Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Lakab Aceh

Oleh Herman RN

[Sumber: Serambi Indonesia, 25 Juni 2014]

ANDAIPUN seluruh air laut di pulau Sumatera disukat jadi tinta, niscaya belum tentu cukup untuk menuliskan tentang Aceh. Begitulah dahsyat dan panjangnya sejarah Tanah para Ulama ini. Ia menjadi riwayat yang tersebut dalam banyak hikayat, menjadi kisah dalam banyak buku sejarah. Itu sebab, Aceh bukanlah milik sekelompok orang, melainkan milik bersama ureueng Aceh. Sudah seharusnya Aceh dijaga bersama, hidup rukun tanpa saling menyalahkan apalagi mencari-cari kesalahan.

Sahdan, banyak lakab yang sudah diterima Aceh. Sejak dulu kala, Aceh sudah dilakab sebagai Tanah Ulama, tempat lahirnya banyak orang alim dan intelek. Bukan orang yang suka mencaci-maki dan mengklaim hanya dirinya paling benar lantas memvonis sekelompok lainnya sesat.

Dalam sejarah kerajaan, Aceh dikenal sebagai Tanah Iskandar Muda. Ia merupakan raja yang adil, tidak memihak kelompok atau etnis tertentu, dan tidak nepotisme. Anaknya sendiri ia jatuhi hukuman rajam, demi tegakkanya keadilan, terlepas bahwa saat itu ia termakan fitnah. Sebagai pemimpin, Iskandar Muda telah menunjukkan bahwa hukum dan aturan tidak pandang bulu. Bukan jika yang berbuat salah orang dalam istana, kesalahan ditutupi-tutupi.

 Tanah Srikandi
Dalam gemilangnya sistem kerajaan, Aceh dilakab sebagai Tanah Srikandi. Di sini banyak lahir pejuang wanita. Sebut saja di antaranya Cut Nyak Dhien, yang sampai buta dan akhir hayatnya tidak pernah menjadi lamiet kepada penjajah. Berikutnya, Cut Nyak Mutia, yang juga tak pernah menyerah kepada penjajah kendati suami sudah tiada. Tersebut pula Malahayati, pelopor pasukan inöng balèe. Tercatat nama Pocut Baren, pihak lawan menjulukinya sebagai wanita tujuh nyawa. Tentu masih banyak lagi nama-nama skrikandi Aceh, yang tak tak pernah selesai diurut satu per satu di sini. Disebut pula sebagai Tanah Srikandi karena Aceh pernah dipimpin oleh empat raja perempuan secara berturut-turut, sesuatu yang belum pernah ada di tempat orang.

Pascakemerdekaan Republik Indonesia, Aceh mulai dilakab dengan beberapa nama lain, di antaranya Tanoh Rincong, Daerah Modal, Serambi Mekkah, Daerah Operasi Militer, Syariat Islam, Negeri Tsunami. Tentu saja semua lakab itu memberi dampak bagi Aceh. Terkadang, ada lakab yang menjadi kebanggaan bahwa Aceh adalah negeri seribu julukan. Namun, ada kalanya lakab itu membuat Aceh terlalu jumud dan kehilangan identitas terdahulu.

Lakab yang mestinya dipertimbangkan dan disudahi adalah Aceh sebagai laboratorium konflik. Berkecamuknya konflik di Aceh mematutkan daerah ini mendapatkan lakab tersebut. Secara de facto, Aceh telah mengalami konflik dengan sejumlah bangsa dunia, terutama Eropa. Sebut saja Portugis, lalu Belanda yang menyatakan maklumat perang Aceh sejak Maret 1873.

Tahun 1942 Belanda memang sudah menyatakan kedaulatan Aceh. Mengutip Zentgraaf, Belanda mengakui, andaipun ditanam seluruh granat di setiap helai rumput yang tumbuh di Aceh, niscaya Aceh tak dapat ditaklukkan. Mestinya ini jadi irama prang sabi orang Aceh untuk menjadi tegak dan berdaulat.

Belanda pergi, Aceh masuk jadi bahagian Indonesia. Tidak lama berselang, konflik kembali muncul. Kali ini antara Aceh dan Indonesia yang dipimpin oleh Daud Beureueh (September 1953). Sebanyak 300 tokoh Aceh diperintahkan bunuh oleh Perdana Menteri Indonesia, Sastroamidjojo.

Seusai konflik DI/TII itu, Aceh kembali bergolak setelah “diazankan” Aceh Merdeka (AM) oleh kelompok Hasan Tiro, sejak Desember 1976. Ini sejarah konflik kedua antara Aceh dan Indonesia. Alasan muncul konflik ini sama, atas dasar “ketidakpuasan”. Konflik ini berakhir 15 Agustus 2005, dengan MoU antara GAM dan Jakarta (Indonesia).

Semestinya, 15 Agustus 2005 itu menjadi akhir dari episode Aceh sebagai laboratorium konflik. Jakarta yang dijadikan “musuh bersama” oleh orang Aceh telah sepakat berdamai. Ironisnya, Aceh sebagai laboratorium konflik masih terus mempertahankan identitas “kekonflikannya”. Kali ini konflik sesama Aceh, mulai antara etnis yang ada di Aceh (Aceh-Gayo-Jamee) sampai pada konflik sesama etnis Aceh itu sendiri.

 Konflik sesama
Diakui atau tidak, konflik sesama orang Aceh itu lebih mengerikan daripada konflik dengan orang luar Aceh. Berkonflik dengan orang luar, jelas siapa yang dihadapi, siapa yang mesti dilukai, siapa yang mesti dibunuh. Konflik sesama ureueng Aceh hanya merugikan bangsa dan riwayat sejarah tanah ini. Apalagi, saling bunuh saling piting saling banting itu semua hanya karena persoalan “kursi”.

Lihat saja, setiap menghadapi Pemilu yang katanya “Pemilu-damai”, Aceh diwarnai dengan darah, bakar, dan dendam (DBD).

Ironisnya, penyakit DBD ini terjangkit hampir di seluruh wilayah Aceh setelah perjanjian damai. Pemilu sebelum janji damai lebih berdamai dengan nyawa masyarakat Aceh. Sudah tiga kali Aceh melaksanakan Pemilu Pasca-MoU. Pemilukada 2006, Pemilu legislatif 2009, dan Pemilukada 2012. Ketiga Pemilu itu selalu diwarnai penyakit DBD. Orang sekampung dijadikan tumbal, sahabat sebantal rela dibantai.

Bahkan, menjelang Pemilu legislatif 9 April 2014 lalu, penyakit DBD Aceh semakin mengerikan. Amis darah menyebar ke seluruh pelosok Aceh. Bakar-membakar atribut kampanye, mulai dari kendaraan sampai kantor partai, menjadi warna Aceh kekinian. Senjata kembali bersuara. Granat mulai lepas dari sarungnya. Hanya karena beda pandangan politik, beberapa anggota gerakan yang dulu sama berjuang di hutan satu per satu mulai ‘disekolahkan’.

Miris! Dulu konflik dibangun antara orang Aceh dengan bangsa luar (Belanda), lalu Aceh dengan Jakarta. Kini konflik sesama orang Aceh. Entah sampai kapan Aceh menyukai hal ini? Tak mesti bertanya pada rumput yang bergoyang, sebab kata indatu: Mupaké sabé keudroe-droe, ureueng laén pok-pok jaroe. Wallahualam.

* Herman RN, rakyat Aceh, sedang mengajar di Fatoni University, Thailand. Email: hermanrn13@gmail.com

Filed under: Essay, , , ,

2 Responses

  1. lintasanpenaku mengatakan:

    Beutoi nyan bg….😀
    Gara2 “peng griek”, syedara dipeubinasa.

  2. lidahtinta mengatakan:

    hehehe… teurimong gaseh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: