Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Inspirasi Awal di Kelas Penulisan Fiksi

MENGAWALI pertemuan pertama di kelas Prosa Fiksi sudah tentu butuh persiapan motivasi. Motivasi diperlukan karena tidak semua orang menyukai fiksi. Bagi yang suka baca cerpen dan novel pun, belum tentu gemar dalam menulisv pula.

“Aku suka baca aja, nulis gak bisa,” ini komentar sederhana dan penuh kejujuran di banyak pertemuan kelas Prosa Fiksi.

Karenanya, pertemuan awal Senin tadi pagi, saya sengaja membuka kelas dengan beberapa cerita inspirasi. Tentunya diawali dengan memperkenalkan beberapa buku teori yang patut jadi pegangan. Belajar kemudian berlanjut pada tujuan menulis.

Ada banyak tujuan seseorang menulis. Sedikitnya, saya perkenalkan tiga tujuan umum, yang sengaja maupun tidak, menjadi sebuah keniscayaan didapatkan oleh setiap orang yang mau menulis.

Tujuan pertama, agar terkenal (nama). Tujuan kedua, agar dapat uang (harta). Tujuan ketiga, beramal (pahala). Ketiganya menjadi cerita motivasi tersendiri bagi teman belajar pagi ini.

Beberapa nama yang sudah besar dan menjadi kaya dengan menulis juga jadi bagian cerita inspirasi. Kelas dilanjutkan simulasi membuat cerita. Saya sudah menduga akan banyak keluhan seperti kesulitan menemukan ide.

“Silakan keluar dari ruangan ini,” kata saya saat itu. Sebagian peserta mulai panik. Mereka mengira saya sedang marah.

“Di luar ada banyak benda yang akan kalian temukan. Silakan ambil satu saja dari benda tersebut. Bawa masuk ke ruangan kembali,” lanjut saya. Tertawalah mereka.

Sekembalinya mereka ke kelas, saya sudah mulai melihat imajinasi beberapa peserta berdasarkan benda yang dibawanya. Seorang peserta malah tidak membawa apa-apa. Saat saya tanya, ia menyahut, “Saya bawa ini,” sambil ia peragakan sesuatu di kedua tangannya, membentuk semacam lingkaran.

“Apa itu?”

“Ini angin. Saya bawa angin, Pak.”

Beberapa peserta lainnya mulai berkomentar. Ada yang menganggap peserta satu ini lancang, karena tidak bawa apa-apa. Namun, saya malah menganggap sebaliknya. Bagi saya, ia sedang mulai berimajinasi membawa angin. Wow…

“Silakan masing-masing kalian pandang benda tersebut, rasakan, cermati, bayangkan, dan imajinasikan sebagai sesuatu yang kalian benci. Ya. Saya mau tantang kalian untuk menganggap benda itu sebagai sesuatu yang kalian benci, lalu buat cerita yang memiliki uncur kata benci tersebut.”

Tidak banyak waktu tersisa di akhir waktu pertemuan pertama ini. Mereka hanya punya waktu tak lebih dari 30 menit. Namun, saya terkagum-kagum dibuatnya. Seorang peserta yang membawa batu kerikil berkisah tentang beberapa batu yang ia temukan di jalanan. Ceritanya kemudian mengalir pada sifat manusia yang sangat ia benci. Ia membenci manusia itu karena diam seperti batu, punya hati seperti batu, dan segalanya mirip batu. “Namun, jika aku harus memilih antara batu dan kamu, aku akan tetap memilih kamu, meskipun kamu seperti batu.” Saya kira kalimat ini sangat apik untuk menutup cerita pendeknya yang sangat pendek itu.

Cerita berikutnya milik seorang peserta yang membawa ranting kecil ke dalam kelas. Ia berkisah tentang konflik batin seorang tokoh, yang setiap memegang ranting itu—tak jelas disebutkan ranting apa dan dimana—selalu saja ranting itu jatuh, lepas dari dahannya. Tokoh itu benci peristiwa ini, karena ia sangat menyukai ranting tersebut. Hanya saja, mengapa ranting itu selalu luluh setiap ia sentuh?

Bagi saya, ini imajinasi-imajinasi liar yang mereka dapat dalam 2 jam pertemuan pertama kami. Minggu depan mudah-mudahan kami bisa bertemu dan belajar lagi. Kami akan biarkan imajinasi kami liar, lalu perlahan memperbaiki cerita kami secara struktural sembari memberikan apresiasi terhadap karya-karya orang lain. Mudah-mudahan…

Jeulingke, 18 Februari 2013

Herman RN

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: