Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Khanduri Teater yang Diteaterkan

Oleh Herman RN

teaterAGAKNYA dunia seni pertunjukan, terutama seni teater di Aceh akan menemukan gezahnya. Tentu saja bagi seniman teater sepantasnya memanjatkan dan mengucapkan kata syukur. Betapa tidak, sejumlah workshop dan pelatihan mengenai seni teater mulai digalakkan. Beberapa waktu lalu, workshop seni teater plus seni tutur sudah digelar oleh Dinas Kebudayaaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh. Kali ini, giliran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banda Aceh yang melaksanakan workshop yang sama.

          Dalam pelatihan selama dua hari, 7-8 Juni 2013 ini, Disbudpar Banda Aceh mencoba menggelar kegiatan untuk menggali dan memahami estetika seni pertunjukan teater bagi sejumlah seniman dan pecinta teater. Dalam setiap kegiatan, tentu ada plus-minus, positif dan negatif. Tak salah kiranya, saya punya sedikit celoteh dalam “Khanduri Teater Banda Aceh” ini demi perbaikan ke depan. Paling tidak, celoteh kecil ini akan jadi catatan penting tatkala menyelenggarakan kegiatan yang sama di masa datang.

          Pertama, kegiatan itu mengangkat topik “Khanduri Teater Banda Aceh”. Hal ini jelas kelihatan pada spanduk dan baju kaos yang dikenakan oleh peserta dan panitia. Namun, yang menjadi peserta bukan hanya komunitas teater di Banda Aceh. Ada sejumlah sanggar dan komunitas di luar Banda Aceh turut serta. Semacam ada tumpang tindih dengan kegiatan workshop yang digelar oleh Disbudpar Provinsi Aceh tempo hari. Bedanya, Disbudpar Provinsi Aceh benar-benar menyiapkan peserta dari 23 kabupaten kota. Sedangkan Disbudpar Kota Banda Aceh, hanya ada beberapa kabupaten/kota di luar Banda Aceh yang mewakili.

          Di sinilah sedikit ketimpangan. Jika memang Disbudpar Kota Banda Aceh menyelenggarakan “Khanduri Teater Banda Aceh”, mengapa ada utusan dari Aceh Besar, Bireuen, Lhokseumawe, dan Langsa? Di sisi lain, bilamana memang panitia hendak mengkover kabupaten/kota di Aceh, semestinya ada juga perwakilan dari kabupaten/kota lain. Jangan terkesan memilih dan memilah kabupaten dan komunitas tertentu yang kesannya hanya dengan yang dekat dengan panitia penyelenggara. Jika memang sudah ada keterlibatan dari kabupaten/kota, tentu saja namanya harus “Khanduri Teater Aceh”, bukan “Banda Aceh” lagi.

          Kedua, estimasi peserta mestinya dilakukan dengan sungguh-sungguh dan teliti. Ada banyak komunitas seni di Banda Aceh. Meskipun nama sanggar mereka tidak menyematkan kata-kata “teater” belum tentu di komunitas itu tidak ada grup teater. Teater itu sangat luas. Seni tutur juga bagian dari seni teater. Pertanyaan bagi panitia, sudahkan mereka melakukan estimiasi peserta dari berbagai komunitas tersebut? Bilamana estimasi peserta dilakukan dengan teliti, pastinya mereka tidak perlu menggunakan komunitas di luar Banda Aceh dan Aceh Besar hanya untuk melengkapi kebutuhan kuota peserta, sebab ada banyak komunitas seni teater di Banda Aceh.

          Sebaliknya, bilamana memang hendak membuat workshop teater untuk seluruh kabupaten/kota, mestinya ada perwakilan komunitas dari 23 kabupaten/kota. Paling tidak, satu daerah ada satu komunitas yang mewakili. Hal ini akan lebih efesien dibanding hanya memilih komunitas tertentu dengan pertimbangan ada “kawanku” di sanggar/komunitas tersebut.

          Dua catatan kecil ini akan mewakili beberapa catatan lain yang masih tampak dalam bentuk ketimpangan dalam penyelenggaraan “Khanduri Teater Banda Aceh”. Tentu saja semua orang ingin kegiatan seperti ini terus berkelanjutan agar dunia seni teater di Banda Aceh dan Aceh umumnya semakin maju dan mampu bersaing. Akan tetapi, manakala sebuah keiatan hanya berbau “asal habis anggaran” atau “yang penting ada”, hasilnya tidak akan memuaskan sama sekali.

          Mungkin kegiatan seperti bisa dimulai dengan fokus pada level tertentu. Misalnya, workshop digelar untuk siswa-siswa sekolah dulu. Sekolah pun masih dapat dibatasi semisal Banda Aceh dan Aceh Besar dulu. Berikutnya dilanjutkan untuk komunitas-komunitas. Harus jelas, apakah lingkup Banda Aceh (boleh jadi Banda Aceh-Aceh Besar) atau lingkup seprovinsi Aceh. di level kabupaten/kota juga bisa mulai hal serupa jika memang mau memajukan seni pertunjukan di daerahnya.

          Kepanitiaan penting melibatkan ahlinya. Sudah bagus kegiatan Khanduri Teater Disbudpar Banda Aceh kemarin dipanitiai oleh orang-orang teater. Namun, membuat pelatihan teater yang panitianya orang teater bukan satu-satunya pilihan. Melibatkan orang yang paham tentang manajemen workshop juga sebuah keharusan sehingga paling tidak estimasi peserta jelas dan tujuannya pun jelas. Kegiatan teater jangan sampai jadi kegiatan yang diteaterkan. Semoga celoteh kecil ini tidak dianggap boomerang bagi dinas maupun panitia, melainkan sebuah catatan kecil demi perbaikan ke depan. Wllahualam

 

Penulis, penikmat seni pertunjukan. Domisili di Banda Aceh

 

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: