Protestan, Islam yang mana yang diprotes? Saya sebagai orang Islam tersinggung dengan istilah Bang Fuad,” ucap lelaki yang mengaku dulunya sebagai teman Fuad Mardhatillah.

Peserta lainnya yang tidak kalah antusias, juga mempersoalkan istilah yang diwacanakan Fuad. “Dengan istilah Islam Protestan, seolah ada Islam lain yang diprotes,” ujar Muhammad Riza.

Irfiansyah dari ICAIOS turut mengemukakan pendapat. Namun, ia lebih mempersoalkan landasan ontologis dari akar kata protestan tersebut. “Saya rasa istilah yang digunakan oleh Pak Fuad belum ada landasan filosofisnya, ini yang harusnya digali,” ucap Irfiansyah.

Nuraini dari Pascasarjana IAIN Ar-Raniry menyebutkan hal yang tidak jauh beda. Menurut dia, istilah “Islam Protestan” yang diwacanakan Fuad bukan definisi secara normatif, melainkan realitas dalam kehidupan sosial umat Islam. Dari satu sisi, ia setuju dengan Fuad bahkan sempat menyanjung Fuad sebagai teman diskusi yang baik. Namun, di sisi lain, Nuraini keberatan dengan istilah “protestan”.

Nuraini dan beberapa peserta lain mengusulkan agar judul yang diwacanakan Fuad diganti saja semisal “Berislam dengan benar” atau “Amar Makruf Nahi Mungkar”.

Menurut Fauzi, peserta yang hadir atas nama Quran Institute, Fuad mewacanakan hal tersebut tidak lebih dari sebuah sensasi semata. “Tafsir ayat Alquran yang dipaparkan dia tadi itu berdasarkan pribadinya. Jangan berbuat aneh-anehlah. Memang kalau mau terkenal itu mudah, berbuat aneh-aneh saja. Kalau perlu kencingi saja air zamzam,” tutur Fauzi sembari mengutip pepatah Arab.

Menjawab itu, Fuad mengatakan bahwa ia bukan menafsirkan Alquran, melainkan hanya memaparkan isi hati dengan terinspirasi ayat Alquran. “Itu bukan tafsir, tapi inspirasi,” kata Fuad.

Fuad secara tegas menyebutkan bahwa pemilihan judul “Islam Protestan” hanya menyangkut marketing. Ia tidak menafikan bahwa judul yang kontroversial akan cepat dibaca orang. Ia sendiri tidak mau disebutkan punya pengikut seperti klaim salah seorang peserta.

“Saya ini hanya orang bodoh yang sedang belajar Islam. Saya juga salat, tapi saya tidak tahu apakah salat saya diterima atau tidak. Saya tidak pernah mengklaim bahwa saya yang benar. Saya banyak salah. Saya bodoh. Inilah refleksi seorang bodoh yang sedang belajar Islam. Bagi saya, yang maksum itu hanya nabi, mulai nabi Muhammad saw. sampai nabi-nabi yang lain,” tutur Fuad dengan suara bergetar.

Peserta lainnya, Muhammad Wali, mengatakan sebenarnya istilah protestan sudah muncul sejak 2007. “Istilah protestan ini dimunculkan oleh mereka golongan Islam liberal agar dapat hidup bebas,” kata Wali yang dulunya pernah sekantor dengan Fuad.

Fuad yang juga tercatat sebagai salah seorang peneliti pada lembaga The Aceh Institute, sudah menyadari sejak lama bahwa ia akan dihadapi banyak pertanyaan dengan istilah “Islam Protestan”. Ia juga mengaku tidak mau mengambil untung dari judul tersebut, meskipun disadarinya bahwa judul yang kontroversi akan lekas mendapatkan sambutan secara marketing.

“Dari dulu saya sudah yakin, ini pasti akan banyak diperdebatkan orang. Sayangnya, perdebatan hanya pada judul dan sampai sekarang masih berkutat pada judul. Karena itu, saya sarankan baca dulu artikel saya itu sehingga tidak perlu marah-marah,” ujarnya dengan suara bergetar.

Alumnus McGill University, Montreal, Canada itu menegaskan bahwa istilah “Protestan” yang diwanakannya sama sekali tidak ada kaitan dengan agama. Ia mengambil kata “protestan” terinspirasi dari istilah asing. Menurut Fuad, apa yang sedang dipaparkannya tidak jauh berbeda dengan maksud para peserta. “Hanya saja, kita beda bahasa dan cara penyampaian. Saya yakin kita berada pada perahu yang sama,” ucap Fuad.

 

Fauzi, peserta yang banyak berkomentar sejak dibuka sesi pertanyaan oleh moderator, langsung protes sebelum Fuad selesai bicara. “Kita jangan terpengaruh dengan istilah-istilah yang disampaikan dia,” kata Fauzi dengan lantang.

Akhirnya, diskusi tersebut ditutup oleh moderator sebelum selesai pledoi terakhir dari Fuad sebagai narasumber. Alasan lain moderator memadai diskusi tersebut juga karena sudah menjelang magrib ditambah suasana forum yang mulai kasak-kusuk.

Dalam kesempatan lain, Jafar yang bertindak sebagai moderator sekaligus panitia menyatakan istilah “Islam Protestan” hanya sebuah pemikiran untuk Islam. Pemikiran itu, kata dia, dikonstruksi sebagai bentuk diktum kritis yang bertujuan untuk melahirkan spirit perlawanan terhadap realitas kekinian yang hegemonik, monolitik, intoleran, despotik, dan dominasi yang berlebihan.

“Islam Protestan hanyalah sebuah pembahasan yang di dalamnya terkandung aspek-aspek ontologis dan epistemologis yang dapat dibedah. Inilah makna sebenarnya, bukan hanya berdebat pada kulit luar,” ujar Jafar.[]

Iklan

Filed under: Feature

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: