Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Riwayat Aceh di Masjid Indrapuri

Oleh HERMAN RN dan IKLILUDIN ARAS

BANGUNAN itu persegi empat sama sisi. Sekelilingnya dipagari tembok coklat tua. Sebelum masuk ke dalam area bangunan, ada sebuah pintu gerbang kecil di bagian timur. Lewat pintu yang hanya satu-satunya itulah, orang-orang masuk sembari menaiki beberapa anak tangga. Bentuknya khas, mirip candi. Namun, ia bukan candi.

Gedung itu di Indrapuri, Aceh Besar. Bangunan tersebut sudah ada di sana jauh sebelum ada kerajaan Islam Aceh. Menurut sejarahnya, bangunan yang berdiri di atas tanah lebih kurang setengah hektar itu dulunya adalah lokasi kerajaan Hindu. Didirikan sekitar abad 12 Masehi.

Saat Islam meyebar di Aceh, beberapa Muslim kemudian berdakwah di sana dan mengajak penduduk setempat memeluk Islam. Kejadiannya sekitar tahun 1300 Masehi. Tatkala penduduk setempat berhasil diajak masuk Islam, bangunan yang mulanya candi sekaligus kerajaan Hindu itu beralih fungsi menjadi rumah ibadah orang Islam.

“Masjid Indrapuri,” demikian orang-orang menyebutnya kini. Dalam sebuah literatur dikatakan bahwa perubahan candi menjadi masjid itu masa kerajaan Sultan Iskandar Muda. Namun, jika ditilik pada tahun pemerintahannya, Iskandar Muda berkuasa 1607-1636. Tentu saja angka ini berbeda dengan literatur awal yang menyebutkan candi itu menjadi masjid karena beberapa Muslim berdakwah di sana, sekitar 1300 Masehi.

Terlepas dari berbedanya literatur mencatat angka berdirinya—tidak ditemukan angka pasti–masjid ini memang penuh sejarah. Di masjid ini, Muhammad Daud Syah dilantik sebagai sultan Aceh yang terakhir (1874). Dari masjid ini pula, banyak ulama besar dan para pemikir Aceh muncul.

“Saat prosesi pelantikan Sultan Muhammad Daud Syah, disebutkan Indrapuri sebagai ibukota Kesultanan Aceh,” ujar Sulaiman.

Lelaki 68 tahun ini adalah Humas Masjid Indrapuri. Sembari mengitari dalam masjid, sesekali ia menunjuk ke atas. Bagian langit-langit masjid terlihat masih corak lama. Beberapa kayu saling silang di bagian atas untuk penyangga atap. Atapnya berbentuk limas tiga susun. Secara keseluruhan, bangunan itu ditopang 36 tiang kayu, masing-masing 6 tiang dalam bentuk berjajar. Jarak antara tiang sekitar dua saf.

“Kayu-kayu ini konon diambil di perbukitan gle raya. Sebelum direnovasi, atapnya masih rumbia. Atap ini baru diganti seng saat renovasi, sekitar tahun 1988,” ujar Sulaiman.

Ia menuturkan, kendati sudah mulai direnovasi, corak dasar masjid itu tidak diubah. Hal ini karena masjid tersebut termasuk sebagai salah satu cagar budaya di Aceh. Sebagai situs sejarah dan situs budaya, tambah Sulaiman, masjid ini sering dikunjungi. Pada hari-hari tertentu, pengunjung datang terkadang untuk melepaskan nazar.

Masih menurut Sulaiman, tahun-tahun sebelumnya, masjid ini masuk dalam tujuan safari Ramadan rombongan pemerintah, baik pemerintah proovinsi maupun kabupaten. Dari sisi letak, masjid ini memang sedikit menguntungkan pengunjung, karena lokasinya tidak jauh dari pasar Indrapuri.

Sebagai peninggalan Hindu, masjid ini memiliki corak berbeda dengan umumnya masjid-masjid lain. Pondasinya saja mencapai 1,48 meter. Bentuk bangunannya persegi empat atau bujur sangkar. Luas bangunan itu 18,80 meter kuadrat. Tingginya 11,65 meter. Pintu gerbangnya di sebelah timur. Setelah gerbang kecil itu, orang harus berjalan seperti melewati pelataran. Demikian luasnya halaman masjid ini.

Pada tingkatan halaman kedua, terdapat penampungan air hujan. Gunanya untuk mensucikan diri. Halaman kedua ini sekitar 10 meter, yang dibuat mengeliling masjid. Sekilas, bentuk bangunan ini khas perpaduan masjid dan benteng, sekaligus bercorak candi. Sebagai masjid, tentu saja bangunan ini memiliki kubah. Hanya saja, kubahnya dibuat bersusun lima. Di samping kanan bangunan terdapat satu menara.

Pada bagian dalam masjid terdapat satu mimbar, yang biasa digunakan khatib ketika menyampaikan khutbah Jumat. Untuk naik mimbar ini, harus menginjak tiga anak tangga, yang masing-masing luasnya setapak kaki orang dewasa.

“Setahu saya, pengelola masjid ini pertama sekali oleh Teungku Syiah Kuala, skitar tahun 1600 Masehi,” tutur Sulaiman.

Ia kemudian menyebutkan beberapa nama pengurus masjid Indrapuri masa lampau, yang masih ia ingat. “Setelah Syiah Kuala, masjid ini dipegang oleh Teungku Chik Eumpe Trieng yakni masa Panglima Polem. Selanjutnya diwariskan kepada cucu Panglima Polem, Teungku Wahab.”

Terakhir, kata Sulaiman, masjid ini diurus oleh Abu Indrapuri. “Abu Indrapuri menjadi pengurus masjid ini hampir 20 tahun, sejak 1946. Sekitar tahun 1960 ada Teungku Harun dan Teungku Nasrudin yang mendirikan sekolah di sekiling masjid. Beliau pulalah yang mengurusi masjid ini,” ucap Sulaiman.

Dari tahun ke tahun, pengurus masjid itu terus berganti. Namun, bangunan saksi sejarah Aceh itu tidak lekang dimakan zaman, pun tidak bengkok ditelan waktu. Ia berdiri kokoh di sana, sebagai lambang kemakmuran dan kerukunan umat Islam.[]

Iklan

Filed under: Feature

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: