Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Duka Padang di Bulan Ramadan

oleh HERMAN RN

Hari itu, Selasa, baru beberapa hari bilangan puasa Ramadan tahun ini. Sudah menjadi kebiasaan, selepas berbuka, umat Muslim melaksanakan ibadah tarawih. Namun, tidak demikian di Padang. Hari itu, sejak pukul 18.30 WIB, air bah menggenangi sejumlah kelurahan di Kota Padang. Orang-orang terpaksa berbuka puasa dalam banjir. Saat waktu tarawih tiba, warga Kota Padang menyelematkan diri dengan mengungsi ke tempat yang lebih aman dari jangkauan banjir.

Sedikitnya, ada lima kecamatan dalam Kota Padang diterjang banjir bandang, Selasa, 24 Juli 2012. Daerah yang paling parah meliputi kawasan Batu Busuk Kelurahan Limau Manis; Kelurahan Gurun Laweh, Kecamatan Padang Timur; Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo. Di daerah-daerah ini, ketinggian air bervariasi hingga mencapai 1,5 meter.

Data dari Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana Sumatera Barat menunjukkan banjir bandang itu telah merusak sejumlah fasilitas umum dan rumah warga di 24 kelurahan. Paling sedikit, 1003 rumah rusak, dengan rincian 190 rusak berat, 332 rusak sedang, dan 481 rusak ringan. Kerusakan paling banyak terdapat di Kecamatan Pauh.

Selain rumah, dua sekolah di Nanggalo dan Padang Timur turut jadi imbas air bah. Masih menurut data yang ada, 12 irigasi juga rusak, 11 di antaranya rusak berat. Tidak kurang 15 rumah ibadah juga rusak diterjang banjir bandang. Satu puskemas turut menjadi imbas banjir. Rekapitulasi kerugian sementara mencapai Rp40 miliar lebih.

“Total kerugian diperkirakan mencapai Rp40,66 miliar. Rumah dan fasilitas umum Rp11,37 miliar, jembatan dan jalan Rp17,6 miliar,” kata Kepala Humas Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.

Banjir bandang melanda Kota Padang setelah dua jam lebih hujan turun lebat. Dua hulu sungai, yakni Batang Kuranji dan Batang Arau meluah dan air pun melimpah hingga membawa pohon dan sampah. Tidak lama berselang, air bah menerjang beberapa rumah dan fasilitas umum serta tempat ibadah.

Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, telah mengeluarkan surat keputusan pelaksanaan tanggap darurat bencana alam banjir bandang di Padang selama 30 hari. Sampai saat ini, sejumlah instansi seperti Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat, TNI, Polri, Dinas Kesehatan, Dinas PU, Tagana, dan PMI masih siaga di lokasi banjir.

Sejauh ini, Kepala BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, berpendapat banjir itu akibat siklon tropis Vicente. “Keberadaan siklon ini berdampak pada fenomena hujan deras dan badai di utara ekuator Indonesia, juga pada siklon tropis Vicente yang ada di laut Cina Selatan,” ujar Nugroho, seperti dikutip dari okezone, 25 Juli 2012.

Nugroho menyebutkan siklon itu berada pada 21,1 lintang utara dan 114,2 bujur timur atau sekitar 2.010 kilometer sebelah utara timur laut Natuna. Selain itu, menurut Nugroho, siklon Vicente berdampak pada gelombang dengan ketinggian 3 hingga 4 meter. “Fenomena ini berpeluang di perairan Sabang dan Banda Aceh, juga perairan utara Aceh,” ujarnya.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), menyatakan bencana banjir bandang yang melanda Kota Padang itu karena topografi hulu yang sudah mengalami degradasi. “Bantaran sungai juga mengalami sendimentasi,” kata Menejer Penanggulangan Bencana Walhi, Mukri.

Hal itu, menurut Mukri, tidak terlepas dari akibat kerusakan hutan pada bagian hulu sehingga memudahkan erosi. Ia juga mencatat tatakota yang buruk dari Pemerintah Kota Padang sebagai akibat mudahnya Padang digenangi air.

“Pemerintah daerah seharusnya peduli dengan drainase Kota Padang. Drainase yang buruk mengakibatkan meluapnya air dengan mudah,” tutur Mukri.

Walikota Padang tidak menampik bahwa banjir bandang yang melanda Selasa magrib itu disebabkan oleh penebangan hutan. Bahkan, ia menegaskan, penebangan secara liar atau illegal logging menjadi penyebab utara banjir tersebut.

“Penyebab bencana ini kuat dugaan akibat aktivitas penebangan liar, terutama di perbukitan sekitar lokasi kejadian banjir,” kata Walikota Padang, Fauzi Bahar, seperti dilansir antara, sehari setelah banjir datang.

Fauzi menyebutkan 20 persen dari jumlah total 12.000 hektar hutan di Padang kini rusak parah. Ia menegaskan bahwa kerusakan hutan itu terjadi karena pembalakan liar oleh oknum. Karena itu, Fauzi mengimbau masyarakat agar tidak sungkan-sungkan melaporkan kepada pihak berwajib jika mengetahui atau menemukan adanya penebangan liar agar aman dari banjir dan bencana alam lainnya.[]

Iklan

Filed under: Feature

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: