Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Pattani, Acehnya Thailand

Serambi Indonesia, 13 November 2013

OLEH HERMAN RN,

(Alumnus Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah, mengajar di Yala Islamic University (YIU), melaporkan dari Thailand)

hermanSAYA pernah dengar bahwa Provinsi Pattani di Thailand itu mirip Aceh. Namun, saat itu saya belum sampai pada kesimpulan apa yang membuat Pattani dikatakan mirip Aceh. Tiga hari lalu saya ke Pattani melalui Penang. Dari Penang ke Pattani, saya menumpang bus umum.

Memasuki perbatasan Penang-Thailand, saya lihat banyak polisi di sepanjang jalan. Mereka sedang razia. Mulanya saya kira itu sweeping biasa, pemeriksaan kelengkapan surat-surat kendaraan. Namun, lepas dari sweeping itu, muncul lagi rombongan polisi lainnya. Tak lama kemudian, ada lagi rombongan polisi lain yang sweeping.

Dari balik kaca jendela bus yang saya tumpangi, tampak aparat keamanan berpakaian serbagelap. Bersenjata laras panjang yang siap tembak. Di pinggir jalan, beberapa penumpang kendaraan umum berjongkok. Bus mereka diperiksa dan penumpang disuruh turun.

Entah karena bus yang saya tumpangi semuanya berisi perempuan dan hanya saya–bule asing–dan sang sopir saja yang laki-laki, bus kami dipersilakan jalan terus. Saat itulah saya terbayang masa-masa konflik Aceh-Indonesia (Jakarta).

Pemandangan yang baru saja saya amati tidak beda dengan kondisi Aceh pada periode 1990 sampai 2004. Saat itu, di sepanjang jalan raya di Aceh, baik lintas barat maupun timur, sering terjadi sweeping. Pelakunya aparat keamanan negara dengan senjata lengkap. Sesekali ada pula sweeping dari pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Ingatan akan masa-masa sulit ke situasi konflik Aceh itu terus menemani perjalanan saya. Begitu segar di ingatan, kala itu rakyat biasa bahkan siswa dan mahasiswa sering dirazia. Mereka diperiksa, ditanyai, disuruh push-up, scott jump, bahkan kadang dipukuli. Saya sendiri pernah mengalami hal itu saat berangkat kuliah dari Aceh Selatan ke Banda Aceh.

Tapi kekhawatiran saya terlalu berlebihan. Konflik di selatan Thailand ini tak separah Aceh-Indonesia. Sesampai di Hatyai, pemandangan sweeping polisi dengan pakaian serbahitam tadi hilang. Saya pun lega.

Di Hatyai, saya dijemput oleh Ku-Ares Tawandorloh, Ketua Jurusan Bahasa Melayu, Fakultas Sastra dan Sain Kemasyarakatan, Yala Islamic University. Malam selepas magrib, dengan sedan Ku-Ares, kami menuju Pattani, tempat Yala Islamic berada. Perguruan tinggi Islam ini terdapat di bagian ujung Pattani, perbatasan dengan Provinsi Yala.

Dua jam perjalanan dari Hatyai ke Pattani, lagi-lagi saya temukan pos keamanan. Seperti Aceh masa koflik, pos di sepanjang jalan selatan Thailand ini juga berdekatan. Terkadang, tak sampai hitungan kilometer, kita sudah jumpai pos lainnya. Setiap pos ada bentengnya, dibuat dari pasir dalam karung plastik. Di depan pos, tepatnya di tengah jalan raya, diberi pagar kawat dan kayu-kayu melintang.

Suasana seperti ini tentu saja mencekam bagi setiap pendatang. Namun, tidak demikian bagi penduduk asli. Mereka sudah terbiasa dengan kondisi ini, sama seperti biasanya orang Aceh yang sudah 29 tahun hidup dalam suasana konflik. Orang-orang Thailand selatan ini juga sudah terbiasa dengan suara bom yang meledak tiba-tiba. Mereka sudah hapal bulan-bulan apa saja “musim bom”, seperti orang-orang Thailand Utara yang hapal bulan apa saja bakal terjadi banjir.

Di Thailand Selatan ini, ada tiga provinsi basis konflik: Pattani, Yala, dan Narathiwat. Di provinsi-provinsi ini nomor handphone Indonesia saya tak bisa diaktifkan, meskipun sudah daftar roaming. Setiap orang harus beli kartu Thailand untuk hp-nya dengan syarat fotokopi paspor.

parkir di tengah jalanDi Provinsi Yala, pos-pos keamanan merambah hingga ke pasar dan pusat kota. Di perbatasan Pattani-Yala, posnya lebih besar dengan penjagaan 24 jam. Selain kayu dan kawat berduri, jalan di depan pos ini juga dilengkapi polisi tidur. Roda dua diberi jalur paling tepi. Roda empat di jalur tengah. Ada pagar kawat yang membatasi jalur roda dua dan roda empat saat melintas di depan pos tersebut.

Di pasar Kota Yala, pos-pos keamanan juga dengan penjagaan ketat. Pada setiap pos terpasang kamera CCTV yang selalu merekam apa saja. Uniknya di sini, ada bagian yang lokasi parkir kendaraan dibuat di tengah jalan. Kendaraan yang lalu lalang mengambil jalur pinggir jalan. Untuk parkir, sila letakkan kendaraan Anda di tengah jalan.

Hal ini demi menghindari percikan bom dari kendaraan. Kekhawatiran warga, jika ada kendaraan yang diselipkan bom, saat meledak bisa meruntuhkan toko atau melukai orang di dalam toko. Jadi, risikonya terhadap bangunan dan warga diperkecil dengan cara memarkir kendaraan di tengah jalan.

Kendati kehidupan di sana terkesan mencekam, tapi masyarakat setempat masih bebas beraktivitas. Cuma, pemandangan itu akan terkesan seram bagi para pendatang. Oleh karenanya, konflik di Thailand Selatan ini mesti segera diselesaikan. Mungkin, Thailand mesti belajar dari cara Aceh menyudahi konflik.[]

Filed under: Feature, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: