Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

26 Juli, Lahirnya si “Binatang Jalang” dari Medan

oleh Herman RN

TAHUN 1922 di tanggal dan bulan yang sama dengan hari ini, 26 Juli, telah lahir seorang lelaki mungil di Medan, Sumatera Utara. Kendati hanya mengecap dunia selama 26 tahun, banyak karyanya yang tetap hidup di hati masyarakat Indonesia, terutama kalangan penyair dan seniman.

Ia telah menulis hampir 100 karya, termasuk 70 puisi. Di antara karyanya yang paling terkenal adalah “Aku” yakni sebuah puisi yang ditulisnya pada Maret 1943. Dalam puisi itu, Chairil menceritakan tentang kehidupan seorang tokoh yang tegar dalam menghadapi berbagai gejolak kehidupan. Frasa “Aku ini binatang jalang” pada bait ketiga puisi tersebut kemudian dilakapkan kepada diri Chairil sendiri. Akhirnya, penggemar rokok ini pun dijuluki “Si Binatang Jalang”.

Puisi “Aku” kemudian diinterpretasi banyak orang sebagai pengalaman pribadi Chairil. Ditilik dari kisah kehidupannya, barangkali puisi tersebut ada benarnya. Charil hidup dalam keluarga yang centang-prenang. Kedua orangtuanya bercerai. Ayahnya menikah lain, sedangkan Chairil terpaksa mengikuti sang ibu ke Jakarta. Ketika itu, ia sudah tamat SMA.

Meski kehidupan yang keras dan amburadur, Chairil bukanlah lelaki cengeng. Ia menghadapi hidup dengan semangat dan tetap gairah. Dalam puisi “Aku” bahkan ia menyatakan “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Frasa ini menunjukkan sikapnya yang pantang menyerah dan tidak mau mengalah dengan dilema kehidupan.

Menampik kekerasan hidup, Chairil memilih buku sebagai teman berbagi. Banyak kisah kehidupannya yang ia tulis, terutama dalam bentuk puisi. Bahkan, kegemarannya pada wanita pun ia tuangkan dalam puisi. Beberapa nama perempuan yang ia kejar-kejar dan ditulisnya dalam puisi antara lain Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini. Namun, ia menikah dengan Hapsah, gadis “kerawang-bekasi”.

Centang-prenangnya kehidupan keluarga, sejak orangtua, kini turun kepada Chairil. Usia pernikahannya dengan Hapsah tidak berlangsung lama. Hapsah minta cerai saat anak mereka baru berusia 7 tahun. Tidak selama setelah itu, Chairil pun meninggal dunia. Kegemarannya pada rokok dan minuman telah mengantarkan Charil pada penyakit TBC kronis dan Spilis. Ia menghembuskan napas terakhir pada 28 April 1949. Karena itulah, April menjadi peringatan bulan sastra bagi Indonesia.[]

Iklan

Filed under: Memory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: