Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Sekilas Srikandi Aceh

SERING KITA mendengar nama-nama pahlawan yang sudah dinobatkan menjadi pahlawan nasional. Namun, tetap ada juga yang masih belum tahu benar sosok pahlawan yang dibanggakannnya. Apalagi, bicara tentang pahlawan wanita, seakan ini menjadi topik yang menarik.

Aceh dikenal sebagai negeri Srikandi atau “pahlawan wanita”, selain disebut sebagai “Negeri Sultanah”. Ada beberapa pahlawan perempuan yang dimiliki Aceh, sekaligus mencatat daerah ini sebagai pemilik perempuan-perempuan pemberani.

Berikut kami uraikan sekilas tiga Srikandi Aceh. Tentu ini hanya catatan kecil dari sepanjang catatan sejarah yang dimiliki Aceh.

 

Cut Nyak Dien, Perempuan Berhati Baja

Dia dilahirkan di Lampadang, Aceh, 1850. Wanita ini dijuluki perempuan berhati baja, karena kegigihan, keberanian, dan keteguhan hatinya dalam berperang melawan penjajah. Tak ada kata menyerah di benaknya. “Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup jadi tawanan kaphé Belanda.” Demikian nasihat yang selalu diucapkan Cut Nyak kepada para pengikutnya yang menawarkan agar menyerah kepada Belanda daripada jadi buruan di hutan.

Dari sini, jelas kelihatan sikap teguh pendirian seorang pemimpin yang membuat para pengikut takjub dan hormat kepadanya, kendati dia seorang perempuan.

Cut Nyak, pernah menikah dua kali. Kedua suminya adalah pejuang. Suami pertamanya bernama Teuku Ibrahim Lamnga. Suami keduanya Teuku Umar. Keduanya syahid dalam perang. Tak sekedar punya dua orang suami yang menjadi pejuang, ayah Cut Nyak juga tercatat sebagai seorang pejuang.

Cut Nyak yang dibesarkan oleh kedua orangtuanya saat Aceh hiruk-pikuk dengan Belanda, menjadikan hatinya keras serupa baja untuk menentang kepenjajahan Belanda. Cut Nyak meninggal 6 November 1968 di Sumedang, Jawa Barat. Ia dibuang di sana oleh Belanda setelah ditangkap. Cut Nyak ditangkap karena orang kepercayaanya, Pang Laot, memberitahukan pihak Belanda tempat persembunyian rombongan Cut Nyak. Hal itu dilakukan Pang Laot karena merasa kasihan melihat Cut Nyak yang tua tertatih-tatih bergerilya dalam hutan.

Saat ditangkap, Cut Nyak masih memperlihatkan keberaniannnya. Dia masih sempat mengeluarkan rencong untuk menusuk Belanda yang mencoba mendekat. Namun, kerabunan matanya kala itu memudahkan Belanda memegang tangan Cut Nyak. Apalagi, jumlah Belanda sangat ramai.

Setelah dalam tawanan Belanda, Cut Nyak masih melakukan kontak dengan pejuang yang tersisa. Melihat tingkah Cut Nyak, Belanda akhirnya membuang Cut Nyak ke Jawa dan gugur di sana. Cuta Nyak dinobatkan menjadi pahlawan nasional sesuai SK Presiden RI No. 106 tahun 1964, tertanggal 2 Mei 1964.

 

Cut Nyak Meutia, Kehilangan Dua Suami

Cut Nyak Meutia merupakan salah satu pahlawan nasional yang berasal dari Aceh. Pengukuhannya sebagai pahlawan nasional sesuai SK Presiden RI No. 107 tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964.

Meutia dilahirkan di Pirak, Keureto, Aceh Utara, 1870 dan meninggal 24 Oktober 1910. Sebelum dia lahir, Belanda suda berada di Aceh. Perlakukan semena-mena Belanda terhadap rakyat Aceh menimbulkan perlawanan dari rakyat. Tiga tahun sebelum perang Aceh melawan Belanda dinyatakan resmi, Meutia lahir. Dia melakukan perlawanan bersama sang suami, Teuku Muhammad atau digelar dengan Teuku Cik Tunong.

Saat kecil, Meutia ditunangkan dengan Teuku Syam Syarif. Namun, melihat kesigapan perlawanan Teuku Muhammad melawan Belanda, Meutia jatuh cinta dan mereka akhirnya menikah dengan Teuku Muhammad.

Akan tetapi, Teku Muhammad ditakdirkan harus mendahului Meutia. Dia meninggal pada Mei 1905. Ia berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman tembak oleh Belanda. Hal itu membuat Meutia berang. Meutia semakin menggencarkan aksinya melawan penjajah Belanda.

Untuk memperkuat perjuangan, Meutia menikah lagi dengan Pang Naggroe, sesuai pesan sang suami. Pang Nanggroe merupakan orang kepercayaan Teuku Cik Tunong. Sayangnya, usia Pang Nanggroe pun tak lama. Lima tahun bersama Meutia, Pang Nanggroe gugur dalam perang.

Kendati dua suami tercinta telah tiada, tidak menyurutkan semangat Meutia untuk melawan penjajahan. Ia terus merampas pos-pos Belanda sambil bergerak menuju Gayo. Langkah raseuki, peuteumuen mawôt, hana kuasa geutanyoe hamba. Pada 24 Oktober 1910, Meutia gugur dalam pertempuran dengan Marechausée di Alue Kurieng.

 

Pocut Baren, Pantang Menyerah

Pocut Baren dilahirkan di Tungkop, Aceh Barat. Dia merupakan anak Teuku Cut Ahmad, seorang Ulee Balang Tungkop yang sangat berpengaruh. Daerah keuleebalangan Tungkop merupakan federasi Kaway XII yang letaknya di pantai barat Aceh.

Baren menghabiskan masa kecil di dayah dan meunasah. Di sana dia menempa ilmu agama. Beranjak dewasa, Baren dinikahkan dengan keujruen, lalu bersama-sama berjuang melawan penjajah Belanda. Dia dikenal sebagai wanita ulet nan sabar. Hal itu dibuktikannya ketika hidup dalam hutan bersama Cut Nyak Dien.

Keuletan, keberanian, kegigihan, dan kesabaran Baren dinukilkan sendiri oleh Belanda. Terbukti, ketika Cut Nyak Dien tertangkap, Pocut Baren masih gencar melakukan aksinya. Dia memimpin pasukannya terus melawan Belanda.

Belanda mengaku kewalahan melawan pasukan Baren sehingga terpaksa meminta bantua ke Batavia (sekarang Jakarta). Setelah datang bantuan dari Batavia, pasukan Belanda menyerbu persembunyian Baren di Gunung Macan. Belanda yang kala itu dipimpin oleh Letnan Hoogers berhasil menangkap Baren. Pocut Baren tertembak di bagian kakinya. Ia dibawa ke Meulaboh sebagai tawanan perang dan akhirnya gugur sebagai pahlawan wanita Aceh yang gigih lagi berani.[herman | dbs

Filed under: Essay

One Response

  1. jtxtop mengatakan:

    Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: