Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Gemasastrin dan Senandung Kemesraan di Ujian Akhir

gemas3SUATU hari/ di kala kita duduk di tepi pantai/ dan memandang ombak di lautan yang kian menepi// burung camar/ terbang bermain di derunya air/ suara alam ini/ hagatkan jiwa kita//… Kemesraan ini/ janganlah cepat berlalu/ kemesraan ini/ ingin kukenang selalu/ hatiku damai/ jiwaku tenteram di sampingmu…//

Senandung “Kemesraan” milik Iwan Fals itu menggema dalam ruang Auditorium Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala. Namun, senandung itu bukan berasal dari suara Iwan Fals, melainkan ratusan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Unsyiah.

Mereka saling bergenggam tangan secara melingkar. Seiring irama lagu, tubuh mereka sekali bergerak ke kanan, sekali ke kiri. Semula riang gembira, kemudian haru, dan mereka larut dalam ‘kemesraan’ bersama. Beberapa mahasiswa tampak berkaca-kaca matanya. Satu dari dua dosen pendamping mereka, juga demikian.

Lagu “Kemesraan” menjadi irama penutup kegiatan yang mereka selenggarakan hari itu, Senin, 14 Januari 2013, menjelang petang. Dua hari sebelumnya, mereka telah menggelar berbagai pertunkan kesenian, mulai dari pembacaan puisi, musikalisasi puisi, hingga drama pentas dan drama televisi.

“Kita selalu merindukan saat-saat seperti ini. Ingat, kebersamaan adalah segalanya,” tutur Mukhlis A. Hamid, salah satu dosen pendamping mata kuliah sastra pada Program Studi PBSI FKIP Unsyiah.gemas4

Dosen satunya lagi, Budi Arianto, juga menyampaikan harunya. Kebangaan kedua dosen pengasuh mata kuliah sastra ini tumpah-ruah dalam ruangan kedap suara tersebut. Mereka haru tatkala menyaksikan penampilan berbagai bentuk seni drama dan apresiasi di panggung sederhana auditorium milik FKIP Unsyiah.

“Hari ini pentas suka-suki mahasiswa. Kemarin (Sabtu-Minggu) pementasan ujian final mata kuliah drama dan puisi,” kata Rismawati, kurator pementasan.

Menurut Risma, kegiatan pentas suka-suki sudah menjadi agenda tahunan mahasiswa PBSI FKIP Unsyiah. Ia sendiri merupakan artis monolog pentas suka-suki Gemasastrin tahun 2007 lalu. Sudah menjadi ketentuan, setiap mahasiswa PBSI FKIP Unsyiah dianggap bagian dari keluarga besar Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia atau sering disingkat Gemasastrin.

Kata Risma, merupakan kebiasaan pula, sejak empat tahun terakhir, ujian akhir dari mata kuliah drama dan mata kuliah puisi dilaksanakan dengan pertunjukan apresiasi para mahasiswa. Artis dan semua proses penggarapannya dilakukan oleh mahasiswa.

“Nilai mahasiswa tidak hanya diambil dari kehadiran dan tugas-tugas harian, tetapi juga dari pementasan mereka,” ucap Budi, dosen tetap pengasuh mata kuliah Puisi dan mata kuliah Drama.

Ketika FKIP belum memiliki gedung sebagus sekarang, pementasan ujian akhir kedua mata kuliah itu digelar dalam ruang Auditorium lama. Tahun berikutnya, pernah pula digelar di Wisma Kompas, Darussalam, Banda Aceh.

“Tahun lalu dan tahun ini kita dapat ruang yang lebih bagus, auditorium ini. Kegiatan seperti ini akan terus dilaksanakan tiap tahun,” kata Budi.

Tahun lalu, ujian akhir mata kuliah puisi mempertunjukkan musikalisasi puisi dan dramatisasi puisi, sama seperti tahun ini. Adapun untuk mata kuliah drama di tahun lalu, tambah Budi, difinalkan dalam bentuk pertunjukan teater atau drama pentas, drama televisi, dan drama radio. “Namun, tahun ini diambil inisiatif cukup drama televisi dan drama panggung,” tuturnya.

gemas2Segala proses kreatif penciptaan dilakukan oleh mahasiswa, termasuk untuk drama televisi, meskipun mereka bukan jurusan perfilman. “Drama itu luas, termasuk drama televisi. Karenanya, meskipun bermodal pengetahuan amatiran sebab bukan mahasiswa perfilman, kami yakin hasil film mahasiswa Gemasastrin layak saing di luaran,” ujar Risma pula.

Tidak jauh berbeda juga diutarakan Mukhlis. Namun, menurut dia, yang terpenting adalah proses dan kebersamaan yang terbina di saat-saat ujian akhir. Bagi dosen yang acap disapa “Papi” oleh para mahasiswanya itu, sudah kebiasaan umumnya ujian akhir menegangkan. Karena itu, pada mata kuliah sastra ditawarkan sesuatu yang berbeda pada mata kuliah puisi dan drama.

“Yang terpenting adalah kebersamaan. Di sini kita lebih saling kenal satu sama lain,” ucapnya dengan mata berbinar.[Herman RN]

Filed under: Feature

One Response

  1. jtxtop mengatakan:

    Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: