Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Haruskah Aceh Memilih Presiden Indonesia? (Bag.2)

oleh Herman RN

pemilihKini, Megawati sudah mulai memainkan janji politiknya. Jika dulu ia mengaku sebagia “Cut Nyak” orang Aceh, sekarang ia mulai menebar bahwa “Aceh adalah kampung saya”. Tentunya, orang Aceh mesti waspada dengan ungkapan Megawai ini. Hanya keledai yang jatuh di lobang sama lebih dari sekali.

Demikian halnya Prabowo, sebagai komandan perang, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatan dirinya dan anak buahnya di lapangan tentang kasus DOM. Aceh sudah memiliki pengalaman Indonesia dipimpin oleh militer, maka Aceh harus pintar memilah dan memilih atau bahkan tak perlu memilih sama sekali!

Sekarang saatnya, Aceh menentukan sikap: perlukah memilih presiden Indonesia yang keduanya berlatar belakang DOM dan Darurat Militer?

Sebagian timses dan pemilih fanatik akan berlasan, jangan lihat capresnya, tapi lihat juga cawapresnya! Nah, sekarang mari melihat siapa cawapres mereka.

Hatta Rajasa (cawapres Prabowo) adalah orang yang bermain di sektor migas, terutama saat dirinya menjabat sebagai Menteri Perekonomian (Menko). Dia pula orang yang ‘melalaikan’ undang-undang migas Aceh.

Lantas, bagaimana dengan Jusuf Kalla, wakil Jokowi? Lihat saja statemen JK di media. Dia tidak setuju daerah lain di Indonesia diterapkan Syariat Islam seperti Aceh. Alasannya sederhana, semua daerah di Indonesia mayoritas Islam, untuk apa lagi syariat Islam? Jika demikian, boleh jadi ia beranggapan Aceh belum total Islam sehingga masih diperlukan status syariat islam? Artinya, JK juga punya permainan tersendiri untuk Aceh.

wagubAceh di mata JK tak lebih seperti anak-anak yang haus gelar. Nyaris setiap gelar untuk Aceh: Otonomi Khusus, Syariat Islam, Nanggroe Aceh Darussalam, adalah upaya JK untuk meredam perlawanan ureueng Aceh. JK itu pintar, ini yang harus diakui! Ia tahu, Aceh gila gelar, gila status. Jika Aceh ribut, dia langsung mengupayakan status untuk Aceh, semisal otonomi, syariat islam, NAD, dan sebagainya. JK pun benar, bahwa Aceh langsung diam begitu diberi gelar seperti itu.

Terlalu panjang mengurut satu per satu di sini. Intinya, kembali lagi ke hati ureueng Aceh, haruskah rakyat Aceh memilih presiden Indonesia kali ini? Siapkah rakyat Aceh menelan janji-janji manis kembali? Tak perlu bertanya pada rumput yang bergoyang.[]

Filed under: Essay, , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: