Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Maaf Politisi untuk Aceh (episode 2)

google1MENYAMBUNG tulisan pertama “Maaf Politisi untuk Aceh (1)”, berikut paparan kelanjutannya. Keempat, rezim Megawati Soekarno Putri. Siapa yang tak kenal dengan anak Soekarno ini? Pepatah mengatakan bahwa buah yang jatuh takkan jauh dari pangkal pohonnya. Begitulah tamsil antara anak dan ayah. Jika sebelumnya Soekarno pernah mengkhianati Aceh dengan janji “Sistem pemerintahan Islam”, Megawati berkhianat dengan janji tanpa setetes darah.

Kala itu Mega berusaha mengambil hati orang Aceh dengan menjuluki dirinya sebagai “Cut Nyak”. Gelar ini mestinya hanya bagi pahlawan wanita Aceh. Entah dari mana pula Mega berani menjuluki dirinya sebagai “Cut Nyak”. Saat kampanye di Blangpadang, Mega sempat berorasi, “Jika Cut Nyak terpilih jadi presiden, takkan saya biarkan setetes darah pun tumpah di Aceh.”

Ludah yang sudah keluar mestinya jadi milik tanah. Namun, Mega telah menjilat ludahnya. Rakyat Aceh kembali mesti meregang nyawa semasa pemerintahan Megawati. Ia terapkan Darurat Militer di Aceh. Militer menjadi penguasa mutlak di Aceh kala itu. Disebutkan bahawa Operasi Militer rezim Megawati merupakan operasi militer terbesar di Indonesia setelah Operasi Seroja (1975). Lagi-lagi Aceh kena tipu politisi.

Setelah Mega, tentu saja nama Susilo Bambang Yudhoyono yang mesti jadi perhatian. Pria yang akrab disapa SBY ini pernah menduduki posisi militer, antara lain Menko Polsoskam masa Gus Dur dan sebagai Menko Polkam semasa Megawati. Artinya, ia juga pernah memiliki kebijakan militer terhadap Aceh kala itu. Hanya saja, jejak kekerasan militer terhadap Aceh ala SBY tak begitu kelihatan jelas, karena SBY mengundurkan diri dari Menkopolkam sejak 11 Maret 2004. Namun demikian, janji kampanye SBY selama dua periode cukup dijadikan alasan apakah rakyat masih memilih SBY atau tidak dalam Pemilu mendatang. Kembali ke hati dan pikiran rakyat sendiri!

Kelima, nama yang penting dibicarakan adalah Prabowo Subianto. Dalam kaitannya dengan Aceh, perlu dicatat bahwa Prabowo adalah Wakil Komandan Komando Pasukan Khusus (Kopasus) pada tahun 1994, lalu menjadi Komandan Kopasus tahun 1995-1996, dan sebagai Komandan Jenderal Kopasus 1996-1998. Tentu saja kebijakan militer di Aceh selama DOM turut campur tangan Prabowo, selain Wiranto.

Kini, Prabowo sudah minta maaf kepada rakyat Aceh. Secara disadari atau tidak, sebuah permintaan maaf tentu muncul karena ada rasa bersalah. Munculnya rasa bersalah tentu pula lazimnya karena ada sesuatu yang diyakini berkeselahan. Di sini, Prabowo berarti mengakui Kopasus bersalah terhadap Aceh sehingga ia minta maaf atas nama Komandan Kopasus.

Permintaan maaf Prabowo dituturkannya kepada media online di Aceh saat ia mengunjungi Aceh beberapa hari lalu. Di sana disebutkan bahwa Prabowo menyatakan permintaan maaf atas perilaku Kopasus di Aceh masa silam. Perlu digarisbawahi, permintaan maaf seperti ini sudah pernah dilakukan oleh Megawati sebelum naik menjadi presiden. Mungkinkah Prabowo adalah mimpi buruk Aceh seperti Mega juga. Entahlah, dalamnya hati seseorang tiada yang tahu. Yang jelas, Aceh sudah sering kena tipu janji kampanye.

Perlu dilihat pula nama Wiranto. Ia merupakan calon presiden juga pada Pemilu tahun ini. Dalam kaitannya dengan Aceh, Wiranto adalah Panglima Tertinggi TNI masa Soeharto. Ia menjabat sebagai Panglima TNI selama Aceh berstatus Daerah Operasi Militer. Artinya, “dosa” Wiranto cukup besar juga untuk rakyat Aceh. Hanya saja, Wiranto belum mengeluarkan permintaan maaf seperti Mega dan Prabowo. Mungkin tak lama lagi dan rakyat Aceh tak perlu menanti!

Begitulah politik, terlalu sulit ditebak. Jika bengkok, ia lebih bengkok daripada arit. Saat berbelit, ia lebih pelik daripada akar. Entahlah… Di sisi lain, kini orang Aceh disibukkan dengan saling bunuh sesama Aceh. Demi kursi dewan, rekan seiring sejalan “dilenyapkan”. Masa DOM jelas siapa pembunuh orang Aceh sehingga muncul perlawanan bersama. Masa kini, sesama Aceh saling piting, saling banting. Berkaca pada sebuah hadih maja, tamupaké sabé keudroe-droe, ureueng laén nyang phok-phok jaroe. Wallahualam…[Oleh Herman RN]

googl

Filed under: Essay, , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: