Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Meugang dalam Sebuah Ingatan (1)

oleh Herman RN
meugangDULU, masa masih kanak-kanak, salah satu hari yang paling membahagiakanku adalah menyambut puasa. Mungkin bagi orang yang sudah dewasa dan paham pahala puasa, kebahagiaan menyambut Ramadan tentu karena bulan ini bulan rahmat, pengampunan, dan dijauhkannya api neraka bagi muslim yang berpuasa. Namun, bagiku dan kawan-kawan sebaya, kebahagiaan itu berada dua hari menjelang puasa dimulai.

Dua hari itu adalah hari meugang dan hari makan-makan. Aku tidak tahu pasti dari mana istilah meugang dan makan-makan ini bermula. Aku hanya paham satu hal, bahwa di hari meugang, orang-orang kampungku akan menyembelih hewan layaknya hari raya Qurban. Namun, meugang tentu beda dengan perayaan hari raya Qurban. Sembelihan meugang biasa dilakukan oleh mereka yang punya piaraan lembu atau kerbau atau mereka yang memiliki uang lebih untuk membeli jenis hewan tersebut.

Setelah lembu/sapi atau kerbau itu dibantai, dagingnya dijual di pasar. Tentu saja setelah si pemilik menyisihkan sebagian daging itu untuk dimakan bersama keluarganya. Bagi sejumlah orang, membeli daging meugang adalah sebuah keharusan. Entah dari mana pula munculnya, seakan ada hukum bagi setiap pengantin baru, si lelaki akan membawa pulang kepala lembu di hari meugang ke rumah mertuanya. Hukum moral (malu) akan selalu mendera si pengantin jika ia tak mampu membawa pulang kepala lembu ke rumah mertuanya. Namun, lambat laun, kebiasaan ini menyurut seiring susahnya mendapatkan pekerjaan di kotaku. Dapat membawa pulang setumpuk daging meugang saja sudah dianggap berbakti untuk jaman serba sulit ini. Apalagi, harga sekilo daging di hari meugang seperti membeli dua-tiga kilo di hari biasa.

Saat masih usia enam-tujuh tahun, aku dan keluarga (ayah, ibu, kakak, dan adik) tinggal di KM35 Takengon (sekarang Bener Meriah). Di sana juga ada hari meugang, tapi tidak kutemukan hari “makan-makan” selayaknya di kampungku Aceh Selatan. Kebiasaan hari “makan-makan” hanya kutemukan di Aceh pesisir barat-selatan. Ketika masih di Bener Meriah, yang kutahu bahwa setiap meugang ayah membawa pulang kepala sapi. Sering aku tertipu saat ayah pulang dari Bireuen membawa pulang kotak besar. Kata ibu waktu itu, “Ayah pulang bawa tivi. Lihat kotaknya besar sekali.”

Ibu mengucapkan itu sambil tersenyum. Sorak kebahagiaan aku dan kakak tak dapat ditahan. Namun, setelah membuka kotak, ternyata isinya kepala sapi dan daging. Begitulah piasan hampir saban meugang di rumah kami.leumang

Tulang kepala sapi itu nantinya dibuat sup oleh ibu. Hingga aku dewasa dan sering makan sup di warung-warung, belum pernah kutemukan rasa sup melebihi nikmatnya sup buatan ibu. Selain sup, ibu juga memasak daging sapi itu dengan kelapa gonseng (u neuleue). Dalam bahasa Aneuk Jamee—bahasa daerah Aceh Selatan, disebut dengan gulai ambu-ambu. Terkadang ibu juga masak daging kuah cuka (sie reuboh). Meskipun salah satu masakan khas Aceh adalah asam pedas (asam keu-eueng), khusus untuk daging, ibu tak pernah memasak asam keu-eueng.

Saat usiaku beranjak kelas empat sekolah dasar, konflik di Aceh Tengah memanas. Aku dijemput kakek pulang ke Aceh Selatan, tanah kelahiranku. Di sinilah awal mula perpisahan aku dengan ayah, ibu, kakak, dan adik. Sejak tahun berikutnya pula, aku tak dapat lagi merasakan kuah meugang masakan ibu. Meski tak ada sup, di kampung aku mulai terbiasa dengan gulai daging u neuleue masakan bibi. Nikmatnya hampir sama dengan masakan ibu. Mungkin ibu dan bibi sama-sama belajar pada nenek.

Di Aceh Selatan, tepatnya di Kluet, aku tinggal bersama kakek, nenek, dan bibik. Kebetulan rumah nenek (orangtua ayah) dan nenek (orangtua ibuku) berdekatan, masih satu kampung. Aku bebas mau makan di rumah nenek yang mana saja. Bahkan, di bulan puasa, aku harus membagi waktu berbuka dan sahur antara rumah nenek sebelah ayah dengan nenek sebelah ibu secara adil. Namun, aku sadar, aku tidak bisa berbuat adil. Kadang, aku tidur di rumah nenek sebelah ayah tiga malam, baru semalam berikutnya aku tidur dan buka puasa di rumah nenek sebelah ibu. Mungkin karena kakek sebelah ayah yang menjemput aku di Aceh Tengah waktu itu sehingga aku lebih dekat dengan nenek sebelah ayah. Harus kuakui pula, nenekku yang satu ini sangat memanjai aku. Meskipun aku sudah berumur kelas empat SD dan nenek sendiri sudah renta, dia tetap ingin menggendongku saat kami bepergian bersama semisal ketika ke sungai untuk mandi dan berwudhuk. Dari nenekku ini pula aku banyak dapat cerita rakyat yang dilisankannya padaku sepanjang malam sebelum tidur. Beberapa cerita nenek itu sudah kuikutkan dalam lomba dan rata-rata mendapatkan juara satu.

bersambung…

Filed under: Essay, , , , , ,

One Response

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: