7 September, Belanda Membelah Aceh Jadi Enam

Herman RN | Atjeh Post, 7 September 2012

BELANDA berhasil menguasai benteng pertahanan terakhir Aceh di Kuta Gle, Batee Iliek, Samalanga, Kabupaten Bireuen, pada 1904. Kesuksesan ini secara de facto menjadi catatan bahwa Belanda berhasil masuk Aceh. “Kuku penjajahan” pun ditancapkan di Tanoh Rincong oleh kaphe Beulanda.

Tiga puluh tahun di Aceh, Belanda mulai mengutak-atik kewilayahan Aceh. Dengan surat Keputusan Vander Geuvemement General Van Nederland Indie tertanggal 7 September 1934, Pemerintah Hindia Belanda kemudian membagi Aceh menjadi 6 wilayah afdeeling (Kabupaten). Tiap-tiap afdeeling dipimpin oleh seorang Asisten Resident.

Pada pecahan enam bagian tadi, “dibelah” lagi menjadi Onder Afdeeling (kewedanan), yang setiap wilayah dikepalai oleh seorang Countroleur (wedana). Pada tiap Onder Afdeeling terdapat beberapa daerah ulee balang (Zelf Bestuur).

Aceh yang sudah menjadi negara bagian ini baru “bersatu” kembali setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Setelah bersatu, Aceh dijadikan sebagai satu provinsi. Namun, bukan provinsi Aceh. Oleh pemerintah Indonesia, Aceh dimasukkan sebagai bagian dari provinsi Sumatera Utara.

“Pengkhianatan” Pemerintah Indonesia ini membuat beberapa tokoh Aceh masa itu marah sehingga mengadakan pemberontankan yang dikenal dengan DI/TII. Dalam sejarahnya, Aceh menjadi satu provinsi yang berdiri sendiri dengan titel “istimewa” pada 26 Mei 1959, setelah reda pemberontakan DI/TII.[]dbs

Iklan

Satu respons untuk “7 September, Belanda Membelah Aceh Jadi Enam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s