Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Burung Rantau, Fiksi Bagus yang Kurang Teliti

Oleh Herman RN

Judul Buku: Burung Rantau Pulang ke Sarang |  Penulis: Teuku Azhar Ibrahim  | Editor: Mukhlisuddin Ilyas |  Tebal Buku: 352 + VI hlm. 14 x 20 cm  |  Penerbit: Bandar Publishing  |  Terbitan: Juli 2010

Burung RantauSEJAK lama sudah dinukilkan bahwa karya sastra adalah cermin sejarah pada masanya. Dalam hasanah sastra Melayu pada zaman tertentu, misalnya, cenderung para penulis menyisipkan peristiwa atau budaya yang berlaku pada masa itu ke dalam karya sastra yang ditulisnya.

Hal ini termasuk pada beberapa karya sastra Indonesia. Karya-karya sastra angkatan 20-an cenderung memiliki tema ‘kawin paksa’ dan berkisar tentang pembelaan terhadap kaum perempuan. Contohnya, roman Siti Nurbaya, Azab dan Sengsara, dan lain-lain.

Dalam karya sastra Aceh juga terjadi hal sama. Sebagai amsal, karya-karya Hamzah Fansuri pada zamannya jelas-jelas menyisipkan faham wahdatul wujud. Fenomena yang muncul pada karya-karya sastra di zaman itu juga mencerminkan polemik dalam bidang tauhid.

Jika mau dirunut, hampir tidak ada karya sastra yang lepas dari peristiwa sejarah pada masanya. Oleh karena itu, sebuah kewajaran hingga saat ini, penulisan sejarah dilakukan dalam bentuk karya sastra atau sebaliknya, karya sastra mencoba mengikuti (epigon) terhadap sejarah tertentu.

“Burung Rantau Pulang ke Sarang” goresan tangan Teuku Azhar Ibrahim merupakan contoh. ‘Mengekor’ pada sejarah Aceh, lelaki akrab disapa “Azhar” ini mencoba mengarang kisah seseorang yang menuntut ilmu ke negeri Cina. Tokoh yang diceritakan berhasil menjadi sosok ternama di negeri Tiongkok tersebut jelas cermin dari sejarah seorang Aceh yang merantau ke Cina.

Kenyataannya, memang ada orang Aceh yang mengadu nasib hingga ke Cina pada zaman dulu. Sesampai di Cina, ia menikah dan memiliki keturunan. Pepatah yang mengungkapkan bahwa “setinggi bangau terbang kembalinya ke kubangan jua” terbukti pada lelaki itu. Ia tinggalkan anak lelaki hasil perkawinannya dengan seorang warga Cina di negeri tersebut.

Hal inilah yang dikisah-ulangkan oleh Azhar pada novelnya dengan bumbu-bumbu sastra semisal konflik antartokoh. Cerita diawali dengan adu kelihaian ilmu bela diri mirip dongeng Wiro Sableng. Namun, lambat laun kisah berkisar tentang dayah, pondok pesantren. Sejarah yang dicoba-fiksikan ini oleh pengarang semakin mengafirmasi karya sastra sebagai cermin sejarah.

Dalam buku setebal 300-an halaman itu, hadir tokoh Teungku Chik, yang menjadi ‘cermin’ sebagai orang Aceh perantauan. Disebutkan bahwa Teungku Chik membangun sebuah dayah di kampungnya. Akan tetapi, dalam usia yang semakin renta, ia teringat pada istri pertamanya di Cina. Merantaulah ia ke Cina.

Pengetahuan Sejarah

Perjalanan Teungku Chik ke Cina dituturkan secara apik. Penulis sempat menyisipkan beberapa pengetahuan sejarah pada zaman itu semisal soal kondisi kapal pesiar yang singgah ke dermaga-dermaga di Aceh (bab dua). Keadaan perjalanan laut dari Syam ke Magribi pun dideskripsikan secara apik sehingga pembaca seakan berada langsung di sana.

Sejumlah pengetahuan sejarah pada bagian lain pun bermunculan. Misalkan kondisi dayah di Aceh pada masa lampau, yang begitu kentara sistem “nepotisme” kekeluargaan. Jika pemimpin dayah adalah seorang kepala keluarga, anak lelaki selalu mendapat posisi terhormat dan bakal menjadi penerus dayah tersebut. Adapun istri dan anak perempuan, ‘dipagar’ ketat. Keamanan kaum perempuan di atas segala-galanya.

Bahwa di dayah juga terdapat ilmu bela diri, selain ilmu agama, juga dikisahkan secara baik dalam buku terbitan Bandar Publishing ini. Kendati tidak sering muncul nama Aceh, cerita dayah, perantauan, sejumlah nama tempat (kampung) dalam novel ini sangat kentara untuk menegaskan Aceh adalah latar tempat, tentunya selain Cina.

Ironis, novel seperti ini dikerjakan oleh editor kurang teliti. Masih banyak kesalahan ejaan, mulai dari penggunaan huruf kapital yang tidak jelas tempatnya sampai pemakaian tanda baca yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Melihat kondisi ini, terkadang saya jenuh melanjutkan membaca kisah Teungku Chik. Akan tetapi, kelihaian penulis menarasikan perjalanan “teungku dayah” secara apik menimbulkan rasa penasaran untuk terus ke halaman berikutnya.

Akhirnya, sampailah pada simpulan cerita bahwa yang dimaksud ‘burung rantau’ itu boleh jadi Teungku Chik yang kembali ke Cina, lalu meninggal di sana. Boleh pula diartikan untuk anak Teungku Chik yang mencoba menyusul Teungku Chik, tetapi ia kembali lagi ke kampungnya, Aceh.

Dalam perjalanan panjang anak-anak dayah inilah kadang pembaca bosan ketika dihadapkan dengan banyaknya salah ejaan, bukan sekadar salah ketik. Hampir setiap halaman ada saja kesalahan fatal tentang ejaan, yang semestinya tidak terjadi. Kesalahan seperti ini tidak menggunakan huruf kapital di awal kalimat, tidak memakai tanda titik di akhir kalimat, sungguh menggangu. Belum lagi penulisan paragraf yang tidak konsisten, kadang menjolok ke dalam, kadang menggunakan spasi bawah (enter) rata. Meski buku fiksi, ejaan dan konsistensi paragraf seharusnya tidak dianggap remeh oleh editor.

Saya yakin, banyak pembaca senang dengan kisah seperti yang dituliskan di sini, tetapi tak kurang juga yang kecewa karena diganggu dengan kesalahan edit. Padahal, sampul novel ini begitu meyakinkan pembaca untuk memilikinya, dengan gambar paruh elang dipadu warna senja.

Herman RN

Filed under: Resensi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: