Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Ini Aneh, Teungku!

Oleh Herman RN

SEHARUSNYA judul artikel ini adalah “Ini Aceh, Teungku!”. Namun, sengaja saya ganti konsonan C dengan N sehingga menjadi “Ini Aneh, Teungku!” Tentu saja pilihan judul ini tidak terlepas dari berbagai keanehan yang terjadi di Aceh dalam sepekan terakhir. Aceh pun pantas dapat predikat ‘negeri aneh’.

Banyak media menyorot keanehan di negeri Aceh. Koran KOMPAS menulis dengan judul Setahun Meninggal Masih Dapat Promosi. Judul ini tentu masih lebih soft dibanding Ups, di Aceh Orang Meninggal Dilantik Jadi Pejabat (Tempo.co), Gubernur Aceh Lantik Pejabat Almarhum (metrotvnews.com). Tentu masih banyak judul aneh lain pada media lain yang tak mungkin saya list di sini.

Semua itu fakta. “Aneh tapi nyata” pepatah yang tepat untuk menggambarkan kondisi uniknya administrasi pemerintahan di Aceh. Seperti diberitakan banyak media, Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, melantik 422 pejabat eselon II, III, dan IV, di jajaran Pemerintah Aceh. Ironisnya, dalam surat pelantikan tersebut tertera nama Rahmad Hidayat yang sudah sudah meninggal pada 2012 lalu.

Di Aceh, soalan ini jadi perbincangan hangat. Bahkan, ada yang mengusulkan agar Aceh mendapatkan sertifikat Museum Rekor Indonesia (MURI) atas keanehan gubernur melantik orang yang sudah meninggal jadi pejabat eselon IV (Serambi Indonesia, 8 Februari 2012).

Konyol memang, tetapi hal ini harus disikapi dengan bijak oleh Kepala Pemerintahan Aceh. Tidak semestinya ini terjadi manakala para pejabat urusan administrasi pemerintahan adalah orang-orang yang tekun dan teliti. Tekun dalam artian gigih melakukan kerjanya. Teliti dalam artian selalu mawas terhadap apa yang dikerjakan. Apalagi, menyangkut nama dan data angka-angka. Jangankan kesalahan melantik orang yang sudah meninggal, terjadi salah satu huruf saja pada nama orang sudah dianggap fatal. Oleh karena itu, semestinya orang yang menangani hal-hal seperti ini hendaknya orang-orang yang tekun, teliti, dan cermat.

Pepatah Aceh mengatakan nyang utôh tayue ceumulék; nyang lisék tayue keunira; nyang baca tayue ék kayee; nyang dungee tayue jaga kuta; nyang beu-o tayue keumimiet; nyang meugriet tayue meumita; nyang malém tayue beut kitab; nyang bansat tayue rabé guda; nyang bagah tayue seumeujak; nyang bijak tayue peugah haba; ‘yang tukang suruhlah mengukir; yang teliti/cermat suruh menghitung; yang lincah suruh naik pohon; yang bengis suruh jaga keamanan kota; yang malas suruh menjaga/menghuni sesuatu; yang suka sibuk suruh mencari; yang alim suruh membaca kitab; yang bangsat suruh gembala kuda; yang gesit suruh bepergian; yang bijak suruh bertutur kata’.

Hadih maja tersebut menegaskan agar memberikan kepercayaan atau pekerjaan kepada ahlinya. Hadih maja ini dapat pula menyatir keanehan kedua yang terjadi di hari pelantikan para pejabat oleh Gubernur Aceh. Selain melantik orang yang sudah almarhum, Gubernur Aceh ternyata juga melantik mantan pelaku khalwat dalam daftar pejabat yang di-SK-kan. Sungguh, hal ini tidak sesuai dengan hadih maja yang menyebutkan harusnya nyang malém tayue beut kitab; nyang bansat tayue rabé guda.

Aneh pula, di hari yang sama ada pejabat yang sudah datang dengan jas rapinya ternyata tidak jadi dilantik. Hal ini karena posisi dia sudah digantikan oleh orang lain. Dalam SK Gubernur Aceh, nama yang tertulis menduduki posisi Kabid Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi, dan Telematika (Dishubkomintel) adalah Raidin Pinim, M.Ap. dari Aceh Tenggara. Namun, yang dipanggil untuk dilantik adalah Zulkarnain (Serambi Indonesia, 9 Februari 2012). Uniknya, perubahan nama ini disinyalir hanya terjadi dalam waktu beberapa jam sebelum prosesi pelantikan.

Aneh lain di negeri aneh saat pelantikan pejabat yang aneh hari itu ialah terdapat puluhan pejabat yang baru dua-lima tahun tercatat sebagai PNS turut dilantik jadi eselon. Koordinator Gerakan Antikorupsi (GeRAK) Aceh, Askhalani, menilai hal ini sarat nepotisme. Ia menyebutkan ada PNS angkatan 2009 tetapi dilantik jadi Kepala Seksi (Kasi); ada yang baru tiga tahun PNS murni dilantik pula sebagai Kasubbid (Serambi, 8 Februari 2012).

Mencermati berbagai keanehan ini, Komite Peuralihan Aceh (KPA) juga sudah angkat suara. Jubir KPA pusat, Mukhlis Abee, melalui media meminta agar Gubernur Aceh mengevaluasi pelantikan para pejabat eselon yang sarat keanehan tersebut. Barangkali ini juga sesuatu yang aneh tapi harus. Mestinya, Partai Aceh (PA) sebagai pengusung pasang Zaini Abdullah-Muzakir Manaf bertindak cepat dan tegas jika terjadi keanehan pada administrasi Pemerintahan Aceh. Anehnya, sepekan sudah proses pelantikan aneh itu berlangsung, belum ada komentar apa-apa dari PA sehingga KPA ambil sikap.

Apa hendak dikata, beginilah negeri paling ujung Republik Indonesia, yang selayaknya mendapat gelar “Ini Aceh, Teungku!” eit.. “Ini Aneh, Teungku!”

Herman RN, alumin Magister Pendidikan pada Universitas Syiah Kuala,

Penggiat kebudayaan di Banda Aceh

Filed under: Essay, , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: