Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Sastra sebagai Karya Multitafsir

oleh Rismawati
Sastra mempunyai pemaknaan dan pemahaman yang luas. Karena itu, penafsiran terhadap sebah karya sastra dapat timbul ambigu. Multitafsir atau keambiguitasan pula sering menjadikan sastra sebagai jalur penyampaian informasi, kritik, dan sindiran yang sifatnya membangun. Namun, tak tertutup kemungkinan, multitafsir menimbulkan makna bertolak belakang dengan maksud pengarang.
 
Tulisan ini pun lahir dari kemultitafsiran tersebut. Ketika desas-desus di luar—dari kantin kampus FKIP sampai ke sejumlah warung kopi—mengatakan Herman RN dengan “Rumah Aib”-nya yang dimuat Harian Serambi Indonesia, (Minggu, 16 Maret) sedang mencemooh seorang sahabatnya–AA Manggeng (begitu cerita yang kudengar dari beberapa orang teman) lewat cerpennya–, maka saya mencoba menelisip pemahaman “Rumah Aib” tersebut sehingga lahirlah tulisan ini.
Meskipun sebuah karya fiksi, cerpen tetap lahir dari kecerdasan pikir pengarang. Ia berangkat dari imajinasi yang di dalamnya tidak tertutup kemungkinan beranjak dari kejadian nyata, baik yang dialami oleh pengarang atau orang lain. Hanya saja, karena cerita tersebut disebut oleh pengarang dengan nama “cerpen” dan disisipi hal-hal yang kecil kemungkinan dapat diterima di alam nyata, maka ia digolongkan ke dalam cerita fiksi. Hal ini sesuai dengan pendapat para ahli sastra seperti A. Teuw, H.B. Jasssin, Rachmad Joko Pradopo, Herman J. Waluyo, dan beberapa ahli lainnya, yang membagi genre karya sastra secara garis besar menjadi fiksi dan nonfiksi. Fiksi, salah satunya adalah cerpen. Karena itu pula, kebenaran dalam sebuah cerpen masih dapat terbantahkan. Karenanya, multitafsir terhadap sebuah cerpen adalah sebuah keniscayaan.
Melihat rumah aib yang dikatakan Herman adalah sebuah rumah putih yang dibangun setelah musibah mahadahsyat, maka sebuah kewajaran orang-orang beranggapan rumah aib tersebut adalah gedung BRR. Apalagi, dinyatakannya pula banyak orang yang bergabung di sana. Dan sudah menjadi rahasia umum, BRR sering mendapat hujatan serta cela dari masyarakat luas, entah karena bantuan tidak tepat sasaran atau karena memang sama sekali belum ada bantuan. Akhirnya, cela itu (yang dibahasakan Herman dengan “aib) terpercik pada orang-orang yang bergabung dengan BRR. Karenanya, tak urung sebagian orang menasihati temannya agar tak usah lagi bergabung dengan BRR, karena nanti akan dicemooh oleh masyarakat luas.
Namun, karena uang sudah menjadi sebuah kebudayan yang dicari, nasihat untuk tidak bergabung ke sana sering diacuhkan. Bahkan, dalam kearifan orang Aceh, dikatakan bak peng gadoh janggot (karena uang hilang janggut/ulama). Ini pula yang dimaksudkan oleh Herman dalam baris cerpennya, “Tersebutlah AA, seorang lelaki yang kukenal sebagai ulama… Entah karena harta atau uang berlipat, ditambah sebuah mobil mengkilap, AA tiba-tiba sudah berada di rumah itu, rumah putih serupa buih. Serupa buih pula orang di dalamnya, ramai tak terkira.”
Pada bagian lain, dikatakannya bahwa si AA yang sudah bergabung di sana, akhirnya terkena aib. Maka itu, sebuah kewajaran jika orang-orang di warung kopi menganggap Herman, melalui cerpennya sedang mengatai A.A. Manggeng, Direktur Budaya BRR yang dulunya seorang yang konsen terhadap kesenian Aceh. Bukankah kasus film dokumenter Pilkada Aceh yang dibuat oleh BRR tersangkut dengan Satker Budayanya sehingga A.A Manggeng suatu kali pernah mendapat panggilan pemeriksaan terkait kasus itu? Nah, inilah yang dianggap orang dalam “Rumah Aib” terebut, Herman seolah sedang mengatai Manggeng yang mulai terkena cela karena bergabung dengan BRR.
Sabar dulu! Dugaan tersebut bukanlah sebuah simpulan final, hanya karena tokoh diberi nama AA dan rumah yang didirikan setelah musibah tsunami. Kembali pada pembuka tulisan ini, pemahaman terhadap cerpen dapat multitafsir. Maka, tidak tertutup kemungkinan AA hanya sebuah nama tokoh, bukan nama sebenarnya. Sebab, masih ada yang lain bernama AA, misalnya AA Gym. Dan seorang kekasih pun sering menyebut pujaan hatinya dengan sebutan AA. Artinya, AA yang dimaksud Herman boleh jadi bukan Direktur Budaya BRR saat ini, boleh jadi pula hanya sekedar nama tokoh.
Demikian halnya dengan rumah aib. Salon atau rumah bordir juga mulai banyak di Aceh setelah tsunami. Bukankah rumah-rumah itu juga menyimpan aib, banyak uangnya? Jadi, bukan hanya BRR semata yang dapat dikatakan dengan rumah aib. Apalagi, itu hanya sebuah cerpen. Artinya, saat orang-orang menuduh Herman sedang mencemooh Manggeng, itu masih bisa dibantahkan, sebab Herman sedang menulis cerpen dengan permainan simbul, bukan menulis essay atau tulisan nonfiksi lainnya.
Kalaupun tujuannya memang benar rumah aib itu adalah BRR, maka “Rumah Aib” dapat dijadikan sebuah nasihat. Nasihat agar orang-orang di sana tidak berlalai dengan uang, karena tujuan BRR membantu masyarakat korban, bukan sekedar mengeruk uangnya. Jika pun Herman menujukan cerpennya kepada A.A Manggeng seperti kata orang-orang di Solong beberapa waktu lalu, saya kira itu hanya sebuah rasa kepedulian Herman kepada Manggeng. Apalagi, di samping seorang sahabat, A.A. Manggeng juga pernah menjadi tempat Herman belajar. Dengan demikian, melalui “Rumah Aib” boleh jadi Herman merasa kasihan terhadap sahabatnya yang mulai kena aib BRR seperti kasus film dokumenter beberapa waktu lalu itu. Saya katakan hanya sebagai sebuah rasa kasihan, sebab saya menangkap pembelaan Herman kepada Manggeng di sana. Hal ini terlihat dalam barisan kalimat, “Demikian kudengar tentang AA dari orang kampungku. Mereka mulai bergunjing tentang lelaki yang tak memiliki rambut keriting itu.”
Ada permainan simbul berikutnya di sana, yakni “Tak memiliki rambut keriting.” Artinya, Herman yakin kalau Manggeng tak mungkin terlibat kasus dugaan “aib” korupsi. Jadi, “Rumah Aib” hanya sebagai wujud keresahan Herman yang hendak menasihati sahabatnya agar jangan sampai kena aib.
pernah dimuat di Harian Serami Indonesia

Filed under: Essay

One Response

  1. putri mengatakan:

    apa yang dimaksud karya sasrta multitaksir?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: