Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Religiusitas ‘Syekh Kuala’

(Sumber: Serambi Indonesia, 2 Juli 2014)

BENARKAH Universitas Syiah Kiala (Unsyiah) akan ganti nama baru, seperti wacana yang mencuat pada acara pelantikan Ketua Ikatan Alumni Unsyiah? (Serambi, 26/6/2014). Sebelumnya, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry sudah pakai “baju baru” menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry. Lalu, Unsyiah pun, mulai membenah diri, untuk penyegaran? Wacana pergantian nama Unsyiah ini, oleh sebagian kalangan dinilai tidak mendasar karena hanya persoalan sebutan singkatan nama saja “Unsyiah”.

Sungguh riskan untuk dijadikan sebuah argumen yang tidak substansial, jika ditilik lewat kebesaran sang tokoh yang legendaries dan namanya yang monumental tersebut, sebagai sufistik yang terkenal dan memiliki muridnya yang tersebar di seluruh Nusantara, bahkan hingga ke Afrika Selatan. Satu sisi mungkin ada benarnya. Boleh jadi, orang-orang luar Aceh, terutama negara-negara yang mengerti sejarah Islam, saat membaca nama Un-Syiah diidentikkan dengan (kaum) Syiah di Iran.

Ketokohan Syiah Kuala tidak hanya dari sisi religiositasnya saja, tetapi tokoh besar ini sangat egaliter secara budaya dan sangat progresif dan heroik secara politik. Sebagai Kadhi Malikul Adil di Kerajaan Aceh tempo doeloe, wibawa dan kharisma beliau dalam wilayah hukum disebut sangat adil. Demikian pula di wilayah moral, beliau disebut sangat jujur; di wilayah keilmuan beliau disebut sangat objektif; di wilayah budaya beliau terkenal karena kerendahan hati; dan di wilayah cinta keacehan, beliau disebut sangat setia.

Lalu kita bertanya, dari mana datang sebutan Un-Syiah? Itu hanya singkatan yang tentu dinilai tidak benar (salah). Bahkan Unsyiah sering disingkat dengan USK. Menurut Guru Besar Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Dr Ibrahim Alfian (Alm) dalam buku Aceh kembali ke masa Depan (2005), “Syiah” itu berasal dari kata “Syekh”. Yaitu Syekh (pakar) yang bertempat tinggal di Kuala Aceh. Syekh Abdulrauf Al-Singkily dengan gelar Tgk Syekh Kuala. Lalu mengapa pula dari Syekh berubah menjadi Syiah? Boleh jadi kesalahan awal saat menulis. Tetapi menurut Rektor Unsyiah Prof Samsul Rizal, dalam SK lahirnya Unsyiah tertulis “Unsyah”, bukan “Unsyiah” (tulisan Unsyah tersebut berat dugaan, mungkin lidah Jawa, seperti juga ditulis Cut Meutia menjadi Cut Meutiah).

 Tidak setuju
Banyak kalangan yang tidak setuju mengubah, menghapus atau menghilangkan nama Syiah Kuala menjadi (umpama) Universitas Aceh (UA). Kesalahan nama asli atau penulisan yang salah arti bisa direvisi kembali dari “Syiah Kuala” menjadi “Syekh Kuala”. Kiranya tidak akan canggung jika nantinya setelah direvisi (mungkin harus lewat seminar) menjadi Universitas Syekh Kuala (Unsyekh). Sebutan singkatan “Unsyekh” ini terdengar kurang manis, kurang cantik karena tidak terbiasa, belum akrab dan masih canggung. Karenanya, disarankan tidak perlu ada kependekan seperti sebutan Unsyekh atau Un-Syiah tersebut, singkatan demi singkatan dapat membuat salah pemaknaanya, cukup dengan nama Universitas Syekh Kuala atau USK.

Prof Ali Hasjmy sebagai Gubernur Aceh ketika itu, menabalkan nama Syekh Kuala untuk kampus jantong hate rakyat Aceh tersebut. Tidak mungkin beliau yang juga seorang ahli sejarah, mempelesetkan nama tersebut dari “Syekh” menjadi “Syiah”. Lahirnya Kopelma Darussalam tidak dapat dipisahkan dengan nama Syekh Kuala dan tidak dapat dipisahkan pula dengan penyelesaian peristiwa Aceh (1953) meletus DI/TII, lahir Konsepsi Prinsipil dan Bijaksana yang digagas oleh Syamaun Gaharu (Pangdam Iskandarmuda pertama); lahirnya Ikrar Lamteh; lahirnya Propinsi Daerah Istimewa Aceh; lahirnya Musyawarah dan Kerukunan Rakyat Aceh, hingga lahirnya Kopelma Darussalam dengan dua Perguruan Tinggi di dalamnya, yaitu Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry, yang kini berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.

Syekh Abdurrauf As-Singkili (Tgk Syekh Kuala), adalah sufi besar seangkatan dengan Rene Descartes (1596-1650) pengusung aliran Rasionalisme. Sedangkan Syekh Kuala atau Syekh Abdurrauf As-Singkili (1591-1696), pengusung aliran Wujudiyah dan penemu Teori Penciptaan. Kepakaran Syekh Kuala dipercaya oleh Sultanah Aceh Sri Ratu Safiatuddin menjadi Kadhi Malikul Adil di Kerajaan Aceh Darussalam. Posisinya ini sangat menentukan, karena kharisma/wibawanya itulah sehingga Kerajaan Aceh Darussalam lama dipimpin oleh para ratu, selama 59 tahun (sejak Ratu Safiatuddin, Naqiatuddin, Zakiatuddin hingga ke Kamalatuddin).

Bertahannya kepemimpinan para ratu ini, karena pengaruh dan kharisma sufistik ini, beliau wafat dalam usia 105 tahun, setelah itu kerajaan Aceh Darussalam tidak dipimpin lagi oleh kaum wanita, tetapi beralih ke Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamalul’lail (beliau keturunan Arab), namun akhirnya kekuasaan kerajaan tetap dipimpin oleh keluarga sultan kerajaan Aceh Darussalam. Banyak buku karangan Syekh Kuala, dan yang terkenal adalah : Mir’at al-Tullab yang dikarang pada tahun 1672, menjelaskan hukum Islam tentang syariat, Buku tsb disebarkan kpd Khadi Malikul Adil di seluruh Aceh atas perintah Sri Ratu Safiatuddin (1641-1675) sebagai Sultanah Kerajaan Aceh Darussalam ketika itu.

Murid Syekh Kuala yang terkenal sebagai sufiistik adalah Syekh Jamaludin Al-Tursani dan Syekh Yusuf Al-Makasari (mendampingi Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, melawan kolonial Belanda. Kemudian beliau ditangkap VOC dan dibuang ke Afrika Selatan, lalu menyebarkan agama dan wafat disana pada 1799). Nelson Mandella sangat mengagumi Syekh Yusuf Al-Makasari yang namanya diabadikan sebagai nama satu ruas jalan di Afrika Selatan. Banyak yang tidak mengetahui pahlawan Afrika Selatan tersebut adalah orang Bugis dan murid Syekh Kuala dan sebagai alumnus dari Kuala Aceh.

 Masih hidup
Pengaruh kharismatik Tgk Syekh Kuala yang begitu besar, sehingga dalam pameo Aceh terkenal hadih maja yang sampai saat ini masih hidup dalam masyarakat Aceh, tetap terpatri untuk selalu menyebut nama Syekh Abdulrauf As-Singkili, yaitu: Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Kanun bak Putroe Pang, Reusam bak Laksamana. Hukom ngon Adat, lagee zat ngon sifeut (Adat berada pada keputusan raja, Hukum berada pada keputusan Tengku Syiah Kuala, Peraturan berada pada keputusan Putri Pahang, Protokuler kerajaan berada pada keputusan Laksamana. Hukum dan Adat, seperti zat dengan sifat).

Luar biasa peran ulama besar ini dalam pemerintahan kerajaan Aceh Darussalam, yaitu sebagai Kadhi Malikul Adil (Mufti Kerajaan). Semua keputusan yang berhubungan dengan syariat dipercayakan dan (fatwa) berada ditangan beliau. Beliau adalah pemegang amanah Allah yang dikenang sepanjang masa. Dalam kehidupan rakyat Aceh, sampai sekarang hadih maja tersebut tetap dilantunkan dalam ekspresi keseharian saat inplementasi adat, dimana kita ketahui Aceh sampai sekarang masih tetap berlaku hukum adat.

Dalam sejarah Kerajaan Aceh Darussalam dapat dilihat: Sultan yang mendapat mandat dari rakyat, namun dalam aplikasi roda pemerintahan yang kental dengan syariat itu, tetap diterjemahkan seperti mendapat mandat dari Tuhan Semesta Alam. Demikian pula para hakim, mereka diterjemahkan bukan hakim dari Sultan tetapi dari Hakim Agung dari Tuhan Semesta Alam. Hingga kita dapatkan jabatan kerajaan seperti : Sultan Malikul Adil (Raja dari Tuhan Yang Maha Adil) dan Kadi Malikul Adil (Hakim dari Tuhan yang Maha Adil).

Akhirnya diharapkan, wacana perubahan nama Unsyiah harus dipertimbangkan dengan baik dan matang serta tidak merusak tatanan sejarah keilmuan seorang filosof/sufistik sekelas Syekh Abdulrauf Al-Singkili. Kepemimpinan Syekh Kuala tidak hanya bermakna otoritas dan singgasana serta kewenangan, kepemimpinannya lebih bermuatan cinta kasih dan istiqamah keadilan yang melindungi para Sultanah selama 59 tahun, hingga Aceh aman tanpa gejolak. Tidak lain karena wibawa dan kharisma Syekh Kuala.

Pada kondisi kemajuan dan pengembangan ilmu serta teknologi sekarang ini, mari bersama kita lindungi wibawa dan kharisma beliau dengan tidak mengganti nama Ulama Besar ini yang legendaries dan monumental tersebut. Mari kita simak dan hayati kembali hadih maja “Hukom bak Syiah Kuala..” yang memiliki falsafah mendalam dan memperkaya khasanah keilmuan dan adat istiadat Aceh dengan berbagai manuskripnya yang sangat berharga.

—————

Artikel ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. Yuswar Yunus, MP., Guru Besar Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh. Email: yuswar_dr@yahoo.com

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: