Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Kecamuk Ekonomi di Negeri Yahudi

“Israel mencuri dan merampok saya, membuat saya tidak berdaya,” tulis Moshe Silman dalam secarik kertas sebelum membakar dirinya sendiri.

Oleh Herman RN

MULANYA, kerumunan orang-orang yang mengadakan aksi di jalanan Yehud, timur Kota Tel Aviv bersorak lantang. Mereka turun ke jalan raya sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Pemerintahan Israel di tangan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Di tengah sorak-sorai protes itu, massa dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menyulut api ke tubuhnya. Lelaki 57 tahun itu pun terbakar.

“Israel mencuri dan merampok saya, membuat saya tidak berdaya,” tulis lelaki bernama Moshe Silman itu pada secarik kertas. Kertas tersebut ditemukan di sekitar lokasi Silman membakar diri, Sabtu, 14 Juli 2012.

Dalam surat tersebut, Silman menyebutkan Perdana Menteri Netanyahu dan Menteri Keuangan Yuval Steinitz adalah dalang memburuknya ekonomi negeri Yahudi Israel. Silman juga menulis banyak pejabat Tel Aviv merampok orang miskin untuk diberikan kepada orang kaya.

Dua hari berselang aksi bakar diri oleh Silman, seorang pengunjuk rasa di Tel Aviv kembali melakukan hal serupa. Pengunjuk rasa kali ini juga membakar dirinya sebagai bentuk protes terhadap kebijakan ekonomi Pemerintah Israel yang menyengsarakan rakyat kecil.

Berikutnya, pada Minggu, 22 Juli 2012, giliran seorang veteran perang Israel melakoni bakar diri. Duduk di kursi rodanya dekat sebuah halte di Tel Aviv, veteran ini membakar diri hingga hangus 80 persen. Motifnya sama, protes terhadap Netanyahu karena ekonomi, sekaligus sebagai bentuk keprihatinan terhadap Silman.

Pemandangan yang unik di negeri Zionis telah mebuka mata media internasional bahwa Israel bukankah negeri makmur. Israel yang kerap lantang berbicara soal ekonomi kepada dunia-dunia luar dan mengangung-agungkan nuklir selama ini terkesan sebagai negara kaya. Nyatanya, pemerintah Zionis punya masalah dalam negeri yang sangat pelik dan buruk. Aksi protes bakar diri warga Yahudi itu merupakan bukti nyata buruknya perekonomian dan kebijakan negeri Zionis.

Hal ini diakui langsung oleh wakil Yahudi di parlemen Iran, Siamak Mareh-Sedq. “Ketidakadilan yang terjadi menimpa warga Zionis hingga memunculkan aksi protes seperti bakar diri sudah bisa ditebak. Saya percaya kita akan segera menyaksikan disintegrasi rezim Zionis (Israel) dari dalam,” kata Mareh-Sedq kepada kantor berita Fars.

Kebijakan ekonomi Israel lebih berpihak pada militer dan pejabat pemerinatahan. Perdana Menteri Netanyahu tidak sungkan-sungkan mengeluarkan kebijakan menaikkan bahan pokok tanpa memikirkan rakyat kecil tercik. Sejak 2010 lalu, beberapa harga bahan pokok di Israel terus beranjak naik mulai dari 10 sampai 15 persen. Bahkan, untuk harga air, melonjak hingga 134 persen. Memasuki tahun 2012, harga perumahan pun meningkat tinggi. Di sisi lain upah kerja semakin rendah.

Kebijakan ini membuat warga Yahudi hidup sengsara. Aksi protes terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat kecil mulai bergulir. Aksi protes terakhir yang paling besar terjadi pada 16 Juli 2012. Dalam laporan Daily Mail, aksi kali ini merupakan aksi nasional yang dilakukan di hampir seluruh daerah Israel. Ribuan orang turun ke jalan sembari mengusung spanduk yang di antaranya bertuliskan “keadilan sosial untuk setiap orang” dan “berhenti mengeksploitasi kami”.

Bagi Yahudi, aksi sampai membakar diri merupakan hal langka, apalagi karena protes kebijakan pemerintah. Namun, tahun 2005 silam, seorang perempuan Yahudi juga sampai membakar dirinya dalam protes kenaikan pangan, pakaian, dan rumah.

Meluasnya protes terhadap pemerintah membuktikan pemerintahan Zionis tidak memiliki legitimasi terhadap warganya sendiri. Akhirnya, banyak orang mempersoalkan legitimasi Zionis terhadap internasional. Selama ini, Zionis Israel terus mengumbar bahwa mereka memiliki pertahanan militer yang kuat, senjata yang canggih, dan sebagainya. Di sisi lain, Zionis malah memberikan janji-janji kosong terhadap warga Yahudi di belahan negara lain untuk tinggal di Palestina.

Israel lebih menitikberatkan perekonomian mereka pada sektor teknologi industri. Dengan selalu mengandalkan kelahiran rudal-rudal dan kapal perang, Israel lupa pada kemakmuran rakyat sendiri. Di sisi lain, upah yang dikeluarkan untuk para pekerja masih di bawah minimum. Tak dinyana, tingkat pengangguran terus meningkat di tanah Zionis itu.

Akibatnya, lahirlah orang-orang yang kecewa seperti Moshe Silman. Mereka lebih memilih membakar diri sendiri tinimbang hidup di bawah perekonomian negara tak pasti. “Jelas Silman melakukan ini karena alasan finansial, sementara motif lainnya belum diketahui,” kata juru bicara kepolisian Tel Aviv, Mickey Rosenfeld.[]

Filed under: Feature, , , , , ,

One Response

  1. Eva mengatakan:

    Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: