Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Meugang dalam Sebuah Ingatan (2)

oleh Herman RN

leumang1Seperti kukatakan sebelumnya (Catatan 1), meugang puasa di kampungku selalu dilaksanakan dua hari menjelang Ramadan. Ada yang menyebutnya dengan meugang kecil dan meugang besar. Pastinya, hari meugang kedua adalah hari “makan-makan”. Di hari ini, semua orang kampung biasanya keluar ke tempat-tempat wisata.

Saat memiliki mobil pribadi hanya bisa dilakukan oleh pejabat tinggi dan orang kaya, maka di kampungku ketika itu belum ada yang punya mobil pribadi. Orang-orang kampungku membentuk kelompok untuk carter mobil angkutan. Biasanya mobil pick-up. Dengan mobil bak terbuka inilah mereka pergi ke tempat rekreasi, menikmati makanan meugang yang sudah dimasak seharian kemarin. Terkadang, ada juga kelompok keluarga yang pergi dengan becak sepeda motor. Mereka yang “makan-makan” dengan becak ini, biasanya mereka yang pergi bersama anak dan ponakannya saja dan hanya ke tempat wisata yang dekat dengan tempat tinggalnya. Di hari “makan-makan” ini, semua keluarga membawa nasi dan lauk dari rumah masing-masing. Percuma saja jika ada orang susah payah membuka warung nasi di tempat-tempat wisata.

Hari “makan-makan” seumpama hari raya bagi anak-anak. Aku kerap mendapat jajan lebih dari paman, pakcik, dan bibi-bibiku. Kadang, sengaja kusampaikan ke paman kalau pakcik memberiku jajan Rp5000 dan aku tidak mau paman memberi di bawah pakcik. Uang lebih jajan “makan-makan” itu sering kusimpan untuk beli lilin dan kembang api. Sudah kebiasaan aku dan teman-teman sebaya, bermain kembang api di sepuluh terakhir Ramadan. Semakin dekat menjelang hari raya, semakin semarak pula permainan anak-anak di kampungku.

Meriam bambu merupakan salah satu permainan yang paling seru waktu itu. Kadang kami sengaja membuat moncong meriam bambu kami saling berhadapan agar terkesan seperti perang sungguhan. Tak dinyana, jamaah tarawih kerap terganggu dengan suara meriam bambu milik anak-anak. Pak Geuchik dan Teungku Imam akhirnya membuat aturan. Boleh bermain meriam bambu asal di atas pukul sembilan malam atau selepas orang tarawih. Namun, beberapa anak-anak tentu ada yang curi-curi meletuskan meriamnya saat orang masih tarawih di masjid atau meunasah. Karena kakekku adalah orang yang sering menjadi imam tarawih, aku selalu diingatkan  agar jangan membantah aturan Pak Geuchik.

Kekhasan lain teradisi meugang di kampungku adalah leumang. Tak ada aturan bahwa meugang mesti ada leumang. Buktinya, selama aku di Aceh Tengah, mamak tak pernah masak leumang. Namun, bagi orang-orang kampungku, leumang seakan menjadi makanan pokok di hari meugang, selain daging sapi atau kerbau tentunya. Leumang dimasak menggunakan bambu tipis (bambu leumang). Umumnya leumang dari beras ketan. Namun, nenekku kerap juga membuat leumang ubi kayu juga, di samping leumang ketan.

leumangDari cara kakek makan, aku paham kalau leumang itu lebih sangat lezat dimakan dengan kuah gulai sapi. Ini juga yang dipraktekkan ayahku saat ia pulang kampung. Lain halnya pakcikku. Darinya kupelajari makan leumang dengan air kopi. Antara leumang yang dimakan dengan gulai daging dan leumang yang diseduh dengan air kopi sama nikmatnya. Mengingat hal ini saja air liurku ngences, apalagi jika leumang dan kopi atau daging itu benar ada di hadapanku sekarang. Oh.. ups…!

O ya, meugang di kampung kami, selain dua hari sebelum Ramadan, juga ada sehari sebelum hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Pakcikku punya kebiasaan unik di meugang hari raya Fitri. Seperti diketahui, meugang sebelum hari raya biasanya jatuh di hari 29 atau 28 puasa Ramadan, tepatnya hari terakhir berpuasa. Kebiasaan pakcikku, berbuka puasa di hari terakhir ini setelah zuhur. Ia berbuka puasa karena leumang dan daging sudah masak. Lezatnya leumang dan gulai daging itu membuat ia menyudahi puasa lebih cepat. Aku pun kerap ikut-ikutan. Nenekku dan kakekku tak marah. Mungkin karena aku masih kecil.

Saat aku kuliah di Banda Aceh, aku berpisah dari nenek—kakekku sudah meninggal dunia saat aku kelas 2 sekolah menengah atas. Tahun pertama kuliah, aku tidak dapat meugang bersama keluarga. Meugang di Banda Aceh jauh dari nenek dan ayah-ibu, tentunya berat bagiku. Namun, kebersamaan dengan teman-teman kos waktu itu punya warna tersendiri bagi kami merayakan meugang. Meski demikian, harus kuakui aku tidak dapat menahan air mata. Nyaris satu jam aku menangis dalam kamar kosku. Pasalnya, bagi orang kampungku, meugang adalah hari baik dan bulan baik. Kebiasaannya, sejauhmana pun seorang anak merantau, ia akan pulang kampung di hari meugang agar dapat berkumpul bersama keluarga besarnya.

Berat memang di hari baik dan bulan baik harus berjauhan dari keluarga besar. Jika dulunya meugang jauh dari ayah ibu, masih ada nenek dan sanak famili di kampung. Saat kuliah, aku mulai melewati meugang berjauhan dari mereka semua. Karena tidak dapat mencium wanginya gulai meugang, sering aku menangis. Akhirnya, kuputuskan meugang tahun berikutnya aku pulang kampung, menikmati gulai daging meugang dengan kelapa gonseng masakan ibu.

Setelah menikah, aku mulai menjalani hari meugang bersama keluarga istri di Banda Aceh. Kendati warna meugang di Banda Aceh sedikit berbeda dengan meugang bersama sanak keluarga di kampung, aku masih bisa menikmatinya. Kupikir ini bagian dari pendewasaan diri bahwa aku sudah menjadi seorang suami.

Kutelpon ayah dan ibu yang sudah pulang ke kampung kami Aceh Selatan. Sejak MoU, ayah dan ibuku tidak lagi tinggal di Aceh Tengah atau Bener Meriah. Keluarga kami sudah kumpul semua di kampung halaman. Ibu kutelpon di sela-sela ia masak leumang, kutanyai resep masak gulai daging dan sup. Juga cara membuat sie reuboh. Dari bumbu dan cara mengolahnya yang kutanyai ibu, aku berusaha masak daging meugang bersama istri. Namun, tentu saja masakanku bersama istri jauh berbeda dengan masakan ibu. Wanginya saja beda, apalagi rasanya. Hingga sekarang, harus kuakui, aku belum menemukan tandingan masakan ibu.

Meugang tahun ini lebih berat kurasakan. Aku dan istri meugang di rantau, jauh di seberang laut, tersudut di Selatan Thailand. Di sini tidak ada tradisi meugang. Tak ada kebiasaan orang membantai sapi atau kerbau, apalagi memasak leumang. Dalam keadaan kurang sehat pula, istriku berusaha memasak gulai daging sapi yang kubeli sehari sebelumnya. Kumakan gulainya sambil berusaha menahan air mata. Aku sangat khawatir air mataku jatuh dalam kuah yang sedang kunikmati. Maka kubawa istri bercerita tentang sesuatu yang indah, sambil menikmati gulai daging sapi masakannya, meski kutahu gulai ini bukan gulai meugang. Sungguh, jauh sekali dari gulai meugang yang dulu biasa kunikmati. Namun, inilah kenyatannya, waktu berjalan terus ke depan tanpa dapat kutebak hari esok entah aku meugang di mana lagi!

 

Pattani, 28 Juni 2014.

Herman RN

Filed under: Essay

One Response

  1. lintasanpenaku mengatakan:

    Meugang di rantau orang mrupakan cobaan tersendiri…
    Smoga meugang selanjutnya bpk dpt suasana berbeda dan lebih baik (lagi)
    Ceritanyaaa… Mengharukan, sir!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: