Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Antara Aceh, Penang, dan Pattani

herman_rnMENEMPUH perjalanan darat dari Penang ke Thailand semestinya mengasyikkan. Selain dapat menikmati sejuknya hutan di kiri-kanan jalan, ada banyak kesempatan yang dapat digunakan untuk saling kenal sesama penumpang dalam bis. Sebagai orang Aceh, saya suka perjalanan ini. Dalam benak saya, ada banyak hal yang akan saya tanyakan pada penumpang di sebelah nantinya, terutama kaitan Aceh dan Pattani dalam lembar sejarah. Karena itu, dari Aceh saya sengaja turun pesawat di Penang dan melanjutkan perjalanan darat ke Pattani.

Ada 10 penumpang dalam bis yang saya tumpangi tambah satu supir. Bis ber-AC ini membuat saya semakin yakin perjalanan akan tambah nyaman. Dari 10 penumpang, hanya satu bulek asing, 8 lainnya warga asli Thailand, yang mungkin sedang belanja ke Penang. Supir bis itu juga seorang Thailand.

Saya perhatikan keakraban antara sesama penumpang dan antara penumpang dengan Bang Supir. Mereka selalu bercakap-cakap dalam bahasa Thai. Saya pasang kuping baik-baik agar paham pembicaraan mereka. Namun, karena bicaranya yang terlalu cepat, saya sedikit susah memahami mereka.

Saya duduk tepat di belakang supir. Ingin rasanya saya menegur Bang Supir dan mengajaknya berbincang, tentu saja dalam bahasa Melayu. Namun, kesibukannya bercerita dengan penumpang paling depan membuat saya melih jadi pendengar saja.

Sesampai perbatasan Penang-Thailand, akhirnya Bang Supir menegur saya. Ia bicara dalam bahasa Thai. Lama saya terdiam. Saya perhatikan sikap dan gaya berbahasanya. Saya mencoba menebak kalau ia sedang bertanya soal tujuan. Saya jawab dengan bahasa Melayu. “Saya turun di Hatyai.”

Ia bertanya lagi dalam bahasa Thai. Hanya satu kata yang saya paham, “Hatyai”. Ia ulangi pertanyaannya beberapa kali, tetap saja saya tak paham. Penumpang lainnya pun mencoba menengahi kami, tapi kami sama-sama linglung. Mereka menjelaskan banyak hal dengan bahasa Thai, yang menurut saya soal tujuan bis ini, dimana saya turun, dan mungkin saja mereka bertanya apakah saya ada yang jemput atau tidak nantinya.

Saya kira mereka paham bahasa Melayu. Saya sudah berusaha menggunakan bahasa Melayu dialek Malaysia dengan intonasi lambat, tapi tetap saja mereka menyahut dalam bahasa Thai. Sedikit jengkel, saya ucap sebuah kalimat dalam bahasa Aceh, “Lon meujak u Pattani. Lon tron di Hatyai. Euteuk na ureueng nyang jak tueng.”

Semua mereka, penumpang dan supir bis itu terdiam. Mereka melongo mendengar bahasa Aceh. Sekejap kemudian saya ucapkan tujuan saya dalam bahasa Inggris seadanya. Bulek yang tadi diam menyimak kami langsung merespon. Namun, tidak demikian dengan para penumpang dan supir bis. Mereka tetap tak paham.

Saat bicara dengan bulek itu, saya lihat Bang Supir menggunakan bahasa isyarat, sambil mengucapkan nama-nama tempat. Akhirnya, saya pun terpaksa menggunakan bahasa isyarat.

Sungguh di luar dugaan saya.     Mestinya warga Thailand paham bahasa Melayu. Apalagi, Thailand merupakan salah satu rumpun Melayu. Agaknya pengaruh politik membuat bahasa Melayu terkesan didiskriminasi.

Seorang dosen pada Yala Islamic University berujar, “Umumnya penutur bahasa Melayu adalah muslim, sedangkan Thailand dikuasai oleh Budha. Agar Islam tidak berkembang di Thailand, dibentuklah upaya agar orang-orang tidak menggunakan bahasa Melayu.”

Mungkin saja hal itu benar. Setiap hari, siaran telivisi Thailand menggunakan bahasa Thai. Permainan politik media pun tampak dari acara yang disiarkan. Ada stasiun televisi misalnya yang khusus memberitakan hal-hal positif di pemerintahan. Namun, ada juga televisi, seperti Blue Sky TV, yang menyiarkan berita-berita kontra pemerintah.

pos aparanNyaris saban waktu stasiun teve yang ini menyiarkan aksi demonstrasi terhadap pemerintah Thailand. Dari siaran telivisi itu diketahui bahwa demonstrasi tidak boleh dilakukan di depan kantor istana negara Thailand. Jika terlalu dekat dengan istana negara, berlaku darurat pemerintah. Siapa saja akan ditangkap oleh aparat keamanan. Itu sebab mereka berdemo sedikit berjarak dari istana negara.

Kendati pro kontra terus dibangun oleh media massa, semua stasiun televisi di Thailand punya program bersama. Setiap hari, mereka menyiarkan lagu kebangsaan, pagi pada pukul 08.00 dan petang pada pukul 18.00. Maka, jangan heran setiap hari di jam itu, semua telivis Thailan yang kita tonton akan menyiarkan lagu kebangsaan.

“Setiap hari warga diperdengarkan lagu kebangsaan. Tujuannya agar rakyat Thailand bersatu, punya semangat kebangsaan bersama, tapi nyatanya tak juga,” tutur Ku-Ares, dosen Yala Islamic University (YIU).

Menurut Ketua Jabatan Bahasa Melayu YIU ini, bahasa Melayu sulit hidup di Thailand. Semacam ada upaya diskrimanisi yang dibangun oleh pemerintah tempo dulu, karena rata-rata penutur bahasa Melayu adalah muslim.

Ku-Ares mengaku sedih dengan kondisi ini. Menurut dia,  larangan menggunakan bahasa Melayu oleh pemerintah tempo dulu merupakan tindakan pembodohan bagi rakyat. Jika hal ini terus dilakukan, tambah Ku-Ares, setiap rakyat Thailand akan ketinggalan dengan bangsa-bangsa luar.

“Ketika mereka keluar, katakanlah ke Malaysia saja, mereka kewalahan, karena bahasa Melayu saja tak bisa,” ujarnya.

Apa yang dikhawatirkan oleh dosen YIU ini ada benarnya. Sepanjang jalan Penang-Thailand, saya hanya mendengar para penumpang bis berbahasa Thai. Ketika saya ajak berbahasa Melayu, semuanya kewalahan. Mereka hanya paham satu dua kata bahasa Melayu. Itu sebab, bahasa isyarat jadi pilhan kami selama dalam perjalanan tersebut.

Kampus Yala Islamic University

Kampus Yala Islamic University

Herman RN, warga Aceh, sementara mengajar di Yala Islamic University

Filed under: Feature

2 Responses

  1. safriandi mengatakan:

    Nyan tanda koma bak rincian, ejaan bahasa Malaya nyoe, Abu?😀

  2. safriandi mengatakan:

    Nyan rincian bak judul mmg saboh koma, Abu? Peue nyan ejaan bahasa Malaya di Thailand, Yala lUniversity? hehehe Just kiding….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: