Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Menyentil Cara Berpikir Tukang Dakwah

Oleh Herman RN

ummah wahidahBAGAIMANA membangun karakter pendidikan yang berakhlak kharimah mencuat dalam seminar antarbangsa di Universiti Fatoni, Thailand Selatan. Tentunya saja, hasil seminar ini menjadi menarik, mengingat Indonesia pun sedang mencoba membangun karakter pendidikan dalam kurikulum terbarunya, yang menekankan akhlak (karakter) bagi peserta didik.

Selain itu, seminar yang digelar pada Selasa, 24 Desember 2013 itu mendatangkan para pakar dari Indonesia, selain Thailand dan Malaysia. Ada dua pembicara dari Indonesia, dr. Aswin Rose bin Yusuf (Pembina Jam’iyatul Islamiah Indonesia) dan Prof. Dr. Syahrin Harahap, M.A. (Ketua Forum Kerja Sama Pengajian Tinggi Asia Tenggara). Mereka ke Thailand bersama lebih kurang 70 orang dari berbagai provinsi di Indonesia. Adapun dari selatan Thailand, yang menjadi narasumber adalah Prof. Madya Ismail Lutfee Capakiya (Rektor Universiti Fatoni) dan Dr. Mazlan Mahama (Timbalan Rektor bagian akademik Universiti Fatoni). Seminar ini merupakan kerja sama Universiti Fatoni dan Forum Pengajian Tinggi Asia Tenggara.

Banyak hal bisa dicatat tentunya, tapi tidak mungkin semua dapat saya tuangkan di sini. Oleh karena itu, beberapa poin penting yang saya kira sangat mendasar untuk didiskusikan ulang kembali, patut saya paparkan ulang di sini. Poin-poin yang hendak saya diskusikan itu menyangkut pemikiran yang disampaikan oleh Azwin Rose selaku Dewan Pembina Jam’iyatul Islamiah Indonesia. Harapan saya, Azwin juga akan menulis dan memberikan jawaban atas beberapa keresahan yang tak terjawab ini.

Hal pertama yang penting dibicarakan ulang adalah soal karakter dan akhlak yang jadi titik fokus para narasumber. Tatkala seorang pendakwah kerap menyampaikan agar orang lain berbuat baik, tentunya diri si pendakwah mesti berbuat baik pula. Kala ia mengatakan setiap orang harus sabar, jangan terpancing emosi, hendaknya ia juga mesti sabar dan tak terpancing emosi. Maka, sangat lucu tatkala pertanyaan saya harus dijawab oleh Aswin dengan bentakan, “Anda catat ini yang saya bilang.” Ia ungkapkan kalimat itu sampai tiga kali, meskipun dari tempat saya duduk, saya sudah memberi kode bahwa saya sedang mencatatnya. Saat menyambung penjelasannya, dewan pembina Jam’iyah Islamiah Indonesia ini juga mengulangi kalimat yang sama sampai beberapa kali. “Anda catat yang saya katakan ini. Buka alquran surat sekian ayat sekian!”

Saya tidak habis pikir, apakah layak seorang narasumber dan da’i menyentak-sentak saat memberikan jawaban kepada peserta. Apakah ini aplikasi dari akhlakul kharimah yang sedang ia paparkan? Pasalnya sangat sederhana. Saya bertanya, “Bagaimana cara membuktikan dengan rasio bahwa Muhammad itu tidak pernah mati, bahwa ia ada di baitullah.” Pertanyaan ini tentu saja saya lontarkan karena Aswin menyebutkan demikian. Alasan Aswin menyatakan Muhammad tidak pernah mati, karena ia pernah masuk ka’bah dan dalam baitullah ada tulisan Muhammad dan Allah. Lalu, ia mengisahkan pengalamannya yang pingsan hingga 45 menit dalam baitullah dan berpikir untuk tidak mau kembali lagi ke luar.

Tentu saja saya menginginkan penjelasan secara logis dan rasional untuk membuktikan bahwa tulisan محمد dalam baitullah adalah Muhammad sebenarnya yang tidak pernah mati. Saya tidak ingin terjebak dengan simbol. Jika tulisan di sana disebut sebagai kenyataan tentang sosok Muhammad saw., pertanyaan sederhana saya, bagaimana dengan tulisan yang sama di tempat-tempat umum lainnya? Maka saya sampaikan pada narasumber ini, “Saya butuh penjelasan secara rasio agar mudah saya sampaikan kepada orang lain dalam berdakwah.”

Sungguh saya tidak menyangka akan mendapatkan hardik semacam itu, apalagi dalam forum resmi. Saya dapat menerima penjelasannya bahwa yang mati adalah jasad, sedangkan ruh tak pernah mati. Namun, ruh bukan hanya ada pada Muhammad, tetapi juga dimiliki oleh setiap manusia. Jika asumsinya, Muhammad tidak pernah mati karena ruh tak pernah mati, tentu saja hal yang sama dapat disematkan pada manusia biasa lainnya. Inilah yang menjadi pertanyaan saya.

Jujur saja, saya kecewa dengan jawaban seorang da’i seperti itu. Apalagi, selain menghardik, ia juga mengatakan, apa yang disampaikannya itu tidak perlu diberitahukan kepada orang lain. Artinya, yang ia sampaikan bahwa Muhammad tidak pernah mati cukup diketahui oleh orang-orang dalam forum tersebut. Saya menangkap adanya larangan berdakwah di sini. Padahal, kita dianjurkan “Sampaikanlah yang benar itu, walaupun satu ayat.”

fatoniDari cara ia menjawab ini, ragulah saya tentang apa yang ia kisahkan bahwa ia masuk ke baitullah dan pingsan selama 45 menit di dalam sana. Pertanyaannya, siapa yang bisa menjadi saksi akan peristiwa tersebut, selain istrinya sendiri? Perlu juga ditanyakan, apakah segampang itu orang boleh keluar masuk dari dalam ka’bah?

Menarik pula menyentil cara berpikir Aswin yang menganggap teknologi tidak  penting. Hanya memperbudak manusia. Ia katakan bahwa teknologi bukan jalan mencari kebenaran.

Manakala dipandang dari satu sisi, mungkin teknologi memang bukan satu-satunya jalan mencari kebenaran. Kata “kebenaran” di sini harus didefinisikan sebagai kebenaran hakiki, yang hanya ada pada Allah swt. Aswin lupa bahwa teknologi merupakan hasil cipta manusia. Teknologi diciptakan karena kebutuhan, yang kadang kebutuhan untuk mencapai kebenaran.

Dalam banyak referensi dikatakan bahwa Neal Amstrong adalah manusia pertama yang naik ke bulan. Seturun dari sana, ia memeluk Islam sehingga dijauhi oleh NASA. Amtrong ke bulan tentu menggunakan teknologi. Aswin serta rombongan ke Thailand juga dengan alat teknologi. Maka, naif sekali jika seorang da’i menyebutkan jangan percaya teknologi.

Hal menarik lainnya tentang cara berpikir Aswin, saya dapatkan dari salah satu rombongan Jam’iyah Islamiyah Indonesia yang hadir dalam forum tersebut. Kata bapak-bapak itu, Aswin tidak pernah menulis buku, karena buku tidak penting. Tentu saja hal ini langsung saya bantah dengan spontan. “Apakah beliau sanggup berdakwah dari satu pintu ke pintu lain, dari satu negara ke negara lain?”

Pertanyaan ini ditinggalkan begitu saja. Akhirnya saya menyimpulkan, pantas saja dari 70 rombongan itu tidak ada satu pun dari Aceh. Pola pikir mengenyampingkan teknologi tidak cocok di Aceh, karena orang Aceh percaya teknologi dapat memberikan solusi. Apalagi soal menulis yang diabaikan kelompok ini. Bagi masyarakat Aceh, sudah mulai percaya bahwa menulis adalah suatu kebutuhan, bersebab dongeng pun akan jadi sejarah jika dituliskan, sebaliknya sejarah jadi dongeng jika hanya dilisankan. Wallahualam bisshawaf.

Filed under: Essay

15 Responses

  1. Joni simanjuntak mengatakan:

    Anda terlalu pintar broo..
    Sehingga tidak bisa memahami hal sederhana…
    Alias OON..

  2. Sahril mengatakan:

    Akh’ Joni kita harus Bijaksana dalam segala Hal…🙂

  3. zufri achmad mengatakan:

    itu bagian dari dakwah bung,,tegas bkn berarti membentak..

  4. lidahtinta mengatakan:

    Terima kasih tanggapannya

  5. yaxer mengatakan:

    Pertanyaan Penulis ini mengingatkan saya akan pertanyaan seorang Abu Jahal kepada muhammad yang menginginkan penjelasan rasional yang bisa membuktikan Nabi bisa melakukan perjalanan Isra wal Mi’raj..sering-seringlah membaca kitab didalam hati anda sendiri Bung…

  6. risal mengatakan:

    Bagi penulis,saran saya pisahkan 10 maksiat bathin dalam diri anda dan tarik suara hati yang suci sesungguhnya dalam diri anda. ANDA AKAN MENEMUKAN KEBENARAN HAKIKI YANG SESUNGGUHNYA. Kata pepatah lama HAKEKAT TANPA SYARIAT ITU BATAL SYARIAT TANPA HAKEKAT HAMPA saudaraku. Jika engkau mengaku pengikut rasullullah di baitullah dilarang bantah berbantahan (QS.xxx). Kekuatanmu akan lemah.Semiga allah dan rasulNya meridhoi kita semua.

  7. rizka mengatakan:

    Gimana si ayah(bapak pembina) caranya kalau mau jadi pembantu ayah(bapak pembina)?

  8. wawa mengatakan:

    Dlm menulis hendaknya jgn ada unsur menjelek jelekan,fitnah,dr tulisan anda sj sdh jelas kalau hanti anda ada penyakit,pakai mata hati maka anda tdk akan sembarangan dalam berbicara.

  9. nur mengatakan:

    Smoga tuhan menunjukan jalan yg terang

  10. haman zennarto mengatakan:

    saya sangat kasihan dg saudaraku yg memberi komentar trhadap isi dakwah pembina jam’iyyatul islaamiah. krn hatinya sangat keras, merasa pintar, seharusnya pintar lah merasa. dan tidak bisa membedakan manusia dengan ruh atau mu’min, wajar siapa yg bersifat manusia pasti dia suka menantang sekalipun dengan Tuhannya. apa lagi dengan orang lain. utk itu ikutlah lagi acara di jam’iyyatul islamiah saudara ku. terima kasih mohon maaf. wasalam,

    • lidahtinta mengatakan:

      Saudaraku, Haman, tak perlu melakukan pembelaan taklid buta hanya karena Anda seorang pengikut jam’iyatul islamiah. Coba jelaskan kepada saya bagaimana membuktikan bahwa Muhammad ada dalam ka’bah dan tidak mati. Saya belum menemukan satu hadis apalagi firman yang menyebutkan Muhammad tidak pernah mati.

      • haman zennarto mengatakan:

        assalamu’alaikum wr. wb. sebelumnya sya mohon maaf atas komentar saya yg terdahulu. karena telah membuat timbulnya sifat marah pada diri bpk, sakali lagi saya mohon maaf. Tentang hal-hal yg bpk belum bisa bpk terima apa yg disampaikan oleh Bpk Pembina Jam’iyyatul islamiah sampaikan, menurut saya tergantung bpk sendiri. kalau dg hati bpk yg tulus ingin mengetahui dasar ataudalilnya saya yakin pasti ditunjukkan, caranya bpk temui langsung bpk pembina jam’iyyatul islamiah atau pendakwah pimpinan pusat. tapi sebelum mau bertemu menurut saya bpk banyak2 lah berdoa dahulu kepada Allah, semoga hati bpk benar2 ingin mengetahui dg cara sabar bukan dengan emosi terima kasih, waalaikum salam, wr.wb`

  11. Kurniawan mengatakan:

    Bapak Penulis yg baik,

    Mungkin perlu dicermati kalimat demi kalimat yang disampaikan oleh siapapun, karena tidaklah adil dalam mengomentari suatu hal tanpa mengutip keseluruhan hal yang disampaikannya. Seringkali hal ini menjadi fitnah dari kekurangpahaman kita sendiri akan hal tersebut. Apabila Bapak mencatat hal-hal yang disampaikan, maka akan lebih bijaksana bila mengutip langsung keseluruhan kalimat daripada menuliskan pendapat kita sendiri. Tentunya hal ini sudah diajarkan turun temurun di dunia pendidikan bahwa mengutip itu harus jelas sumbernya dan ditulis utuh, bukan langsung pada kesimpulannya, sehingga orang lain dapat menilai.

    Misalnya bagaimana cara Pendakwah berkata kalau teknologi tidaklah penting? Apakah benar secara eksplisit kalimatnya demikian? Atau hanya interpretasi kita saja yang mendengar setengah-setengah? Atau memang karena kita sudah anti dengan Pendakwah tersebut sehingga tertutup mata batin kita dan tidak mau mendengar keseluruhan. Seringkali hal tersebut terjadi di masyarakat kita.

    Inilah yang terjadi di dunia maya hasil teknologi ciptaan manusia yang Bapak katakan. Kebanyakan menimbulkan mudharat dengan banyak meninggung orang lain yang mendapatkan informasi disitu. Sehingga bila tersinggung terjadilah perdebatan, permusuhan hingga kekacauan di dunia. Ingatkah bahwa telah terjadi keruntuhan suatu negara akibat sosial media di dunia maya yang adalah hasil dari ciptaan manusia? Atau teknologi pesawat tempur yang banyak memakan korban tidak berdosa yang notabene adalah hasil ciptaan manusia.

    Ya mungkin itu saja saran saya untuk menuliskan seluruh kutipan yang Bapak telah catat sehingga kita semua disini bisa memahami apa-apa yang disampaikan. Mohon maaf sebelumnya dan semoga Allah dan Rasul-Nya selalu membimbing kita ke jalan yang lurus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: