Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Lawan Bukan Berarti Musuh

SEORANG teman pernah berkata begini, “Kita lawan, tapi bukan musuh”. Harus diakui, banyak orang tidak menyukai adanya lawan. Namun, jika persepsi ini diluruskan seperti ungkapan di atas, tentunya lawan akan terus dicari orang dalam hidupnya.

Lawan bukanlah musuh sehingga tak mesti harus ditakuti atau dibenci. Lawan akan membuat kita lebih paham terhadap segala kekurangan diri, organiasi, dan sistem. Hanya lawan yang mau menyebutkan segala kekurangan dengan jujur.

Adapun kawan, cenderung jadi pengikut dan penurut. Kawan selalu hanya melihat hal positif pada diri kita. Jikapun ada hal negatif, tak selamanya kawan mau memberi tahu. Kalaupun ia beri tahu, alakadar saja. Ada rasa khawatir dalam diri kawan jika sesuatu yang negatif diberi tahu akan muncul jarak. Atas dasar ini, lawan sesungguhnya adalah kawan yang bijak, yang selalu mau memberi tahu segala kekurangan pada diri dan organisasi yang kita miliki.

Dalam kasus lebih sederhana, misalnya KPK adalah lawan setiap pejabat. Namun, KPK bukanlah musuh pejabat. Jika sesama kawan pejabat terkadang ada keengganan dalam membocorkan rahasia kawannya, meskipun ia tahu itu korupsi dan merugikana anggaran negara, maka hadirnya KPK sebagai lawan dapat memperbaiki kinerja pejabat, setidaknya mengurangi korupsi.

Dalam kasus lainnya,kritikus sering dianggap musuh oleh segolongan orang. Padahal, tatkala ia memberikan kritik, misalnya saja soal birokrasi pemerinatah, dia sebenarnya sedang memberikan masukan terhadap hal-hal yang tidak baik. Setelah diketahui hal yang kurang atau tidak baik itu, tentu tugas berikutnya memperbaiki. Maka, kritikus juga lawan yang mestinya ada di semua sisi kehidupan.

Singkatnya, setiap lawan adalah kawan yang bijak, yang mau memberitahukan segala kekurangan orang lain. Hanya saja, banyak orang menganggap lawan sebagai musuh. Padahal, lawan bukan bearti musuh, tetapi musuh sudah pasti lawan. Tentu saja cara bersikap dengan musuh yang sudah menjadi lawan berbeda dengan cara bersikap pada lawan yang bukan beartu musuh.

Maka, kutipan bijak seorang teman itu terus terngiang di telinga saya, terutama tatkala ada yang mesti dikritik. Kata kawan itu, boleh jadi “kita LAWAN, tapi bukan MUSUH!”

Herman RN

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: