Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Tamadun Islam dalam Sinema

Oleh Herman RN

[Republika, 25 Mei 2014]

99 cah“…Dunia ini bagaikan samudera, jelajahilah dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu, kembangkan keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayungmu, ilmu pengetahuan sebagai nakhoda, dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.” (Ali bin Abi Thalib Karamalllahuwajha).

Sejauh ini, saya belum menemukan istilah khusus untuk perfilman Indonesia. Dalam ranah Melayu pun belum ada nama khusus untuk perfilmannya. Sungguh beda dengan film barat. Mereka punya nama Hollywood. Di India ada film Bollywood. Demikian pula ada film Hongkong. Khusus Indonesia bahkan Melayu, sama sekali belum ada istilah khusus.

Hal ini menjadi penanda bahwa Indonesia masih kalah saing dalam dunia perfilman. Padahal, melalui film, setiap bangsa bisa mengangkat tamadunnya. Ambil contoh orang barat melalui film Hollywood. Nyaris di setiap film mereka ada pertunjukan minuman berkelas di daerahnya, senjata dengan berbagai kecanggihan, dan sebagianya. Dalam film Bollywood juga demikian, sering dipertontonkan tradisi perempuan-perempuan Hindi. Kedua film ini—Hollywood dan Bollywood—mengangkat kehebatan Tuhan dan keyakinan mereka masing-masing.

Sebenarnya, peradaban Islam tak pernah kalah dibanding Hollywood dan Bollywood ataupun film Hongkong. “99 Cahaya di Langit Eropa” merupakan contoh kecil bahwa Islam juga bisa mengangkat peradabannya melalui film. Film yang diangkat dari novel laris dengan judul yang sama ini telah menunjukkan bahwa peradaban Islam adalah poros dari segala tamadun di dunia. Hal ini yang mesti dipertegas oleh setiap sineas Melayu dan Muslim.

Artinya, penulis skenario film pun mesti banyak membaca, banyak menulis, dan penting melalukan riset-riset sederhana. Setidaknya, itu yang terungkap dalam “99 Cahaya di Langit Eropa” baik dalam novelnya maupun filmnya. Kiranya, film ini sangat penting ditonton oleh setiap orang, baik Muslim maupun non-Muslim.

Ada banyak bukti bahwa tamadun Islam sudah berkembang di Eropa sejak lama. Bahkan melalui film ini disebutkan bahwa Islam punya peranan besar dalam perkembangkan kota-kota besar di benua Eropa. Cordoba, sebuah kota yang punya peradaban Islam masa lampau telah menjadi ispirasi bagi Eropa. Jembatan Cordoba di sungai al-Wadi al-Kabir yang sangat terkenal di Eropa itu adalah bangunan jembatan pertama, yang didirikan masa kekhalifahan Umar bin Abdul Azis.

Bukan hanya itu, masjid jami Cordoba, dalam bahasa Spanyol disebut Mezquita, juga merupakan peradaban Islam di benua ini. Nama masjid itu disebut hingga beberapa kali dalam film “99 Cahaya di Langit Eropa”. Diperlihatkan pula patung Bunda Maria yang lebih fenomenal daripada lukisan Monalisa. Pasalnya, selendang yang dikenakan Bunda Maria bertuliskan kalimah “laailahailallah”.

Demikian halnya dengan sebuah patung yang dibuat Napoleon di atas Gerbang Kemenangan di Paris. Patung itu mengarah lurus ke arah Timur. Melalui film ini ditunjukkan bahwa Napoleon membuat patung itu lurus memandang ke timur untuk mengarah langsung ke Mekkah, kiblatnya orang Muslim. Di arah lurus itu pula terdapat sebuah bangunan yang sangat impresif di muka bumi, Ka’bah.

Lagi-lagi bukti akbarnya tamadun Islam diperlihatkan lewat film yang diangkat dari pengalaman Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini. Melalui sejumlah adegan dan karakter tokoh, tampak pula tentang bagaimana orang Islam bersikap yang sebenarnya. Tokoh Fatma selalu mencoba berjuang dengan senyuman. Tokoh Hanum yang mulanya keras kepala menjadi lemah lembut setelah bertemu Fatma. Tokoh Rangga tak pernah marah menghadapi ‘kenakalan’ Maarja. Tokoh Khan berjihad dengan pena pemberian ayahnya.

Singkatnya, film ini sangat inspiratif untuk ditonton oleh siapa saja. Film ini dapat dikatakan sebagai film yang benar-benar mengangkat peradaban Islam melalui sinema dengan cara-cara elegan dan santun. Tentu saja film ini berbeda dengan “Ketika Cinta Bertasbih” dan “Ayat-ayat Cinta” atau sejenisnya. Film “99 Cahaya di Langit Eropa” ini tidak sekadar cerita tentang hubungan cinta sepasang manusia. Film ini juga membuka wawasan setiap penontonnya tentang peradaban islam di Eropa, kota-kota besar dengan segala bentuk kemegahannya.

Suatu saat, saya berharap akan banyak film-film serupa ini yang mengangkat tamadun Islam untuk dunia. Selanjutnya, para sineas Melayu dapat membuat sebuah kesepakatan membuat peristilahan khusus untuk film-film Indonesia atau Melayu umumnya, seperti istilah Hollywood dan Bollywood di Barat dan India. Singkatnya, melalui film pun dapat dibuktikan bahwa Islam is not terrorist, melainkan agama perdamaian. Islam akan membuktikan bahwa pada dasarnya we are one ummah, ummah wahidah.

99 cahaya

Filed under: Resensi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: