Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Jomblo Aceh, Menikahlah!

oleh HERMAN RN | The Atjeh Post, 20 Januari 2012

menikaPERUT saya digodok kembali oleh opini seorang teman, Muhadzdzier M. Salda. Artikel tentang mahar nikah dalam adat Aceh yang dimuat oleh ATJEHPOST.com itu bahkan telah pula menggodok perut sebagian orang lainnya. ATJEHPOST.com sendiri menjadikan topik “Mahar Adat Aceh” sebagai liputan khusus.

Kala Pemerintahan Aceh di tangan Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar dulu, sebenarnya Muhadzdzier yang akrab disapa “Maop” itu sudah pernah menuliskan artikel serupa. Artikel dengan judul Jaminan Mahar Aceh atau JMA tersebut dimuat oleh The Aceh Institute, yang juga sempat jadi bahan perbincangan di warung-warung kopi.

Bicara mahar dalam pandangan adat memang selalu hangat dan menarik. Apalagi, mahar dalam perspektif adat Aceh. Keberagaman suku dan etnis di Tanah Iskandar Muda ini telah pula mempengaruhi posisi mahar perkawinan. Namun demikian, sebagai daerah yang memiliki landasan filosofis keislaman, aturan adat di Aceh tidak terlepas dari sendi-sendi keislaman.

Manakala dalam ranah Minang dikenal ungkapan adat bersendi syara’ dan syara’ bersendi kitabullah, kearifan ureueng Aceh menyebutnya dengan hukôm ngön adat lagee dzat ngön sifeut.  Artinya, adat dan hukum itu dua hal yang tidak dapat dipisahkan, tetapi tetap punya posisi masing-masing.

Mahar adalah hukum, wajib ada dalam pernikahan. Kedudukannya sama seperti ijab-qabul. Manakala tidak ada ijab-qabul, pernikahan tidak sah. Mahar merupakan salah satu rukun sahnya nikah. Namun, bentuk dan jenis mahar tersebut adalah adat. Alquran maupun hadis tidak menyebutkan secara spesifik bentuk dan jenis mahar.

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (Q.S. An Nisaa:4).

Firman Allah swt. tersebut menegaskan, mahar yang diberikan harus ikhlas, tidak dalam keadaan terpaksa. Karenanya, jangan pernah menganggap mahar sebagai beban. Soal jumlahnya, sudah pasti sesuai adat suatu daerah.

Di Aceh, jumlah emas sebagai adat masih bervariasi, tergantung kabupaten, kecamatan, bahkan gampông. Jumlah yang beragam ini telah menimbulkan sejumlah pemeo dalam kehidupan sehari-hari.

Sebut saja pemeo ‘Wanita Pidie itu mahal’ dan ‘Wanita Aceh Selatan murah’. Saya sendiri lebih gemar menyebut idiom itu secara umum menjadi ABS dan ABG, yakni Aceh Blahdéh Seulawah dan Aceh Blahdéh Geurutèe. Namun, ini hanyalah pemeo semata.

Jumlah mahar di ABS memang lebih tinggi dibanding di ABG. Tersebut pula yang paling tinggi itu wilayah Pidie. Semuanya pasti punya konsekwensi. Katakanlah setiap orangtua di Pidie telah menyediakan rumah—sekurang-kurangnya kamar—untuk anak dan menantunya. Itu musabab mahar di daerah ini lebih tinggi.

Jika ditilik kembali, sebenarnya kata-kata “tinggi” itu muncul karena yang dilihat hanya pada jumlah emasnya. Di daerah ini tidak dikenal istilah pèng angoh atau ‘uang hangus’. Beda halnya dengan daerah ABG, secara umum ada uang hangus, selain emas, sebagai bagian dari mahar.

Kendati emas kawin daerah ABG berkisar 5-10 mayam, uang hangusnya mencapai puluhan juta rupiah. Untuk daerah tertentu di Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya, uang hangus ada yang Rp20-Rp30 juta dan mungkin lebih.

Manakala jumlah uang ini dijadikan emas, sebenarnya tidak jauh beda antara ABG dan ABS. Katakanlah emas yang dibebankan 5 mayam, ditambah uang hangus Rp20 juta, lebih kurang sudah terkumpul emas 17 mayam secara keseluruhan. Maka, tak ada beda sebenarnya jumlah mahar di ABG dan ABS. Hanya pemeo yang membuat seakan wanita ABG lebih “murah” dibanding ABS.

Bentuk-bentuk keberagaman adat seperti ini mestinya tidak menjadikan para pemuda takut untuk menikah. Menikah hukumnya wajib. Perkara adat, masih dapat didiskusikan. Baik mempelai maupun orangtua/mertua hendaknya mengerti soalan ini. Bukankah sebaik-sebaik pernikahan adalah yang tidak membebani pihak mana pun? Namun, bukan berarti pihak lelaki menggampangkan perkara mahar.

Ada hukum timbal balik di sini. Besarnya jumlah mahar yang dibayarkan kepada pihak perempuan akan digunakan untuk kepentingan bersama. Misalnya, sebagian dari mahar yang besar itu akan dibelanjakan dalam bentuk asoe kama. Artinya, tidak ada yang dirugikan dalam perkara mahar ini. Semua hanya butuh kesepakatan.

Dalam hadih maja disebutkan Adat meukoh reubông, hukôm meukoh purieh/ Adat jeut barangkaho takhông, hukôm hanjeut barangkapat takieh. Hal ini memperlihatkan masih adanya peluang untuk membuat kesepakatan soal adat. Yang tak boleh diutak-atik itu adalah hukum, syariat.

Sekali lagi, mahar itu hukum, sedangkan jumlahnya adalah adat. So, para jomblo, berusahalah! Jangan jadikan mahar sebagai halangan, tapi posisikan sebagai tantangan dan motivasi. Jangan takut menikah, karena menikah itu sehat!

Herman RN, pernah bekerja di Prodeelat dan Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh.

Filed under: Essay

One Response

  1. jtxtop mengatakan:

    Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: