Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Mengapa Unsyiah?

(Serambi Indonesia, 7 Juli 2014)

Oleh Mohd. Harun al Rasyid

tuguHAMPIR semua pendiri Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam, antara lain Prof Ali Hasjmy (Gubernur Aceh), Kolonel M Jassin (Pd. Rektor Universitas Syiah Kuala), Kolonel Sjammaun Gaharu (Ketua Penguasa Perang Daerah Aceh), Letkol Njak Adam Kamil (Ketua Yayasan Teungku Chik Pantekulu), kini telah tiada. Mereka adalah para sesepuh yang berjiwa besar, jujur, luhur, dan bijak yang telah menggagas dan membangun Kopelma Darussalam dalam irama kebersamaan selepas Ikrar Lamteh pada April 1957. Dalam sejarah Aceh masa ini dikenal sebagai peralihan dari masa perang (harb) ke masa damai (salam).

Darussalam artinya negeri yang aman dan damai, menjauh dari darulharb yang berarti negeri yang sedang berperang. Inilah pula yang membuat para sesepuh itu memilih nama Darussalam sebagai kota pelajar dan mahasiswa. Rapat perdana untuk melahirkan satu lembaga pendidikan tinggi di Aceh diadakan di Kantor Sjammaun Gaharu pada 1 Februari 1958. Pada 28 Maret 1958 lahirlah Yayasan Dana Kesejahteraan Aceh dengan ketua pertama M Husin yang selanjutnya mengelola pembangunan Kopelma Darussalam di bawah ketua dewan pengawas Mayor Teuku Hamzah Bendahara.

Dari sejumlah nama yang membangun Kopelma Darussalam tampaklah bahwa mereka terdiri atas sipil dan militer, ulama dan umara, bahkan berbagai lapisan masyarakat Aceh. Hal ini terlihat dari sumbangan yang mengalir untuk pembangunan awal berupa benda dan uang (botol, kertas bekas, beras segenggam, ternak, dll). Rakyat Simeulue, misalnya, menyumbang sepuluh ekor kerbau, rakyat Aceh Utara dan Aceh Timur masing-masing menyumbang satu ekor kerbau. Dana hasil penjualan itu digunakan untuk membangun sebuah rumah. Demikian pula sumbangan dari para saudagar. Bahkan, Sjammaun Gaharu menyerahkan puluhan jenis perhiasan emas pada saat beliau meninggalkan Banda Aceh untuk bertugas di tempat lain.

Di Darussalam kemudian dikenal tiga perguruan tinggi, yaitu Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) sebagai lembaga pendidikan tinggi umum yang dikenal pula sebagai Universitas Amanat Penderitaan Rakyat (lihat buku Daussalam); IAIN Ar-Raniry (sekarang UIN Ar-Raniry-ed.) sebagai lembaga pendidikan tinggi agama; dan Pesantren Tinggi Deyah Teungku Chik Pantekulu sebagai lembaga pendidikan tinggi tachassus (spesialisasi) dalam berbagai bidang ilmu agama.

 Mengapa Syiah Kuala?
Suatu hal yang harus diketahui oleh para civitas akademika Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) adalah mengapa para pendiri memilih nama Syiah Kuala sebagai nama perguruan tinggi jantung hati rakyat Aceh itu. Alasan utama mereka memilih nama Syiah Kuala adalah karena beliau merupakan seorang ilmuwan Aceh paling tersohor dalam abad ke-17. Nama asli Syiah Kuala adalah Syeikh Abdurrauf As-Singkili. Karena mahaguru ini mendirikan dayah di Kuala Aceh, beliau dikenal dengan lakab Syiah Kuala. Ini merujuk budaya Aceh yang menjuluki seorang ulama atau ilmuwan dengan nama tempat ia berasal atau berbakti yang seringkali kemudian menghilangkan nama asli yang bersangkutan, seperti nama Teungku Chik Ditiro, Teungku Di Seumatang, Teungku Krueng Kale, dan Teungku Chik Pante Kulu.

Lalu, apa itu syiah? Dalam konteks edukasional orang Aceh, satu kata yang paling dihormati dan disanjung adalah kata syiah (baca syi-yah; bukan syi’ah). Kata ini sama artinya dengan mahaguru atau guru besar, di atas teungku chik dan teungku. Kata syiah ini tidak sembarang disandang atau disandangkan kepada seseorang. Yang berhak menyandang kata ini adalah orang yang benar-benar menguasai ilmu pengetahuan secara dalam dan luas di bidang tertentu. Seorang yang bergelar syiah itu dialah Syeikh Abdurrauf As-Singkili.

Sejarah Aceh mencatat bahwa Syiah Kuala adalah ikon ilmuwan Aceh yang pernah menjabat mufti Kerajaan Aceh Darussalam. Dia termasuk juga tokoh tasawuf yang oleh Azyumardi Azra dianggap sebagai pembaharu terpenting di kepulauan Indonesia. Ulama ini telah menulis lebih dari 30 judul karangan besar dan kecil, yang umumnya berbahasa Melayu dan Arab. Karya-karyanya mencakup ilmu fikih, tasawuf, tafsir, tauhid, dan hadis, seperti Mir‘atuth Thullab, ‘Umdatul Muhtajin, Daqa‘qul Huruf, Tafsir Baidhawi (Tafsir Alquran tertua dalam bahasa Melayu), Kifayatul Muhtajin, Silsilah Syattariyyah, Sakratul Maut, Mawa’izhul Badi’ah, Bayan Tajalli, dan Tanbihul Masyiy al-Munsubi ila Thariqil Qusyasyi.

Satu karya Syiah Kuala yang sampai kini beredar luas dan dibaca sebagai buku pegangan dalam pendidikan tradisional, khususnya di Aceh, adalah Mawa’izhul Badi’ah. Kitab ini kemudian tergabung bersama delapan karya ulama Aceh lainnya di bawah judul Jam’u Jawami’il Mushannafat, yang oleh masyarakat Aceh dikenal sebagai Kitab Lapan (Kitab Delapan) karena memuat delapan judul.

Dengan nama besar Syiah Kuala sebagai lambang ilmuwan Aceh tersohor, para pendiri mengharapkan Unsyiah menjadi satu pusat lahirnya intelektual yang cemerlang dalam berbagai bidang keilmuan. Secara implisit, ini berarti bahwa semua dosen dituntut melahirkan karya besar dalam lapangan ilmu pengetahuan. Demikianlah cara berpikir masyarakat Aceh pada saat memberikan nama untuk sebuah tempat, sebuah gampong, seorang anak, dan sebuah lembaga pendidikan. Ada dimensi filosofis yang mereka pikirkan, bukan asal beri nama tanpa pertimbangan yang matang. Hal yang sama juga terjadi pada penamaan IAIN Ar-Raniry yang mengacu kepada Nuruddin Ar-Raniry, seorang ilmuwan asal Ranir India yang pernah memperkaya khazanah keilmuan Aceh, dan Dayah Teungku Pante Kulu yang dibangsakan kepada sastrawan terkenal Aceh yang menulis epos Hikayat Prang Sabi.

Kini tiba-tiba ada usulan dari Rektor Unsyiah Prof Dr Ir Syamsul Rizal M.Eng, untuk mengubah nama Unsyiah sebagaimana dilansir Serambi (26/6/2014), hanya gara-gara ada segelintir orang yang tidak tahu sejarah mencoba mengaitkan kata syiah dengan aliran syi’ah. Jika kita terbelenggu dalam konteks berpikir seperti itu, maka ungkapan hadih maja: Adat bak Poteu Meureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Kanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana pun harus diubah. Ironisnya, Unsyiah yang sudah kokoh lebih setengah abad, selama ini berjalan normal-normal saja. Ibarat seorang anak, ia tidaklah selalu berada dalam sakit-sakitan, masih tetap waras, dan beretika. Karena itu, secara substantif tidak ada alasan logis mengubah nama Unsyiah dengan nama lain.

 Pikirkan substansi
Menurut hemat saya, alangkah indahnya jika seluruh civitas akademika Unsyiah sejak saat ini kembali kepada cita-cita awal pendiri Kopelma Darussalam, yaitu membentuk manusia baru yang berjiwa besar, berpengetahuan luas, dan berbudi luhur. Pertanyaannya adalah sudahkah Unsyiah saat ini melahirkan sarjana, magister, dan doktor dengan kriteria dimaksud? Sudahkah lulusan Unsyiah menyebarluaskan ilmunya kepada kepentingan umat manusia secara maksimal? Berapa jurnal ilmiah yang masih hidup dan terakreditasi? Sudah berapakah jurnal internasional dalam berbagai ranah ilmu yang dapat dijadikan referensi keilmuan? Sudah adakah buku-buku referensi berbagai bidang ilmu yang ditulis oleh dosen Unsyiah dan dicetak oleh Syiah Kuala University Press? Sudah berapa banyak temuan peneliti Unsyiah yang dipatenkan? Bagaimana dengan aktivitas laboratorium? Apakah mahasiswa dapat menggunakan bahan praktik ketika sedang kuliah, atau bahannya justru datang setelah kuliah selesai?

Di bidang keluhuran budi warga Unsyiah, mungkin harus dijawab: sudahkah civitas akademika melaksanakan tugas akademiknya secara benar? Sudahkah mahasiswa dilayani secara baik dan santun? Sudahkah wabah plagiasi ditekan seminal mungkin di lingkungan dosen dan mahasiswa? Sudahkah dana rakyat dikelola secara benar, misalnya berapa printer aktif yang tersedia di ICT untuk cetak KHS mahasiswa? Demikian juga perihal lulusan Unsyiah yang berjiwa besar: Adakah di antara lulusan Unsyiah yang kaya raya mau memperhatikan Unsyiah, seperti dalam bentuk pembangunan gedung dan beasiswa secara kontinyu?

Kiranya masih terlalu banyak pekerjaan internal di Unsyiah yang harus diisi dan ditambah. Karena itu, Unsyiah membutuhkan orang-orang yang kritis dan kreatif, seperti Hasjmy, Sjammaun Gaharu, dan Kolonel Jassin. Unsyiah masih membutuhkan orang untuk berpikir, misalnya, bagaimana mendisain sebuah bangunan khusus untuk mengantisipasi parkir yang semraut di kampus. Untuk kepentingan eksternal, dibutuhkan orang kreatif yang bisa mendisain kawasan sungai sepanjang Jembatan Krueng Cut-Lamnyong-Cot Iri sebagai kawasan wisata gabungan (masjid di atas sungai, wisata air, dan kuliner sepanjang bantaran sungai).

Jika Unsyiah sudah menjadi perguruan tinggi hebat seperti Al-Azhar di Mesir atau Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, tentu orang tidak akan mengucapkan lagi syi’ah kuala atau syah kuala. Tidak ada cara lain untuk itu, kecuali kerja keras mengisi Unsyiah dengan Tridharma Perguruan Tinggi secara maksimal dalam berbagai even Nasional dan internasional, termasuk menjelaskan apa arti kata Syiah Kuala itu.

* Dr. Mohd. Harun al Rasyid, M.Pd., Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Darussalam, Banda Aceh.

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: