Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Selepas Abubakar Bangkit

Oleh Herman RN

 SULIT menemukan catatan kelahiran tokoh satu ini, kendati ia sebenarnya seorang yang layak disebut pejuang masa-masa revormasi. Dalam beberapa literatur hanya tersebut bahwa ia kelahiran dataran tinggi Gayo, Takengon. Tidak ada tanggal dan bulan pasti tentang kelahirannya. Namun, sosok yang telah berpulang ke Rahmatullah pada Ahad, 13 Januari 2013, ini merupakan satu dari sekian tokoh Aceh yang dikenal khalayak luas secara nasional. Namanya Abubakar Bangkit.

Dalam catatan yang ada, Abubakar merupakan tokoh Islam Muhammadiyah Aceh. Ia hidup sejak masa Ilyas Leubee, salah satu tokoh pergerakan Darul Islam (1953-1962). Karenanya, sebagian orang berkesimpulan bahwa Abubakar merupakan satu dari sekian pejuang di Aceh pada rezim revormasi.

Pihak keluarga sendiri sepertinya tidak punya catatan khusus tentang kelahiran almarhum. Menurut penuturan anak perempuannya yang tua, Hurriah, almarhum Abubakar Bangkit meninggal dalam berusia 93 tahun. Hal tersebut disampaikan Hurriah saat memberikan sepatah dua kata dalam takziah masyarakat Rawa Sakti, Jeulingke ke rumah Hurriah di Lorong II Dusun Rawa Sakti, Jeulingke, Jumat (18 Januari 2013) selepas magrib.

Dari selintas sejarah hidup Abubakar yang disampaikan oleh anaknya itu, ada banyak ibrah yang dapat dipetik. Disebutkan bahwa Abubakar merupakan orang yang disiplin dan selalu meniru cara Nabi Muhammad saw makan. Tatkala masih muda dan kuat giginya, Abubakar senantiasa berupaya mengunyah sampai 33 kali, sesuai anjuran dokter. Kala ia sudah lanjut usia dan giginya tak kuat lagi, kerap anak-anaknya membelender nasi untuk Abubakar. Hal ini menandakan betapa setianya ia pada anjuran dokter. Makannya pun selalu berusaha dengan teknik empat sehat lima sempurna, dengan mengupayakan tetap ada sayuran sebagai lauk.

Menurut Hurriah yang saat ini tercatat sebagai hakim di Mahkamah Syariyah Banda Aceh, almarhum juga dikenal keras dan disiplin dalam mendidik anak-anaknya. Bahkan, jika menyangkut soal dunia pendidikan, ia tak sungkan menasihati siapa pun. Tatkala ada seorang pemuda yang datang kepadanya, perihal yang sering ia tanyai adalah sekolah atau kuliah si pemuda. Manakala si pemuda menjawab masih S1, Abubakar langsung memberikan saran “harus” lanjut ke S2 dan S3.

Bagi anak dan cucunya yang berprestasi, ia kerap memberikan hadiah sebagai motivasi. Namun, kata Hurriah, hadiah yang diberikan bukan mainan, melainkan selalu dalam bentuk buku. Hingga ketika almarhum sudah lanjut usia, barulah hadiah ia berikan dalam bentuk uang, dengan saran agar digunakan untuk hal yang menunjang pendidikan si anak.

Di sini terlihat bahwa sosok Abubakar merupakan orang yang sangat peduli terhadap pendidikan. Tidak salah jika anak-anaknya menjadi “orang” semua. Sebut saja di antaranya Hurriah, seorang hakim sekaligus motivator. Lalu Prof. Dr. Alyasa’ Abubakar, kepala dinas pertama pada Dinas Syariat Islam yang sekarang memangku jabatan Direktur Pascasarjana IAIN Ar-Raniry.

Hal lain yang dapat dipetik dari kehidupan Abubakar Bangkit menyangkut adab berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Dari tuturan Hurriah diketahui bahwa Abubakar tidak suka bermewah-mewah. Baginya, punya pakaian tak mesti banyak, yang penting bersih. Menariknya lagi, ia tidak pernah mendatangi suatu hajatan (kenduri) hidup, jika tidak diundang.

Suatu kali, kata Hurriah, pernah ia mengajak Abubakar singgah ke sebuah acara pesta perkawinan. Namun, karena yang diundang hanya Hurriah dan suami, maka Abubabakar lebih memilih tetap diam di dalam mobil. Alasannya, wajib datang jika diundang. Akan tetapi, bagi yang datang tanpa diundang sama saja seperti maling. Ini adalah prinsip yang dipegang teguh oleh Abubakar. Tidak salah, jika anak-anaknya mengenal sosok sanga ayah sebagai pria yang memegang teguh prinsip dan keyakinannya.

Ajaran kehidupan serupa ini kiranya patut jadi contoh. Inilah yang membedakan manusia dengan harimau, gajah, maupun hewan lainnya. Jika harimau mati meninggal belang dan gajah mati meninggalkan gading, tentu manusia mati meninggalkan perangai atau perilaku. Perangai tersebutlah yang membuat namanya diingat harum oleh orang-orang yang masih hidup. Demikianlah Abubakar Bangkit yang meninggal dunia pada 13 Januari 2013 di Ie Masen, Ulee Kareng, Banda Aceh. Satu lagi, sosok ureueng Aceh yang telah dahulu menghadap Sang Khalik.

 

Herman RN, penyuka sastra.

Filed under: Essay

One Response

  1. Anita mengatakan:

    yang terpenting kita berusaha yg terbaik, pasti akan jadi lebih baik semuanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: